Rabu, 01 Februari 2023

Saatnya Riset Relevan

Saatnya Riset Relevan

Minggu petang jelang buka puasa di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru. Saat kebanyakan orang beristirahat di rumah, 20 peneliti Balittra, malah berkumpul di ruang rapat. Mereka antusias menyambut Deputi Kemenristek Bidang Kelembagaan Iptek, Prof. Dr. Ir. Benyamin Lakitan, M.Sc, yang mampir mendadak pada 05 Agustus 2012.

Toh, kunjungan dadakan pejabat eselon 1 Kemeristek itu tak disia-siakan oleh Kabalai, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, MAgr. Setelah memperkenalkan detail lembaga yang dipimpinnya, Kabalai menyampaikan 4 rencana penelitian Sistem Inovasi Nasional (Sinas) 2013 yang diajukan pada Kemenristek. ?Kami sampaikan untuk mendapat umpan balik demi perbaikan penelitan di masa mendatang,? kata Kabalai.

Sebut saja penelitian Pengelolaan Lahan Rawa Pasang Surut Berkelanjutan (Balittra), Teknologi Budidaya Kedelai Berkelanjutan di Lahan Pasang Surut (Balittra), Penelitian Hidrologi Rawa Pasang Surut untuk Optimalisasi Pola Tanam (Balitklimat), dan Domestikasi Belibis Rawa Kalimantan Selatan (BPTP Kalsel). Pada kesempatan itu Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Bogor, Dr. Ir. Muhrizal Sarwani, pun hadir menyambut Deputi.

Gayung pun bersambut. Deputi memberikan umpan balik pascapresentasi. Menurutnya, Kemenristek menawarkan 4 skema pendanaan penelitian, yaitu penelitian dasar, terapan, percepatan difusi serta pemanfaatan iptek, dan peningkatan iptek. Semula proporsi pendanaan keempat skema itu setara: masing-masing 25%. Namun, untuk sektor pertanian, ternyata teknologi yang dihasilkan lembaga penelitian dan perguruan tinggi sudah banyak tersedia.

?Beragam pilihan teknologi pertanian sudah dihasilkan. Problemnya hanya sedikit yang diadopsi, itu yang perlu ditelaah,? kata Deputi. Karena alasan itulah pada 2013 proporsi penelitian dasar, terapan, dan peningkatan iptek dikurangi. ?Porsi terbesar saat ini untuk penelitian difusi serta pemanfaatan iptek,? tambah Deputi. Sayangnya, dari 3000 usulan yang masuk, usulan dominan masih berupa riset dasar dan terapan. Penelitian difusi yang masuk hanya 15%.

Menurut Deputi, saat ini semua institusi penelitian mendapat kritik yang serupa dari masyarakat. Mereka mempertanyakan apa kontribusi riset terhadap pembangunan nasional. ?Dulu semua lembaga penelitian di berbagai sektor mengejar angka statistik. Mereka berlomba meningkatkan jumlah profesor, doktor, dan master. Lalu bergeser mengejar keahlian. Namun, dibalik kuantitas dan kualitas itu ada yang lebih penting. Di mana relevansinya dengan kebutuhan bangsa?? tutur Deputi.

Dengan alasan itu, menurut Deputi, untuk sektor pertanian prioritasnya adalah mengembangkan riset yang punya relevansi dengan kebutuhan. Di tengah teknologi yang beragam ternyata petani punya faktor pembatas: ketidakmampuan modal. ?Hulunya sudah dikuasai, tinggal hilirnya. Bagaimana kekuatan adopsi teknologi itu di petani yang terbatas modalnya,? kata Deputi. (Destika Cahyana)

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang