JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

TIM UJI IMPLEMENTASI PP 57/2016

TIM UJI IMPLEMENTASI PP 57/2016

Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut Seruyan

Kalimantan Tengah  

 

 

 

Selama 3 (tiga) hari, dari tanggal 4 sampai 6 Desember 2017, Tim Uji Implementasi PP 57/2016 yang terdiri dari ahli gambut dari berbagai sektor, termasuk utamanya perguruan tinggi dan lembaga riset dibawah inisiatif dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan melakukan kunjungan dalam rangka penentuan dan penilaian lokasi dan usaha pengujian PP 57/2016 pada Perkebunan kelapa Sawit Group Sinar Mas, Tbk daerah Kab. Seruyan, Kalimantan Tengah. Sambutan dari PT. Tapian Naddegan  yang merupakan salah satu anak perusahaan perkebunan kelapa sawit dari Group Sinar Mas sangat baik, termasuk partisipasi selama diskusi.   

 

Tim dalam melakukan investigasi dan karakterisasi dibagi dalam 2 (dua) kelompok yang terdiri dari (1) tim pengelolaan air dan (2) tim karakterisasi gambut, yang masing-masing diketua oleh Prof. Budi Indra Setiawan dan Prof. Supiandi Sabiham. Tim terdiri dari perguruan tinggi (IPB, UGM), lembaga riset (BBSDLP, BALITTRA, Kementan; Puslitbang SDA, Kemen PUTR), Staf Dirjenbun, dan Staf PT Tapian Naddegan/Sinar Mas Group, Tbk. Setelah melakukan kunjungan ke lapang dilakukan diskusi secara intensif membahas tentang hal yang perlu dilakukan dalam pemantauan dan pengumpulan data terkait dengan yang diamanahkan dalam PP 57/2016. Tim sepakat Perkebunan PT. Tapian Naddegan menjadi wakil lokasi lahan gambut untuk daerah Kalimantan yang mengimplementasikan PP 57/2016. Pihak perkebunan diharapkan untuk dapat bekerjasama dengan Tim dalam pendataan dan penelitian yang dilakukan ke depan. 

 

 

Sifat gambut di Perkebunan Tapian Naddegan sangat bersifat spesifik baik dalam hal penyebaran dan kandungan bahan mineralnya yang diduga relatif tinggi, oleh karena itu untuk menetapkan kesesuaian areal ini sebagai lokasi pilot project perlu dipastikan bahwa areal gambut di perkebunan ini cukup mewakili gambut yang ada di Indonesia. Direncanakan untuk memastikan dilakukan analisis kadar C-organik untuk memenuhi kriteria tanah gambut.  Dua belas titik penaatan yang telah ditentukan pihak KLH perlu diverifikasi kembali, karena berpeluang berada di lahan bergambut (belum memenuhi persyaratan sebagai tanah gambut, misal dari aspek kedalaman).

 

Berdasarkan hasil survei pendahuluan, areal gambut di Kalimantan Tengah ini termasuk gambut topogen, namun cukup berbeda dengan  gambut topogen di Riau (yang disurvei sebelumnya). Tim sepakat untuk menyusun kebutuhan peralatan sebagai pendukung utama pelaksanaan pilot project kajian teknis dampak muka air tanah dangkal (<40 cm) pada lahan gambut terhadap emisi gas rumah kaca, resiko kebakaran, dan produktivitas tanaman. Alat tersebut diharapkan segera dapat dipasang sebelum kegiatan penelitian berjalan. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MS, m_ noor_balittra@yahoo.co.id)