JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengembangan Lahan Basah Berbasis Lingkungan

Kuliah Umum Dosen Tamu Dr. Ir. Djafar Shidieq, M.Sc  

Pengembangan Lahan Basah Berbasis Lingkungan

 

 

Kuliah umum merupakan media untuk bertukar pikiran bagi para peneliti antara senior dengan yunior atau saling berbagi pengalaman antara sesama peneliti dengan pihak tertentu. Dalam hal ini peneliti Balittra, berkesempatan untuk berdialog dan diskusi dengan pakar yang secara tidak sengaja bertandang ke Balittra, yatu Dr. Ir. Djafar Shidieq, M.Sc. dosen senior pada Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kuliah dosen tamu diatas mengetengahkan tema terkait tentang Pengembangan Lahan Rawa Berbasis  Lingkungan pada tanggal 10 September 2018 yang lalu.

 

Kuliah umum dikhadiri sekitar 15 peneliti Balittra yang sebagian besar adalah lulusan dari Universitas Gadjah Mada baik S1, S2 maupun S3. Dalam  kuliah umum diatas dikemukakan tentang beberapa hal terkait pirit, gambut dan salinitas serta pengaruhnya terhadap tanaman khususnya padi. Dalam diskusi muncul beberapa pertanyaan yang penting untuk dicatat yaitu tentang (1) Bagaimana mengatasi keracunan besi yang muncul dari tanah sulfat masam, dan (2) Bagaimana  mengatasi kendal lahan gambut dengan kompaksi sehingga secara fisik lebih padat dan resiko kebakaran dapat ditekan.

 

 

 

Pertanyaan-pertanyaan tentang lahan atau tanah gambut memang menarik dan jawaban-jawaban tentu juga tidak selalu memuaskan. Hal ini barangkali karena boleh jadi akibat sudut pandang yang berbeda sehingga melahirkan jawaban yang beda. Oleh karena itu, diperlukan terlebih dahulu kesepahaman yang sama sehingga berrdasarkan kesepahaman yang sama, maka tujuan dan keinginan yang diharapkan dari sumber daya lahan gambut ini akan menentukan jawaban. Sebagaimana diketahui bahwa lahan gambut mempunyai dua fungsi yang dapat bertolak belakang, yaitu (1) fungsi lindung yang seyogyanya menjadai kawasan atau pengelolaaan untuk konervasi (conservation management area), (2) fungsi budidaya (development management area) yang seyogyanya merupakan wilayah yang harus dapat dikembangkan untuk memberikan manfaat bagi penduduk dan pemerintah setempat, (3) tentang kompaksi (comapction) sebagai upaya untuk pencegah kebakaran dan perbaikan fisik lahan gambut, hanya saja terbentur pada ketentuan peraturan yang menyatakan apabila subsiden -35 cm/5 tahun, maka status lahan menjadi dikategorikan terdegradasi.

 

Dalam penjelasannya beliau menyatakan bahwa pengelolaan harus mempunyai prinsif dihindarinya kerusakan lahan yang biasanya memerlukan waktu, tenaga dan anggaran yang lebih besar dibandingkan perbaikan kemduaian setelah pasca kerusakan.  (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)