Rabu, 01 Februari 2023

Hadapi Perubahan Iklim dengan Telepon Genggam

Jari jemari Kepala Badan Penelitian Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Dr. Haryono MSc, menekan tombol di telepon genggamnya. Dari pengeras suara terdengar: ?Pilih musim tanam yang akan dilaksanakan: jika musim hujan tekan 1, musim kemarau tekan 2?,? begitu suara perempuan di seberang sana memandu.

Selang beberapa detik di layar monitor telepon genggam Kabadan terpampang, ?Untuk 3700?3900 GKG pada 0,5 ha untuk musim hujan dengan teknik budidaya yang baik, berikan 2 karung Phonska 0?14 hari setelah tanam (HST), 1 karung urea 24?28 HST, 1 karung urea 35?39 HST...,? begitu panduan praktis itu tertulis jelas.

Itulah inovasi terbaru Badan Penelitian Pengembangan (Balitbang) Pertanian Kementerian Pertanian dan International Rice Research Institution (IRRI) bekerjasama dengan Telkomsel yang diluncurkan pada Juli 2012 di Balai Besar Padi, Sukamandi, Jawa Barat. Dua lembaga riset terkemuka itu menggunakan Kontak Nomor Bebas Pulsa 135. ?Dengan produk itu petani di pelosok dapat mengakses panduan budidaya padi sesuai kondisi lahan,? kata Kabadan. Produk itu diluncurkan ke masyarakat dengan nama rekomendasi Pemupukan Hara Spesifik Lokasi (PHSL) melalui HP.

Balitbang menggandeng Telkomsel karena penyedia itu memiliki jaringan terluas di Indonesia yang menjangkau petani dari Sabang sampai Merauke. Selama 17 tahun berkiprah di Indonesia Telkomsel juga paling banyak digunakan oleh masyarakat karena berbiaya murah. ?Petani di lahan rawa di Kalimantan Selatan juga dapat mengakses. Kalau mengandalkan informasi dari penyuluh pertanian tentu lama sekali,? kata Kabadan pada acara Open House dan International Seminar bertema ?Rice Innovation for Increasing Production and Conserving Environment Under Global Climate Change.?

Yang istimewa layanan bebas pulsa itu juga menggunakan bahasa daerah selain bahasa Indonesia. Sebut saja Bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Bugis,? kata Kabadan. Ke depan menurut Kabadan, inovasi itu akan dipadukan dengan informasi lebih lengkap seperti waktu tanam, daerah rawan bencana, dan resiko serangan hama terpadu yang saat ini terdapat pada Sistem Kalender Tanam Terpadu.

Dengan peluncuran produk itu diharapkan petani yang saat ini berbudidaya padi di tengah perubahan iklim yang kerap berubah-ubah dapat beradaptasi lebih cepat. Gagal tanam atau gagal panen yang sering menghantui petani pun dapat dihindari. Pada acara seminar internasional itu Dr Mukhlis MSc dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Kalimantan Selatan, pun memaparkan inovasi teknologi di lahan rawa di tengah perubahan iklim.***

Foto: Kabadan sedang meluncurkan PHSL

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang