JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Memantapkan Lingkungan Lahan Basah sebagai Kajian Unggulan ULM

Seminar Lahan Basah  

Memantapkan Lingkungan Lahan Basah sebagai Kajian Unggulan ULM

 

 

Seminar Hasil Penelitian Berbasis Program Unggulan Lahan Basah dalam rangka Dies Natalis ke LX dan Percepatan Akrediatasi ULM berlangsung di Hotel G-Sign Banjarmasin pada tanggal 20 September 2018. Seminar dikhadiri sekitar 150 peserta yang terdiri dari utusan 12 fakultas dan 120 program studi yang ada di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Khadir dalam seminar diatas antara lain Rektor ULM, Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si. M.Sc dan Wakil-wakil Rektor, Dekan-dekan fakultas, Ketua-ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) dan guru-guru besar dan staf pengajar lainnya.

 

Seminar dibuka oleh Rektor ULM dalam arahannya menyinggung masalah status akreditasi yang harus dapat mencapai A karena masih ada beberapa program studi yang berstatus B bahkan C ( 5 prodi). Nilai sementara yang dikantongi ULM baru mencapai 338, untuk meraih A ULM harus mencapai nilai 361 sehingga masih kekurangan sekitar 23. Diharapkan kekurangan tersebut dapat dicapai dengan adanya perbaikan bangunan dan program yang telah dilaksanakan dalam tahun berjalan ini. Rektor dalam arahannya menambahkan tentang visi dan misi ULM yang perlu dimantapkan dan diwujudkan, yaitu (1) terkemuka, (2) berdaya saing, dan (3) unggul dalam lingkungan lahan basah.

 

 

 

Panitia yang diketuai oleh Prof. Dr. Suratmo, MPd. Selaku moderator dalam pengantar seminar menyatakan bahwa semua fakultas dan prodi harus memahami tentang yang dimaksud lingkungan lahan basah. Dalam konteks diataslah penulis diundang sebagai satu-satunya nara sumber untuk mengemukakan secara holistik dan komprehensif tentang lingkungan lahan basah dengan judul Tinjau dan Studi Lahan Basah: Berbasis Agroekosistem. Penulis mencoba mengemukakan empat hal dalam bentuk pertanyaan, yaitu (1) Apa yang dimaksud dengan Lahan Basah (LB)?; (2) Faktor-faktor yg berpengaruh dalam ekosistem LB?; (3) Bidang kajian sumber daya & pengelolaan  LB di Indonesia ?; dan (4) Peluang, kendala, dan tantangan dalam kajian LB ?.

 

Dalam diskusi yang waktunya sangat terbatas dikemukakan beberapa masukan antara lain (1) Perlunya pendekatan multi sektor atau multi komoditas dalam pengembangan LB meliputi food, animal, dan forest sehingga dapat menghemat energi 20% dan mencegah terjadinya “bom” serangan hama dan penyakit tanaman; (2) perlunya penanganan LB secara terintegrasi sehingga setiap kabupaten perlu memahami keterkaitan lintas administrasi untuk itu perlu sosialisasi ke kabupaten-kabupaten; (3) istilah lingkungan, apakah tidak mempersempit lingkup kajian? Penjelasan untuk ini telah dikemukakan oleh Bpk Rektor, sebaliknya malah memperluas karena lingkungan diartikan sebagai environment (lingkungan sekitarnya) bukan dalam konteks lingkungan secara fisik (physical of environment); (4) perlunya masuk atau penguatan dimensi budaya dalam kajian LB. Pembahasan LB memang tidak bisa cukup hanya 1 atau 2 jam karena sangat luas dan kompleks. Hal inilah yang perlu dijabarkan dalam isian program studi di setiap fakultas dan program studi ULM.

 

Selamat Dies Natalis ULM ke 60, semoga dengan semakin bertambahnya usia semakin mantap dan semakin maju mendunia. Amiien.. Ya Robal Alamiin. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)