JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

MENYAMBUT HARI PANGAN SEDUNIA (HPS)

MENYAMBUT HARI PANGAN SEDUNIA (HPS)

Bergerak dari Jejangkit Kalimantan Selatan Menuju Lumbung Pangan Dunia

 

 

 

HARI PANGAN SEDUNIA (HPS) yang dipeingati setiap tahun di seluruh antero dunia jatuh pada tanggal 16 Oktober. Pada tahun 2018 ini HPS memasuki peringatan yang ke 73, Pertama kali HPS secara internasional  diadakan pada tahun 1945. Pada tahun 2018 ini peringatan HSP di Indonesia ditempatkan di Provinsi Kalimantan Selatan tepatnya di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan sekitar 15 km dari Kota Banjarmasin. Secara nasional HPS di Jejangkit Muara merupakan peringatan yang ke 38 yang secara serimonial akan diselenggarakan pada tanggal 18 Oktober nantinya. Persiapan sudah jauh hari di lokasi peringatan dan terus bergerak sampai pada nanti hari H. Pada tahun 2045 seratus tahun Kemerdekaan  Indonesia telah dikumadangkan sebagai tahun tercapai Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia (LPD). Beberapa hari yang lalu, tepatnya 25 Juli yang lalu Menteri Pertanian, Dr. H. Andi Amran Sulaiman yang dikawal oleh Gubernur Kalimantan Selatan  H. Sabirin Noor secara langsung mengunjungi lokasi HPS diatas.

 

 

 

Dalam rangka HPS di Desa Jejangkit Muara atas, Para pejabat Kementerian Pertanian setiap bulan, minggu, dan hari memantau persiapan di lokasi yang merupakan lahan rawa dengan hamparan seluas sekitar 240 hektar dengan kanal sekunder sebagai sumber air memanjang sekitar 2,7 km dan tegak lurus dengan lebak sekitar 500 m. Bertepatan dengan kunjungan penulis bersama dengan TIM SMARD-Kementerian Pertanian- Prof. Decyanto Soetopo dan Tri Sumardi yang melakukan evaluasi kegiatan SMARD di Kalimantan Selatan pada tanggal 27 Juli dan 31 Juli 2018 lalu bersama Tim Balittra pa Dr. Izhar Khairullah dan Ir. Koesrini, M.S. berkesempatan melihat langsung secara dekat lokasi HPS yang dipersiapkan.

 

 

 

Hamparan sawah rawa yang dipersipkan tersebut di atas direncanakan akan dikembangkan sebagai  Model Sistem Usaha Pertanian Terpadu (SUP) yang digagas Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian bersama Pemerintah Daerah Provinsi/Kabuoaten dengan Jajaran Dinas Pertanian dan Hortikultura. Dalam hamparan sawah rawa tersebut diterapkan mekanisasi dalam penyiapan lahan, tanam dan panen nantinya, penggiunaan varietas unggul adaptif seperti Inpara 2, Inpara 3 dan Inpara 8 dan varietas lainnya dengan pola tanam minimal 2 kali setahun (IP 180 atau IP 200); pengelolaan air dengan sistem mini polder, pengaturan jarak tanam dengan sistem jajar legowo 1: 2, dan pengendalian hama penyakit terpadu serta pemberian input (pupuk, kapur dan sejenisnya) secara optimal.

 

 

Desa Jejangkit Muarar sangat ideal karena mempunyai sumber air dari sungai Jejangkit yang merupakan kerukan (kanal besar) bagian dari Daerah Aliaran Sungai (DAS)  Barito dan topografi datar, akses ke lokasi mudah. Selain itu di sekitarnya dari Desa Jejangkit Muara terdapat desa pendukung yang sudah terbuka sebagai sawah yaitu Desa Sampurna dan Jejangkit Barat, dan Jejangkit Timur. Pada aeral Desa Jejangkit Timur yang paling luas juga terdapat perusahaan perkebunan kelapa sawit. Hanya saja sayangnya dan menjadi menarik, demplot HPS ini dapat menjadi tempat pembelajaran petani karena petani sekitarnya umumnya menanam hanya 1 kali setahun (IP 100) dengan varietas lokal yang rata-rata berumur panjang (6-11 bulan). Apabila demplot ini nantinya dapat di skaling up (diperluas dan dikembangkan) kepada lahan-lahan rawa lainnya di Kalimantan,  Sumatera, dan Papua  maka  peningkatan produksi pangan, khususnya padi nasional kita berlipat ganda dan Indonesia dapat menjadi Lumbung Pangan Dunia. Barangkali inilah harapan kita semua untuk bergerak menuju tercapainya Kedaulatan Pangan dan menjadikan Indonesia tahun 2045 menjadi Lumbung Pangan Dunia (LPD) pada satu abad Indoensia Merdeka. Aamiin Allahuma Aamiin.  Salam dari jejangkit. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MS, m_ noor_balittra@yahoo.co.id)