Rabu, 01 Februari 2023

Dibenci lalu Dicinta

Dibenci lalu Dicinta

Dia dimusuhi di 4 benua selama ? abad lebih.

Itulah kirinyu Chromolaena odorata gulma utama di kebun karet, teh, dan kelapa. Pemerintah Nigeria, Amerika, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Australia memusuhinya sejak 1960 karena penyebarannya invasive (cepat dan menekan tanaman lain, red). Bijinya yang ringan dan dilapisi bulu dengan mudah menempel pada hewan ternak, manusia, bahkan kendaraan lalu menyebar dengan cepat.

Selama tujuh tahun sejak 1994 Australia menggelontorkan AUD$ 1,1-juta untuk mengendalikan kirinyu di Queensland. Ia mengancam peternakan sapi dan domba karena menekan pertumbuhan rumput pakan. Namun, belakangan kirinyu malah dikenal sebagai tanaman multiguna. Ia bermanfaat sebagai biopestisida, fitohormon, pupuk organik, dan herbisida sekaligus.

Tiga manfaat utama kirinyu itu terkuak saat tim peneliti hama dan penyakit dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Kalimantan Selatan, secara tidak sengaja memberikan daun chromolaena sebagai pakan ulat grayak Spodoptera litura 9 tahun silam. Ketika itu ulat diternak sebagai sumber hama untuk beragam penelitian serangga pengganggu tanaman. Sebelumnya pakan berupa daun kedelai, sawi, kangkung dan ubi kayu.

Membunuh 90%

Di saat beragam pakan itu habis seorang teknisi tak sengaja memberi pakan daun kirinyu sebagai pengganti. Sebuah ?kecelakaan? yang justeru berujung pada keberuntungan pun terjadi. Sebanyak 1.500 ulat yang diberi pakan mati dalam 24?36 jam. Para peneliti Balittra pun menyimpulkan daun babanjaran?nama lain kirinyu di Jawa Barat?memiliki peran sebagai biopestisida. Maka beragam pengujian pun dilakukan untuk memperkuat fakta itu.

Benar saja penelitian lebih lanjut membuktikan babanjaran ampuh membunuh ulat jengkal, ulat grayak, dan plutella. Ulat jengkal merusak timun, melon, dan sengon hingga 80%. Begitu juga ulat grayak si pemakan segala mampu merusak hingga 100%. Sementara plutella dikenal sebagai ulat kubis yang paling ganas. Daya bunuh kirinyu mencapai 70?90%. Ia juga dapat menekan ulat bulu yang menyerang berbagai daerah belakangan ini.

Belum ada riset spesifik yang mengungkap senyawa aktif spesifik yang berperan biopestisida. Baru golongannya saja yang diketahui. Kirinyu mengandung PAS alias Pryrrolizidine Alkaloids yang membuatnya berbau menusuk, pahit, dan beracun. PAS bersifat racun perut atau racun lambung. Ekstrak kirinyu yang disemprotkan pada organ tanaman masuk ke organ pencernaan bersama tanaman yang ulat makan.

Ekstrak lalu diserap dinding usus ulat, kemudian meracuni pusat syaraf, organ respirasi, dan sel lambung. Kesimpulan itu diperoleh dari pengamatan penulis ketika ekstrak biopestisda disemprotkan ke tubuh ulat, mereka tidak mati. Ulat hanya mati bila memakan organ tanaman yang disemprotkan ekstrak kirinyu.

Contoh pestisida kimia yang bersifat racun perut ialah golongan organoklor seperti dicofan 460 EC dan keltane 250 EC. Bedanya kerja racun biopestisida lebih lambat. Ulat mati 2?3 hari setelah memakan daun yang disemprotkan ekstrak kirinyu. Senyawa PAS pun lebih kompleks sehingga peluang ulat menjadi kebal kecil. Residunya ramah lingkungan karena mudah terurai di alam.

Fitohormon

Serangkaian uji kirinyu sebagai biopestisida juga menguak fakta lain yang tidak terduga. Tanaman sawi yang disemprot ekstrak kirinyu ternyata sosoknya berbeda. Ia jauh lebih subur, kekar, dan vigor. Secara umum pertumbuhan 70-80% lebih baik. Diduga ia mengandung fitohormon seperti giberelin, auksin, atau sitokinin yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Hanya belum dapat disimpulkan fitohormon tersebut diproduksi kirinyu langsung atau oleh bakteri yang hidup di permukaan daun. Maklum, agen penghasil hormon tak hanya tanaman, tapi juga mikroorganisme endofitik (endo: dalam dan fitik: tanaman, red). Banyak riset belakangan melaporkan beragam bakteri?seperti kelompok mycobacterium?yang hidup di permukaan daun tanaman memproduksi beragam hormon yang menguntungkan tanaman inang.

Manfaat kirinyu sebagai biopestisida dan penghasil fitohormon itu kian menguatkan pendapat pakar yang menyebut kirinyu justeru bermanfaat bagi manusia. Sekadar contoh di luar bidang pertanian misalnya. Di Amerika Serikat ekstrak kirinyu menjadi obat memulihkan luka bedah dan operasi plastik. Itu karena ekstrak kirinyu menghambat konstraksi kolagen pada kulit. Bahkan, melalui sebuah perusahaan multinasional di Inggris, Robert Mark Donovan memperoleh paten berkat membuat formula perawatan kulit dengan ekstrak kirinyu.

Pupuk organik

Sementara di bidang pertanian Prof Nurhajati Hakim pada 2003 mempublikasikan kompos kirinyu mampu mengurangi ? dosis pupuk anorganik tanpa mengurangi hasil cabai. Pangkasan kirinyu?sekitar 70 cm?dari pucuk mengandung 2,7% N, 0,37 P, dan 3,22% K. Jumlah hara N itu jauh lebih tinggi dibanding kotoran segar babi, ayam, dan sapi yang jumlahnya berturut-turut 0,63%; 1,66%; dan 0,43%. Pun demikian dengan kalium.

Menurut Nurhajati di lokasi penelitiannya di Rambatan, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, pupuk kandang sulit diperoleh sehingga menjadi alasan pekebun yang malas memberi pupuk organik. Banyak wilayah di tanahair sulit memperoleh pupuk kandang karena jauh dari peternakan. Kirinyu menjadi jawaban karena tumbuh tersebar dari dataran rendah rawa, dataran rendah kering, hingga dataran tinggi. Pertumbuhannya pun sangat cepat. Dalam 1 ha dihasilkan biomassa segar sebanyak 20 ton per ha pascapemangkasan 3 bulan.

Terakhir satu lagi manfaat kirinyu yang tengah diteliti banyak periset. Akarnya mengeluarkan senyawa alelopati yang menekan pertumbuhan gulma lain. Itu terlihat dari sedikitnya tanaman yang mampu tumbuh di sekitar kirinyu. Karena itu ia berpotensi sebagai herbisida organik ramah lingkungan. Tentu beragam manfaat itu bakal merubah status gulma kirinyu menjadi tanaman bermanfaat. Bila benar semuanya terkuak, ia tak lagi dibenci di 4 benua, bahkan mungkin dicinta di 4 benua. (Ir Muhammad Thamrin, Ir Syaiful Asikin, dan Destika Cahyana SP, Peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pernah dimuat di Majalah Trubus edisi Oktober 2011)

Getah Penyembuh Luka

Kirinyu memang pantas disebut gulma multimanfaat. Di Bogor, Jawa Barat, kirinyu dipakai sebagai obat luka secara turun temurun. Caranya? Potong cabang muda kirinyu hingga mengeluarkan getah bening. Lalu oleskan getah pada kulit yang baru terluka. Dalam hitungan detik darah berhenti mengalir dan luka kembali menutup dalam beberapa menit.

Cara lain petik 3?5 lembar daun muda kirinyu lalu kunyah hingga hancur. Biarkan enzim dalam mulut bercampur dengan senyawa dalam kirinyu. Lalu balurkan daun kirinyu yang sudah hancur pada luka. Tutup luka beserta daun kirinyu dengan kain. Luka pun segera sembuh seperti layaknya menggunakan obat antiseptic modern.***

Pelindung Pemburu Madu

Masyarakat Sukabumi, Jawa Barat, memanfaatkan kirinyu lebih banyak lagi. Mereka dipakai para pemburu madu hutan. Mereka membalurkan tubuh dengan daun kirinyu yang sudah dilumat sehingga aroma kirinyu menempel. Menurut Syamsul Asinar Radjam SP, praktikus pertanian di Sukabumi, bau itu membuat lebah enggan menyerang para pemburu yang tengah mengambil madu. Ia berperan sebagai biopestisida yang aman karena tidak membunuh lebah sang produsen madu.***

?

?

?

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang