Rabu, 01 Februari 2023

Peneliti, Widyaiswara, dan Penyuluh Bergerak Cepat Dukung P2BN

Mimik serius terlihat dari wajah 7 widyaiswara yang melingkar mengelilingi Ir. R Smith Simatupang, MP, peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra). Sesekali mereka mengangkat tangan bertanya karena penasaran atas penjelasan Smith. Bagi para widyaiswara purun tikus si tanaman khas rawa sangatlah unik. Ia dianggap gulma tapi punya segudang manfaat.

Menurut Smith selama ini purun tikus Eleocharis dulcis dianggap gulma karena tumbuh liar di sawah dan saluran di lahan pasang surut. “Di sawah purun tikus mengganggu tanaman utama, sementara di saluran mempersempit badan saluran,” katanya. Namun, dibalik itu purun tikus menyelamatkan padi dari serangan hama penggerek batang padi. Di lahan irigasi penggerek batang padi dapat merusak panen hingga 90%.

Purun tikus mengeluarkan aroma khas yang membuatnya disukai penggerek batang. Hama perusak padi itu pun lebih suka hinggap dan bertelur pada hamparan purun tikus. Di hamparan purun tikus hidup pula beragam predator dan parasitoid yang menjadi musuh alami si penggerek batang. Maka padi pun aman dari serangan penggerek batang karena tak pernah terjadi ledakan hama.

Manfaat lain purun tikus ialah penyerap logam besi (Fe) yang mencemari air di saluran. Maklum, lahan pasang surut umumnya kaya logam besi hasil oksidasi dari mineral pirit (FeS2). Purun tikus juga mampu menetralkan senyawa kimia residu dari pestisida—terutama herbisida—yang kerap digunakan petani. “Berkat kehadiran purun tikus perairan di lahan rawa terjaga dari pencemaran lingkungan yang juga mengganggu produksi padi,” kata Ir. Syaiful Asikin, peneliti dari Balittra.

Di sudut lain 2 kelompok widyaiswara juga tengah mendengar penjelasan dari  Sudirman Umar, B.Sc dan Dr. Ir. Mukhlis, MS secara terpisah. Sudirman menjelaskan beragam alat panen khas tanaman rawa. Sementara Mukhlis memperkenalkan pupuk hayati spesifik lahan rawa yaitu biosure dan biotara. Kedua pupuk hayati itu berisi mikroba dekomposer, penambat nitrogen, pelarut fospor, dan pelarut kalium yang cocok dipakai di lahan rawa.

Para widyaiswara yang tengah menimba pengalaman dari peneliti Balittra itu berasal dari 8 Balai Pelatihan Pertanian (BPP) di seluruh Indonesia yang area kerjanya memiliki lahan rawa. Sebut saja dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Selama 8 hari sejak 26 Februari 2012—04 Maret 2012 sebanyak 22 widyaiswara berdiskusi dengan para praktikus rawa untuk menghasilkan modul pembelajaran bagi para penyuluh yang area kerjanya memiliki lahan rawa.

“Para widyaiswara mentransfer ilmu dan teknologi temuan terbaru di lahan rawa ke bahasa penyuluh. Berikutnya penyuluh mengubahnya ke bahasa petani agar mudah diterapkan,” kata Dr Haris Syahbuddin DEA, kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurut Haris kegiatan itu merupakan kerjasama antara 2 eselon 1 di lingkup Kementerian Pertanian yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian dan Badan Penyuluhan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP).

Sebelumnya pada 8—12 Februari 2012 sebanyak 35 orang penyuluh dan widyaiswara melakukan kegiatan serupa. Pada acara di awal Februari itu sejumlah profesor riset dari Balitbang bahkan diundang sebagai narasumber.  “Ini tindak lanjut dari kunjungan Wamentan pada akhir Januari 2012 yang mendeklarasikan sinergi antara peneliti, widyaiswara, dan penyuluh pertanian di lahan rawa untuk mendukung P2BN,” kata Haris. Menurut Haris kegiatan serupa siap dilakukan secara berkelanjutan agar transfer ilmu dan teknologi antara peneliti, widyaiswara, dan penyuluh terus berlanjut. Balittra juga siap melakukan transfer teknologi dengan pola serupa pada semua stakeholder.

 

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang