JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Catatan dari Sumatera Barat dalam Rangka Penyusunan Buku Iklim

EMBUNG PERTANIAN

Catatan dari Sumatera Barat dalam Rangka Penyusunan Buku Iklim   

 

 

Kementerian Pertanian, di bawah Biro Perencanaan (Biroren) telah berencana menerbitkan 11 buku tentang kegiatan yang sudah, sedang dan akan dilakukan Kementerian Pertanian sepanjang tahun 2015-2019. Salah satunya adalah tentang Iklim yang berjudul Jurus Jitu Menyikapi Iklim Ekstrim El-Niño dan La-Niña untuk Pemantapan Ketahanan Pangan. Dalam rangkan melengkapi tulisan buku tersebut diadakan kegiatan  lapang untuk mendapatkan foto-fofo dan informasi terbaru yang telah dilaksanakan  untuk mendukung penulisan buku tersebut diatas yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok pertama berangkat ke Nusa Tenggara Timur  dan kelompok ke dua Sumatera Barat. Tim yang berangkat ke NTT dipimpin Prof. Fahmuddin Agus, M.Sc, sedangkan yang ke Sumbar dipimpin oleh Prof. Irsal Las yang tiba di Padang pada tanggal 18 Juli untuk selanjutnya menuju  Kabupaten Solok (Danau Atas) dan Kabupaten Tanah Datar (Pagaruyung) dan kembali ke Bogor tanggal 20 Juli lalu. Tim terdiri dari Prof. Irsal Las, Prof. M. Noor dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA), Dr. Bambang Irawan dari Pusat Peneltian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), dan Dr. Ai Dariah dari Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP)  

 

 

Istilah embung berasal dari bahasa Sunda (Jawa Barat dan sekitarnya) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai kata sifat yang artinya tidak mau. Embung dalam konteks tulisan ini dimaksudkan sebagai daerah cekungan penampung (retention basin) dapat merupakan kolam sebagai penyedia cadangan air untuk mengantisipasi kekeringan di musim kemarau yang juga berfungsi sebagai meadahi kelebihan air atau  genangan yang tidak terkendali di musim hujan. Embung yang baik atau ideal dibangun dengan pelapisan bahan kedap dikeliling tanggulnya sehingga air meresapkanmengisi akifer bebas yang ada di bawahnya. Embung dimaksud harus terletak di sebelah hulu lahan pertanian. Pada umumnya embung dibangun  tidak saja dimanfaatkan untuk pertanian, tetapi juga untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Embung yang sumber airnya dari air hujan relatif lebih bersih sehingga lebih sesuai untuk memenuhi kebutuhan domestik. Embung jenis ini biasanya dibuat dalam ukuran yang terbatas berada di lingkungan pemukiman dalam sehingga mudah diakses masyarakat setempat.

 

 

 

Embung pertanian mempunyai kapasitas sangat beragam, tergantung potensi dan kebutuhannya untuk irigasi sehingga ada yang berukuran besar, sedang dan kecil. Di Sumatera Barat kita menemukan embung yang kecil di Pagaruyung (Kab. Tanah Datar), tetapi juga ada yang embung besar “Air Anam” yang kita temukan di Danau Atas (Kab. Solok).  Sebagai tambahan embung yang dibangun di Toli-toli (Sulawesi Selatan) oleh Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) lebih kecil. Umumnya dan lebih tepat embung dibangun di daerah lahan kering atau tadah hujan yang mempunyai potensi sumber daya hujan cukup besar, tetapi sering mengalami kekeringan karena air hujan mudah hilang melalui aliran permukaan (run-off). Adanya embung air hujan atau limpasan dapat ditampung atau dikonservasi untuk dapat dimanfaatkan pada musim kemarau.

 

 

Dalam tahun 2018 dan 2019 pemerintah melalui Dirjen PSP, Kementan telah menargetkan bantuan pembuatan embung masing-masing sebanyak 400 unit, Sementara Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal Kemsdes DT) dibawah Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Masyarakat Desa (PPMD) memprogramkan pembuatan embung  sebanyak 1.154 unit yang tersebar di beberapa provinsi. Hanya saja karena dibangunnya  tergesa-gesa atau “instan”, tanpa memperhatikan kualitas, maka bangunan tersebut menunjukkan sudah ada yang retak dan bocor. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MS, m_ noor_balittra@yahoo.co.id)