Rabu, 01 Februari 2023

Kebangkitan Peneliti dan Penyuluh Lahan Rawa

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Dr Rusman Heriawan, melirik lahan rawa yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua untuk mendukung surplus beras 10-juta ton pada 2014. “Kita harus menyadari rawa itu anugerah dari Tuhan untuk rakyat Indonesia. Tugas kita menjadikan lahan rawa yang tergolong suboptimal menjadi optimal untuk pertanian,” tuturnya.

Rusman bersama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian dan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) mengumpulkan peneliti dan penyuluh pertanian yang wilayahnya memiliki lahan rawa di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 28 Januari 2012. “Sudah saatnya peneliti dan penyuluh di lahan rawa bergerak bersama menjadikan lahan rawa sebagai lumbung pangan,” kata Rusman.

Menurut Kepala Balitbang, Dr Haryono, lahan rawa di Indonesia mencapai 33,4-juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dari luasan itu 9,53 juta ha cocok untuk pertanian, sementara yang sudah dimanfaatkan baru 5,4-juta ha. Lahan yang sudah dibuka untuk pertanian berupa rawa pasang surut 4,1-juta ha dan rawa lebak 1,3-juta ha. “Masih tersisa 4,13-juta ha yang belum dimanfaatkan,” kata Haryono.

Menurut Rusman pada 2012 Kementerian BUMN—melalui 3 perusahaan BUMN Pangan—menargetkan   pengembangan sawah di lahan rawa seluas 100.000 ha di Kalimantan. Perusahaan BUMN Pangan yang ditunjuk yaitu PT Pusri mengelola 30 ribu ha, Pertani 30 ribu ha, dan Sang Hyang Seri 40 ribu ha.

Untuk mendukung itu Balitbang Pertanian melalui 13 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang memiliki lahan rawa siap memetakan lahan rawa yang layak dikelola. “Sebagai langkah awal kami akan memastikan lahan tersebut layak secara teknis dan bebas dari konflik kepemilikan lahan,” kata Haryono. Maklum, menurut Haryono di banyak wilayah, lahan rawa yang umumnya di luar kota ternyata dimiliki oleh orang-orang kota.

Kunjungan Wamentan ke Kalimantan Selatan itu juga menjadi tonggak sejarah bagi peneliti dan penyuluh pertanian yang berkecimpung di lahan rawa. “Selama ini terkesan terjadi perang dingin antara peneliti dan penyuluh. Peneliti sibuk di ruang kerja bersama laptop, sementara penyuluh tenggelam dengan ilmu dan teknologi usang. Padahal peneliti dan penyuluh memiliki misi sama membantu petani menafkahi rakyat Indonesia yang berjumlah 240-juta orang,” tutur Rusman.

Rusman juga melukiskan menafkahi rakyat Indonesia itu seperti mencapai kemenangan dalam sebuah peperangan. “Peneliti ibarat amunisi dan penyuluh pengatur strategi sekaligus pelaksana di lapangan. Pengatur strategi tanpa amunisi tak mungkin menang,” katanya. Metafora yang diberikan Rusman itu disambut baik oleh Dr Momon Rosmono, kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, yang mencanangkan tahun 2012 sebagai tahun kebangkitan penyuluh pertanian.

Untuk mewujudkan itu dalam waktu dekat Balitbang dan BPPSDMP akan mengadakan agenda bersama yaitu magang widyaiswara dan penyuluh pertanian mengenai lahan rawa, diklat agribisnis padi lahan rawa bagi penyuluh, serta diklat teknologi lahan rawa bagi penyuluh. “Para profesor riset dan ahli rawa menjadi narasumber. Penyuluh dan widyaiswara yang menyusun model strategi penerapannya di lapangan,” kata Haryono.

Menurut Momon selain untuk pengembangan lahan rawa oleh perusahaan BUMN pangan, para penyuluh juga akan diterjunkan untuk pengembangan lahan rawa yang murni swadaya petani. Ia akan memprioritaskan kendaraan dinas roda 2 untuk para penyuluh yang wilayah dampingannya berupa lahan rawa. “Kementan juga akan memberikan uang transport setiap bulan. Tidak ada alasan lagi penyuluh tidak turun ke lapangan karena tidak ada sarana,” katanya.

Tugas peneliti dan penyuluh, menurut Rusman, memperkuat kearifan lokal petani di lahan rawa dengan teknologi dan inovasi terkini yang layak secara teknis, ekonomis, ekologis, dan sosiologis agar dapat dikembangkan dan diduplikasi di daerah lain. “Itu mutlak karena saat ini perhatian nasional (melalui Kementerian BUMN, red) sedang fokus pada lahan rawa,” kata Rusman.

Guna mendukung itu Rusman mencanangkan tahun 2012 sebagai ‘Tahun Rawa bagi Kalimantan Selatan.’ “Tahun ini masyarakat Kalimantan Selatan harus siap membuktikan peradaban leluhurnya yang unggul,” tutur Rusman

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang