Rabu, 01 Februari 2023

Kiat Praktis Bangkitkan Buah Nusantara

Kecil, kusam, dekil, dan masam. Begitu bayangan orang pada buah lokal tanah air. Sebaliknya besar, kinclong, bersih, dan manis melekat pada buah impor. Pantas durian monthong, jeruk sunkist, apel washington, dan pear yanglie pun akrab di telinga konsumen. Sosok yang seragam membuat buah impor mudah diingat hingga ke tingkat varietas.

Beda dengan buah lokal yang kebanyakan hanya dikenal jenis atau spesiesnya saja. Konsumen hanya mengenal papaya, mangga, pisang, dan jambu. Soal varietas banyak yang tertukar-tukar. Pepaya dampit dijual dengan papaya Bangkok, mangga gadung tertukar dengan arumanis. Pisang susu disebut pisang sereh. Yang menyedihkan jambu citra?yang asli Indonesia?disebut jambu Bangkok.

Lantaran varietas buah impor seragam dan bersih, maka mereka dipajang di rak toko secara terhormat. Konsumen dimanja dengan kehadirannya sehingga tak sulit memilih atau bertengkar dengan pedagang soal kualitas buah. Pembeli rela merogoh kocek lebih dalam untuk segala kemudahan itu. Mereka bernasionalisme rendah? Tidak juga.

Namun, mengatakan buah lokal selalu kalah dari buah impor itu tanda rendah diri atau kurang pede. Kenyataannya durian monthong, papaya Bangkok, dan jambu citra semuanya berasal dari Indonesia. Belakangan Kalimantan Selatan pun punya 2 gandaria manis yang tak kalah dengan mayongchid, gandaria manis asal Thailand. Negeri Gajah Putih itu pandai memanfaatkan kelambanan kita dalam mengembangkan hortikultura lalu ?menyalip di tikungan? untuk mendapat ketenaran dan keuntungan secara komersial. Kalimantan Selatan juga memiliki kerabat durian bernama mantoala dan papaken dengan warna daging buah menarik.

Titip embrio

Banyak yang perlu dibenahi untuk menjadikan buah nusantara sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Salah satu solusi praktis mendorong tumbuhnya perkebunan buah dengan ?menitipkan? embrio perkebunan buah pada perkebunan besar?seperti sawit, karet, kakao, dan kopi?yang sudah sukses beroperasi. Dengan mencanangkan 1% saja dari lahan perkebunan besar tadi untuk menjadi kebun buah, maka dari 10.000 ha kebun sawit misalnya, ada embrio 100 ha kebun buah.

Sistem manajemen, pengetahuan, modal, dan keamanan hasil kebun relatif sudah dikuasai oleh perkebunan besar. Perkebunan tentu bakal memilih komoditi yang sesuai dengan lahannya. Bagi mereka menangani ?embrio? kebun buah bukan pekerjaan terlalu sulit. Sukses mereka diharapkan ?menggetok tular? masyarakat sekitar perkebunan sehingga dapat berkembang menjadi sentra produksi buah baru. Mirip beramai-ramainya masyarakat menanam karet, sawit, dan kakao di sekitar perkebunan.

Solusi itu sekaligus menjawab banyaknya masyarakat awam atau ?petani kota? yang gemar mencoba-coba menanam buah di tempat yang kurang sesuai dengan karakter tanamannya. Bila sekadar hobi tentu tak mengapa. Namun, itu merupakan pemborosan biaya, waktu, dan tenaga bila bertujuan untuk bisnis. Itu karena sumberdaya membuka kebun buah tidak sedikit dan memakan waktu lama.

Sesuai karakter

Langkah lain yang memudahkan mewujudkan sentra buah ialah tidak memaksa pekebun palawija atau padi menjadi pekebun buah. Yang lebih menjamin justeru memilih pekebun yang secara budaya sudah turun temurun bercocok tanam buah-buahan. Contoh suksesnya di Demak, Jawa Tengah, yang dulunya sentra belimbing lokal, berubah menjadi sentra jambu air delima, lalu berubah lagi menjadi jambu citra.

Belimbing dan jambu air berkarakter mirip: buah tipis sehingga mudah terserang lalat buah. Bagi pekebun di Demak keahlian membungkus belimbing untuk mencegah lalat buah diwariskan turun temurun. Merubah kebiasaan membungkus belimbing menjadi membungkus jambu air bukan hambatan besar. Bandingkan pekebun palawija atau padi yang susah payah membungkus buah. Dengan harga citra yang 3 kali dari belimbing maka kebun dan pekarangan rumah di Demak menjadi sentra baru jambu air.

Bila kedua langkah itu siap dijalankan maka yang juga penting ialah fokus pada pemilihan jenis buah sesuai target pasar. Contohnya mangga. Bila targetnya pasar ekspor, jangan memaksakan arumanis ditanam meski 8 dari 10 orang Indonesia menyebut arumanis sebagai mangga terlezat dan termanis. Pasar mancanegara justeru memilih mangga yang berkulit menarik: merah atau jingga. Rasanya pun tak perlu manis sekali, tapi manis sedikit asam. Bila demikian mangga gedong gincu lebih cocok ketimbang arumanis.

Dua solusi itu tentu tak bakal instan menjadikan buah nusantara menjadi raja di negeri sendiri. Dibutuhkan pula promosi rutin dan terjadwal yang berkesinambungan agar masyarakat mencintai buah nusantara. (Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, direktur PT Mekarsari, Bogor, dan Destika Cahyana SP, peneliti Balai Penelitian Pertanian lahan Rawa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dipublikasikan pada Majalah Sains Indonesia Edisi 07 Juli 2012)

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang