Rabu, 01 Februari 2023

Katam Rawa Mudahkan Petani

Bayangkan ini 3-4 tahun ke depan! Seorang Bupati di Kalimantan Selatan bergegas menyentuh layar Ipad begitu mendengar informasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa tahun depan El Nino. Dengan beberapa kali sentuh sang Bupati tahu daerah rawa wilayahnya yang dapat ditanami padi, palawija, atau produk hortikultura lainnya.

Segera saja Bupati memerintahkan kepala dinas beserta jajarannya mendukung petani menanam produk pertanian sesuai kecocokan lahan. Rawa lebak dangkal dan tengahan dapat ditanam cabai, tomat, atau semangka. Sementara rawa lebak dalam tetap ditanam padi. Maka benih, pupuk, dan saprotan lain dapat mudah disiapkan. Dinas pertanian pun—melalui para penyuluhnya di setiap wilayah kecamatan-gampang mengawal petani agar panen melimpah.

Kemudahan itulah yang berusaha diwujudkan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sebagai langkah awal pada 2011 ini tim peneliti yang dikomandani Mawardi SP MS sedang membuat peta arahan pengembangan lahan rawa di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Beragam data seperti citra dan peta penggunaan lahan dikombinasikan. Data curah hujan di setiap titik pun dikumpulkan. Kelak data yang sudah 50% diperoleh itu akan ditampilkan dalam bentuk peta arahan dan atlas.

Sementara tim lain yang dipimpin Dr Ir Khairil Anwar MS melakukan pengukuran dinamika tinggi muka air dan kualitas air di DAS aliran Sungai Barito. Dengan pengukuran tinggi muka air itu dapat diperoleh informasi volume air yang masuk dan hilang di sentra pertanian di Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Jumlah air yang masuk di 3 kabupaten yang didominasi rawa itu berasal dari hujan dan air kiriman daerah hulu.

“Data dari kedua tim itu dapat dipadukan menjadi kalender tanam (katam) bagi para petani,” kata Dr Haris Syahbuddin, kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra). Bila itu berhasil maka peta katam menjadi panduan yang lengkap bagi para pengambil keputusan di bidang pertanian di Kalimantan Selatan. Maklum, selama ini peta katam baru berhasil dibuat di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Maluku, dan Papua. Di pulau itu peta katam lebih mudah dibuat karena ketersediaan air untuk pertanian ditentukan oleh dinamika curah hujan.

“Pada lahan rawa lebak, bentang lahan berupa cekungan. Air yang menggenangi bukan hanya dari hujan tapi juga kiriman dari daerah hulu,” kata Dr Khairil Anwar, peneliti Balittra. Air yang terlalu berlimpah justeru menghalangi petani menanam padi—terutama varietas padi yang tidak tahan genangan—palawija, dan hortikultura. Demikian pula pada rawa pasang surut genangan air dipengaruhi oleh pola pasang dan surut air laut.

Dalam 3-4 tahun ke depan Balittra akan mengelompokkan peta katam menjadi 3 periode: tahun normal, tahun el nino (kering), dan tahun la nina (basah). Pengelompokkan dibuat karena di tengah perubahan iklim saat ini iklim tak bisa lagi diprediksi dengan mudah. “Begitu BMKG menyebut tahun ini la nina, maka yang dibuka katam la nina. Pun di tahun normal dan tahun el nino,” kata Khairil. Rencananya peta katam dibuat ramah pengguna seperti membuka peta di mesin pencari Google. Sang Bupati pun mudah membuat keputusan untuk menyejahterakan petani.***

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang