JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Analisis Kesesuaian Varietas Padi dan Perbanyakan Benih Padi Lahan Rawa

Analisis Kesesuaian Varietas Padi dan Perbanyakan Benih Padi Lahan Rawa

 

 

Kegiatan “Analisis kesesuaian varietas padi dan perbanyakan benih padi lahan rawa merupakan salah satu diseminasi dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Inpara merupakan varietas padi yang dilepas untuk adaptasi di lahan rawa. Keunggulan dari varietas tersebut adalah potensi hasil tinggi (4-7 t/ha), adaptif terhadap kemasaman tanah dan keracunan besi serta umurnya lebih genjah daripada varietas padi lokal. Varietas Inpara dapat dipanen pada umur 114-135 hari, sedangkan varietas lokal dapat dipanen pada umur 180-270 hari. Penggunaan varietas Inpara tidak saja meningkatkan produktivitas padi dari 2-3 t/ha menjadi 4-5 t/ha, tetapi juga dapat meningkatkan IP dari IP 1 (padi lokal) menjadi IP 2 (padi unggul-padi unggul). Tidak semua varietas Inpara yang dilepas memiliki adaptasi yang baik di lahan rawa, untuk itu perlu dievaluasi kesesuaiannya terhadap kondisi biofisik lahan dan preferensi petani.

 

Informasi ini perlu sebagai bahan acuan dalam produksi benih padi rawa dan bahan diseminasi ke petani di lahan rawa. Hasil studi adopsi varietas Inpara di lahan rawa pasang surut di Kabupaten Barito Kuala menunjukkan bahwa terjadi peningkatan luas tanam varietas Inpara 2 dan Inpara 3 yang cukup nyata dalam empat tahun terakhir, yaitu dari 86 ha pada tahun 2011 menjadi 4.827 ha pada tahun 2015 dan inilah dampak nyata dari bantuan benih dan diseminasi yang telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan untuk meningkatkan potensi rawa mendukung program P2BN dalam rangka swasembada pangan.

 

Dengan semakin meningkatnya pertanaman padi rawa, dukungan ketersediaan benih sumber sangat penting. Pada saat ini penangkaran benih padi rawa masih terbatas di kalangan petani, sehingga menjadi salah satu kendala dalam pengembangan padi rawa. Masih belum banyak penangkar mandiri yang memproduksi benih padi rawa. Penangkar yang ada pada umumnya memproduksi benih varietas Ciherang, Mekongga dan beberapa nomor Inpari yang sudah memiliki pasar. Untuk memenuhi permintaan benih sumber padi rawa, UPBS padi rawa dibentuk untuk memproduksi, mendiseminasikan dan mendistribusikan benih padi rawa yang adaptif ke petani.

 

 

Kegiatan RDHP tahun 2016 terdiri dari 2 kegiatan dengan tujuan (1) Mengetahui kesesuaian varietas Inpara terhadap kondisi biofisik lahan dan preferensi petani di lahan rawa pasang surut dan (2) memproduksi 50 t benih padi varietas Inpara dan Margasari bermutu. Kegiatan 1 dilaksanakan di lahan rawa pasang surut tipe luapan air B dan C di Kabupaten Barito Kuala dan kegiatan 2 dilaksanakan di KP Handil Manarap, KP Belandean dan di lahan petani penangkar di Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito seluas 18 ha. Hasil kegiatan 1: Adaptasi varietas Inpara 3, 4, 6, 8 dan 9 tergolong baik di lahan tipe luapan air B, sedangkan varietas Inpara 1 dan 4 tergolong cukup baik di lahan tipe luapan air C.

 

Hasil uji preferensi terhadap morfologi tanaman dan uji rasa menunjukkan semua responden cukup suka sampai suka terhadap varietas Inpara. Berdasarkan umur tanaman, semua responden tidak suka terhadap varietas Inpara 4 dan berdasarkan ketahanan terhadap penyakit blas dan penggerek batang responden tidak menyukai varietas Inpara 5, Inpara 7, Ciherang dan Mekongga. Produksi benih mencapai 44,607 t terdiri dari 40,037 t kelas SS dan 4,570 t kelas ES. Distribusi benih telah mencapai 34,021 t (76,3%) untuk bantuan benih dan 7,910 t (17,7%) untuk non bantuan benih, benih kadaluarsa 2,219 t (5%) dan stok per 31 Desember 2016 masih 0,457 t (1%). Pengusahaan penangkaran varietas Inpara 3 lebih menguntungkan dibandingkan dengan non penangkaran varietas Margasari.(Muhammad Saleh, saleh_duransyah@yahoo.co.id )