JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Peningkatan IP Perlu Perubahan Sosial dan Adat Petani

RAPAT KOORDINASI UPSUS PAJALE KALSEL

Peningkatan IP Perlu Perubahan Sosial dan Adat Petani

 

 

 

Rapat Koordinasi Upsus Pajale Terbatas Terbatas lingkup Badan Litbang Pertanian yang digagas Direktur Pupuk dan Pestisida - Dr. Ir. Muchrizal Sarwani, M.SC sebagai Penanggung Jawab Upsus Pajale Provinsi Kalimantan Selatan diselenggarakan pada hari Sabtu, 14 April 2018 di Ruang Rapat Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) di Banjarbaru. Khadir dalam pertemuan di atas Kepala Balittra - Ir. Hendri Sosiawan CESA, masing-masing Koordinasi lapang (Koorlap) Kabupaten dari pihak BPTP Kalimantan Selatan dan BALITTRA.

Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah sentra produksi padi yang dikenal sebagai wilayah surplus padi bahkan sebagain hasil produksi padinya memasok Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Kondisi wilayah Kalimantan Selatan sangat diuntungkan karena mempunyai ke 5 (lima) agroekosistem yaitu lahan irigasi, tadah hujan, pasang surut, lebak. Potensi luas lahan total keseluruhan berdasarkan luas tanam mencapai 551.695 ha masing-masing meliputi irigasi 55.116 ha, tadah hujan 173,518 ha, pasang surut 189.022 ha, dan lebak 134.039 ha. Hanya saja luas yang benar-benar ditanami tahun 2015 yang lalu hanya mencapai 450.024 ha (82%) dengan intensitas pertanaman (IP) rata-rata IP 100 mencapai 408.870 ha (90%).

 

Hal penting yang perlu dicatat juga adalah bahwa Kalimantan Selatan sekarang terpilih untuk dipersiapkan sebagai tempat dilaksanakannya Hari Pangan Sedunia tahun 2018 dengan mengangkat lahan rawa sebagai “titik berat” dengan mengusung thema lahan rawa sebagai lumbung pangan.  Hal ini juga terkait dengan program pemerintah secara nasional untuk mengoptimalkan lahan rawa seluas 1 juta hektar. Dalam dukungannya untuk optimalisasi lahan rawa pemerintah dibawah Dirjen PSP pada tahun 2018 ini merencanakan pengembangan sekitar 51.250 hektar di 8 (delapan) provinsi. Bantuan khusus alsintan untuk lahan rawa telah menyediakan sekitar 215 unit excavator kepada masing-masing Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi yang diantaranya telah diserah-terimakan masing-masing sebanyak 40 unit untuk Kalimantan Selatan, 40 unit untuk Sumatera Selatan, 20 unit untuk Kalimantan Tengah, 5 unit Kalimantan Barat, 2 unit untuk Jambi.

 

Dalam arahannya Direktur Pupuk dan Pestisida mengemukakan pengalamannya di wilayah Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2015, berkat kebersamaan segenap aparat SKPD, termasuk TNI dan Polisi berhasil mengajak petani dengan berbagai advokasi, termasuk untuk membolehkan persiapan lahan dengan sistem tebas-bakar yang merupakan kearifan lokal petani setempat, hanya saja dibatasi dengan cara-cara yang aman dan terkendali sehingga dapat meningkatkan luas tanam (LTT) dan juga berhasil meningkatkan Intensitas Pertanaman dari IP 100 menjadi IP 200 sebanyak ribuan hektar bahkan sempat berinvestasi untuk menerima/meyerap gabah panen petani secara gotong royong bersama-sama aparat pertanian setempat. Dalam mengejar target LTT, pertemuan menyepakati untuk mendorong perluasan areal padi gogo atau padi ladang untuk wilayah potensial yang mempunyai lahan tadah hujan yang ada di Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru diperkirakan ada sekitar 10.000 hektar. Padi sawah pasang surut yang terkosentrasi pada Kabupaten Barito Kuala dan Kab. Banjar diperkirakan ada sekitar 1.000-2.000 hektar untuk segera tanam. Selanjutnya padi lebak menyusul untuk Kab. HST, HSS, HSU, dan Tapin. Dalam waktu dekat tim Upsus akan mendorong LTT pada sawah irigasi yang ada di Kabupaten HST, HSS dan Tapin sekitar 500 hektar.

 

Dalam kasus Kalimantan Selatan, secara umum intensitas tanam pada lahan rawa 90% masih IP 100, hanya sekitar 10% mempunyai IP 200. Kemudian terdapat sekitar 100.000 ha yang tidak ditanami atau bero. Hal ini merupakan tantangan besar karena terkait dengan faktor sosial dan adat yang masih kuat. Petani rawa mempunyai kebiasaan apabila sudah panen yang umumnya padi lokal pada bulan Juli - Agustus, sawahnya dibiarkan bero (kosong atau tidak ditanami). Pada hal masih mempunyai peluang untuk tanam padi berumur genjah (varietas unggul baru) seperti Inpara 3, Inpara 4, atau Inpari 13 yang relatif tahan kering (seperti Inpari 10,11, 12, 13, 39, 40, Silogonggo, atau  Situ Bagendit). (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MS, m_ noor_balittra@yahoo.co.id)