JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Model Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut Berbasis Tanaman Pangan Dan Ternak

Model Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut

Berbasis Tanaman Pangan Dan Ternak

 

Salah satu kegiatan diseminasi hasil penelitian dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa adalah kegiatan “model pertanian lahan rawa pasang surut berbasis tanaman pangan dan ternak”. Model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangan dan ternak sapi di lahan pasang surut mempunyai peluang besar. Penelitian model pertanian bioindustri ini lebih menekankan pada aplikasi teknologi budidaya dan pengelolaan pertanian secara terpadu baik dalam pengertian sistem pelaksanaan pengelolaan, komoditas, kelembagaan, maupun komitmen pemerintah provinsi, kota dan kabupaten dalam bentuk kebijakan (political will). Produktivitas pertanian di lahan rawa pasang surut masih tergolong rendah karena terkendala dengan pengelolaan lahan, air dan tanaman penggunaan varietas, alat mesin pertanian (mekanisasi) dan pemasaran hasil.

 

  

 

Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan: (1) Satu model integrasi tanaman pangan dan ternak (sapi) di lahan rawa pasang surut dengan pola tanam padi-padi-palawija (IP 300), (2) Satu teknologi pengolahan limbah sebagai amelioran yang ramah lingkungan dan pengolahan pakan ternak sapi dari sumber daya setempat. Penelitian dilaksanakan tiga musim tanam di lahan pasang surut di Desa Sidomulyo, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah pada hamparan seluas ±20 ha dengan pola tanam IP 300 (padi-padi-palawija). Penelitian ini terdiri dari dua kegiatan yaitu: (1) Penelitian Model integrasi tanaman pangan dan ternak (sapi) di lahan rawa pasang surut dengan pola tanam padi-padi-palawija (IP 300), (2) penelitian teknologi pengolahan limbah sebagai amelioran yang ramah lingkungan serta pengolahan pakan ternak sapi dari sumber daya setempat.

 

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Model Bioindustri yang telah dicapai pada tahun kedua penelitian adalah terciptanya sistem usahatani, ternak yang diintegrasikan dengan tanaman padi, yakni jerami padi sebagai pakan ternak dan kotoran ternak menjadi pupuk kandang untuk tanaman padi. Pemberian pupuk kandang sapi dengan dosis 2 ton/ha setiap musim tanam dapat meningkatkan hasil padi sebesar 33% pada musim tanam pertama dan pada musim tanam 2 meningkatkan hasil padi sebesar 63%. Varietas Inpara 9 adaptif untuk dikembangkan pada musim tanam kedua di lahan sulfat masam tipe luapan B di Desa Sidomulyo dengan hasil padi mencaPai 6,3 ton/ha.

 

 

Pemberian jerami padi sebagai tambahan pakan dapat meningkatkan bobot ternak sebesar 6% dari bobot awal. Pola tanam padi-padi memberikan keuntungan sebesar Rp 10.101.200,-/ha dan cukup efisien diusahakan di lahan pasang surut. Padi varietas Inpara 2 dibanding Inpari 30 lebih peka terhadap perubahan produksi dan harga. Pendapatan rumah tangga petani meningkat sebesar 24,16%. (Muhammad Saleh, saleh_duransyah@yahoo.co.id )