JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Inovasi Pemetaan dan Pengelolaan Berkelanjutan

Workshop Internasional Lahan Basah Tropik

Inovasi Pemetaan dan Pengelolaan Berkelanjutan

 

 

Internatioanal Workshop on Tropical Wetlands : Innovation in Mapping and Management for Suitainable Agriculture dilaksanakan pada tanggal 19-21 Oktober di Banjarmasin sebagai bagian dari kegiatan Pekan Pertanian Rawa Nasional (PPRN) ke 2. Workshop dibuka oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan, Dr. Ir. Agung Hendriadi,  M.Eng. Khadir dalam seminar diatas antara lain Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) yang diwakili oleh Ketua Bidang KSPHP, Dr. Yiyi Sulaeman, M.Sc., Tenaga Ahli Menteri bidang Infrastruktur Prof. Dr. Budi Indra Setiawan, M.Sc.

 

  

 

Workshop dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan peserta lainnya dari UGM, IPB, ULM, UNISKA, dan lainnya. Workshop menghadir beberapa nara sumber dari berbagai perguruan tinggi negara lain antara lain dari (1) Universitas Sydney, Australia; (2) CSIRO Australia, (3) CIRAD Perancis; (4) Hokkaido University, Jepang; (5) Viet Nam National University, Vietnam; (6) Ministry of Agriculture and Cooperative Thailand, dari dalam negeri antara lain (1) Institut Pertanian Bogor (IPB), (2) Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), (3) PT. Medco sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang komoditas Padi di Lahan Rawa, dan (4) Merauke dan PT Agro Astra Lestari sebuah perusahaan swasta yang bergerak di komoditas kelapa Sawit di Lahan Rawa. Selain itu, Workshop juga menampilkan beberapa poster hasil penelitian dan pengalaman dalam pengelolaan lahan basah atau lahan rawa dari berbagai balai penelitian dan perguruan tinggi.

 

 

Dalam diskusi terjadi perdebatan yang sangat seru antara pro dan kontra untuk pengembangan lahan gambut dengan ketentuan muka air - (minus) 40 cm dari permukaan tanah. Juga diskusi menarik adalah ketentuan kedalaman/ketebalan lahan gambut yang > 3 m untuk dapat digunakan bagi pengembangan pertanian/perkebunan. 

 

 

 

Workshop hari ke 2 berupa kunjungan lapang ke HPS Jejangkit, Kab. Barito Kuala dan TSP Banjarbaru sebagai bentuk implementasi dari teknologi pengelolaan lahan rawa. Dalam kunjungan lapang diperlihatkan multi fungsi dari lahan rawa sebagai daerah pengembangan bagi pertanian dengan berbagai komoditas (padi, jagung, kedelai, hortikulura, pepaya, semangka, cabai, bawang merah) dan sektor antara lain peternakan (itik) dan perikanan (ikan gabus, lele, papuyu). Workshop dinilai cukup berhasil dan memuaskan para peserta. Namun yang penting dari  semua diatas adalah tindak lanjut dari apa yang telah disampaikan dan didiskusikan. Mau dibawa kemanakah rawa?  Sebagai sumber daya alam tentunya lahan rawa merupakan aset yang dapat dimanfaatkan oleh pemrintah untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakatnya apapun bentuk dan caranya pesan ini merupakan yang telah dipesankan UUD 1945 dalam salah satu pasalnya yang wajib menjadi pegangan. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)