JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Dukungan Investor Swasta

PENGEMBANGAN RAWA LEBAK OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN

Dukungan Investor Swasta 

 

 

 

Selama ini pengembangan lahan rawa lebak lebih banyak menggantungkan diri pada pemerintah baik pusat dan daerah. Program atau proyek pengembangan rawa yang berdasarkan dana anggaran pemerintah ini  ibarat kata seperti pasar malam saja, sebentar ramai saat ada proyek atau program setelah itu sepi. Misalnya dalam hal pengembangan sistem polder, sebagian masih terkendala, petani lebak tetap  hanya bisa tanam apabila air mulai turun pada saat musim hujan dan sebaliknya  menunggu hujan datang pada saat tanam musim kemarau. Bahkan tidak jarang petani tidak bisa tanam karena air genangan tidak turun-turun sampai hingga bulan September yang belum sempat tanam musim hujan masuk. Hal ini yang kebanyakan terjadi di lahan rawa lebak, tanam padi lebih banyak dan lebih luas pada musim kemarau,  khususnya di Kalimantan Selatan. Sedikit berbeda dengan di Sumatera, rawa lebak banyak ditanami pada musim hujan, dan tidak ditanami saat musim kemarau karena air tidak ada atau kering. Namun sama-sama baik di Kalimantan maupun Sumatera rawa lebak belum optimal dimanfaatkan karena kunci keberhasilan dalam aspek pengelolaan air belum sepeuhnya dikuasai atau dikendalikan.

 

 

 

Sistem polder sebetulnya sudah lama dipromosikan sebagai solusi dalam pengembangan pertanian di lahan rawa lebak, yang terkait dengan pengelolaan air baik saat tergenang pada musim hujan dan kekeringan pada saat musim kemarau, khususnya untuk  padi yang menjadi komoditas utama. Sistem polder pertama kali dikemukakan dan dirancang oleh Schophuys  (1950) yang diimplementasikan pada rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan yang disebut Polder Alabio dan di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang disebut Polder Mentaren. Hanya saja sistem polder diatas belum optimal sepenuhnya. Hal ini terkait dengan masalah sosial dan masyarakat setempat. Barangkali berangkat dari masalah sosial dan masyarakat yang sulit dipecahkan pada kasus di Polder Alabio Kalsel inilah, munculnya inisiatif  pengusaha pada Polder Ogan Ilir Sumatera Selatan untuk terjun dalam pengelolaan secara utuh dan mandiri oleh swasta (PT. Buyung Putra Pangan) yang didukung oleh pemerintah pusat/daerah dalam penataan dan partisipasi masyarakat. Hal ini menjadi menarik bagi penulis yang berkesempatan bersama dengan Kepala Balittra, Ir. Hendri Sosiaswan, CESA dan Staf  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan, ibu  Ir. Niluh  Putu Sri Ratmini ,M.Sc meninjau langsung dan berdialog dengan pengelola lapangan, pak Acong  di Ogan Ilir Sumatera Selatan pada Kamis, 23 Agustus yang lalu.    

 

 

 

Menurut pak Senen, petugas pembantu pada unit areal lebak Sri Banding  yang sekarang dikembangkan pada awalnya selalu gagal tanam sehingga dibiarkan oleh pemiliknya selain tergenang pada saat musim tanam juga serangan hama tikus sering meraja lela. Oleh karena itu umo (sawah) tersebut akhirnya dijual ke pihak perusahaaan. Terakhir ditanami pada tahun 2004.  Pada areal Seri Banding pompa ganda (kekuatan 50 HP) didesain dari bahan standesteel (anti karat) dan tenaga penggerak menggunakan listrik (elektrik). Perusahaan, PT. Buyung Putra Pangan pada awal pertama hanya mengembangkan rawa lebak Pamulutan (250 ha) dengan pompa tunggal sebanyak 8 (delapan) pompa, masih belum menggunakan standessteel, atau bahan besi biasa sehingga cepat sekali karatan dan rusak.  Lahan lebak yang dikembangkan dibuat walapun dalam satu hamparan kawasan seperti areal Pemalutan meliputi luas 250 ha, untuk memudahkan dibagi dalam 3 wilayah pengelolaan. Daerah rawa lain selain Pamulutan dan Seri Banding (177 ha) yang dikembangkan oleh perusahaan antara lain Kalang Pangaren 213 ha, Olak Kembang Satu 66 ha, dan Arisan Jaya 85 ha. Semua berada di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.. Pompa yang digunakan j(50 HP) berkemampuan memompa air sekitar 2500 meter kubik per jam atau 700 liter per detik. Hasil padi yang diperoleh pada areal yang lama (sudah 3-4 tahun, dibuka tahun 2015) mencapai 6 t gabah kering giling (GKG)/ha, sedangkan daerah bukaan baru (2016) seperti Seri Banding baru menghasilan 4 t GKG/ha. Dengan penerapan sistem polder dalam pengeloaan air lahan rawa lebak dapat ditanami 2 sampai 3 jkali setahun (IP 200-300). Semoga pengembangan rawa lebak lainnya menyusul karena luas rawa lebak kita mencapai sekitar 13 juta hektar, bahkan data terbaru (2015) diperkirakan mencapai sekitar 25 juta hektar.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MS, m_ noor_balittra@yahoo.co.id)