JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

WETLANDS 3S ACTIONS

Congrees Nasional XXIII IAAS dan Seminar Internasional

WETLANDS 3S ACTIONS: Save Food, Save Water and Save Biodiversity with Culture of South Kalimantan

 

Kongres ke 23 IAAS (International Associationn of Students In Agricultural and Related Sciences Local Committee) diisi dengan Seminar Sehari yang bertemakan lahan basah dengan aksi 3 S, yaitu  Save Food, Save Water and Save Biodiversity with Culture of South Kalimantan. Seminar dilaksanakan pada Sabut, tanggal 20 Januari 2018 lalu di Gedung Paud Dikmas Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru. Seminar menghadirkan tiga pembicara, yaitu (1) Kim Jansen dari Millennium Chalengge Corporation USA-Indonesia pada Session Food, (2) Dipa Rais dari Wetland International-Indonesia pada Session Water, dan (3) Prof. Dr. Fadly Hairunnoor Yusran dari Univesitas Lambung Mangkurat pada Session Biodiversity. Namun pembicara utama yang hadir hanya Kim Janssen dan Dipa Rais, sedangkan Prof. Fadly berhalangan hadir karena sedang sakit. Dalam seminar diatas hadir sekitar 75 peserta dari staf pengajar dan mahasiswa ULM serta undangan lainnya, termasuk BALITTRA yang diwakili oleh Prof. Dr. M. Noor, MS.

 

Kim Jansen banyak mengutarakan tentang pemberdayaan masyarakat untuk memanfaatkan lahan basah sebagai sumber produksi berbagai tanaman hutan seperti gelam, jelutung dan sebagainya. Sedangkan Rais mengutarakan tentang bagaimana menjaga dan melestarikan gambut dengan memperhatikan sistem hidrologi atau segitiga antara vegetasi-hidrologi dan ekologi atau neraca air dan neraca karbon sehingga terhindar dari kerusakan. Dalam diskusi beberapa pertanyaan diajukan antara lain mengapa banyak petani di lahan gambut menanam nenas, dengan melakukan pembuatan drainase, dan seberapa jauh muka air harus dipertahankan untuk agar lahan gambut tetap lestari. Bagaimana dengan ekonomi petani apabila pilihannya untuk dianjurkan untuk menanam gelam, jelutung atau sejenisnya yang menunggu panenya cukup lama.

  

Perdebatan tentang pemanfaatan lahan gambut sebagaimana pada seminar, workshop dan diskusi-diskusi selalu terjadi distorsi yang berujung pada pandangan dan tujuan  masing-masing antara pilihan konservasi ataukah pengembangan. Disatu pihak lahan gambut berpotensi untuk dikembangkan, tetapi dipihak lainnya lahan gambut rawan atau riskan rusak apabila dikelola secara semberono(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MS, m_ noor_balittra@yahoo.co.id)