JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mewujudkan Tabalong Sebagai Lumbung Pangan

Mewujudkan Tabalong Sebagai Lumbung Pangan

Seminar Pertanian dalam rangka HUT Kabupaten Tabalong

 

 

 

Dalam rangka Hari Ulang Tahun Kabupaten Tabalong yang ke 52 (1965-2017) telah dilakukan Seminar Sehari, tanggal 17 Desember 2017 di Aula Wisma Kab. Tabalong di Kota Tanjung dengan thema “Mewujudkan Pertanian Kab Tabalong sebagai Lumbung Pangan dan Hortikultura“. Seminar yang digagas oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tabalong bekerja sama dengan Himpunan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (HIFMA) mengkhadirkan nara sumber dan pakar dalam diskusi dari Kementerian Pertanian yaitu Direktorat Tanaman Hortikultura, Badan Litbang Pertanian yang diwakili Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Civitas Akademika Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kab. Tabalong.

 

Dalam pengantarnya Bupati Kab. Tabalong yang disampaikan oleh Seketaris Wilayah Daerah Tabalong bahwa Kabupaten mempunyai potensi lahan basah dan lahan kering yang luasnya mencapai 22.580 hektare dibagi dalam empat wilayah yaitu (1) wilayah utara, (2) wilayah tengah, (3) wilayah selatan dan (4) wilayah barat dengan masing-masing karajteristik yang spesifik. Berdasarkan luas tanam tahun 2016 Tabalong memiliki 26.207 hektare padi, 284 hektare jagung, dan 810 hektare kedelai. Padi umumnya hanya tanaman sekali setahun. Hal yang menarik dari Kabupaten Tabalaong adalah dijadikannya sebagai salah satu daerah tolak ukur (indikator) tingkat inflasi nasional. Secara georafis dan agroekosistem Kabupaten Tabalong dikuasai oleh lahan basah berupa lahan lebak selasu 18.673 hektare.

 

Potensi rawa lebak memang sangat menjanjikan tatkala musim hujan tergenang luas menghampar seperti lautan, tetapi begitu musm kemarau lebih-lebih kemarau panjang menjadi hamparan padi menguning emas, sebagimana terlihat di wilayah Kecamatan Banua Lawas, Pugaan, Kalua, Muara Arus, dan Tanta. Hanya sayang lahan rawa lebak ini belum banyak memberikan sumbangan, umumnya ditanami padi sebagai komoditas andalan, tetapi hasilnya massih rendah. Selain kondisi air yang tidak menentu dan belum sepenuhnya dapat dikendalikan dan diatur oleh petani. Bercocok tanam padi di lahan rawa lebak oleh petani semata-mata hanya untuk keperluan keluarga dan sangat tergantung pada keramahan alam. Kadang-kadang panen, tetapi lebih sering gagal. Padahal kalau seandainya, rawa lebak dapat difasilitasi dengan bangunan air yang baik dan tepat, misal mini polder produksinya dapat digandalkan menjadi 2-3 kali tanam setahun. 

 

Dalam presentasi nara sumber yang disampaikan dan pembahasan yang dikemukakan para pakar dari Kementan, Bappeda Kab. Tabalong, dan Univ. Lambung Mangkurat senada dan sepakat untuk mencapai atau menuju swasembada pangan dan hortikultura diperlukan perencanaan (road map) dan program aksi yang meliputi antara lain (1) perbaikan tata kelola dari hulu sampai hilir, (2) perbaiikan atau dukungan infrastruktur seperti pintu-pintu air, tanggul dan bangunan air lainnya, termasuk prasarana dan sarana seperti jalan usaha tani, jalan desa, dan alsintan, (3) peningkatan profesional petani dan partisipasi dalam peningkatan produksi dan intensifikasi, dan (4) perbaikan dukungan kebijakan dan kelembagaan pendukung. Komitment pemerintah daerah sudah merupakan modal seperti dikemukakan Ketua Bappeda tinggal pelaksanaan secara riel. Upaya ke depan memang memerlukan kerjsa keras atau seeprti kata pepatah tidak semudah membalik tangan. Paling tidak semangat untuk maju dan berkembang sudah ada. Kiranya selain usaha kerjas keras, juga semangat dan doa  perlu dipanjatkan bagi warga Tabalong untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Selamat Ulang Tahun, semoga harapan menjadi Lumbung Pangan dapat terkabul. Aamiin YRA. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MS, m_ noor_balittra@yahoo.co.id)