JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Rawa Bisa siap Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045

Workshop Pengembangan Pertanian Korporasi di Lahan Rawa

Rawa Bisa siap Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045

 

 

Workshop Pengembangan Pertanian Korporasi di Lahan Rawa berlangsung pada tanggal 14-17 November di Banjarmasin tidak lepas dari keberhasilan Gelar Teknologi pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang mengangkat tema Optimalisasi Lahan Rawa dalam mendukung pencapaian Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia (LPD) 2045.  Workshop dibuka oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang disampaikan Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP). Workshop menampilkan Bapak Dr. Ir. HE Herman Khoiron, MSi. Komisi II DPR RI bidang Dalam Negeri, Sekretariat Negara dan Pemilu, terkait juga dengan Pembangunan Daerah dan Pertanahan, sempat duduk sebelumnya dalam Komisi IV bidang Pertanian, Pangan, Maritim, dan Kehutanan   sebagai pembicara kunci yang mengangkat judul “Peran Pementaan Tanah Skala 1:50.000 untuk Pengembangan Rawa Mendukung Swasembada Pangan dan Energi.

 

   

 

Workshop dibagi dalam Tiga Sesi yang menyajikan tentang Karakterisasi Sumber Daya Lahan dan Mekanisasi di Lahan Rawa (Sesi 1); tentang Budidaya di Lahan Rawa menyajikan tentang Budidaya Padi, Palawija dan Hortikultura, itik, dan Ikan (Sesi 2), dan Kelembagaan Pertanian Korporasi dan Manajemen dan Diseminasi terkait tentang kegiatan (sesi 3). Masing-masing materi dibahas oleh tiga nara sumber dari perguruan tinggi, pelaku bisnis, dan pengamatan pertanian, antara lain Staf ahli Menteri Pertanian (SAM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan Universitas Palangka Raya (UPR), Universitas Islam Kalimantan (UNISKA), Universitas Veteran Ahmad Yani (UVAYA), dan Profesor Riset (FKPR). Workshop dikhadiri sekitar 100 peserta, yang terdiri dari peneliti, penyuluh, dan perekayasa dari Badan Litbang Pertanian, Perguruan Tinggi, Balai Besar Penyuluhan Pertanian (BBPP) Binuang, dan para birokrat Kementerian Petanian (Biro Perencanaan), serta SKPD Kalimantan Selatan, khususnya Dinas Pertanian, Pekerjaan Umum, dan  lainnya. 

 

    

 

Dalam penyampaiannya, Dr. Ir. HE Herman Khoiron, MSi. mengingatkan dan memohon untuk masuk dalam rekomendasi atau rumusan workshop  tentang semakin derasnya ancaman terhadap pangan sehingga diperlukan perhatian yang serius terkait (1) kewajiban negara atas Pengelolaan Sumber Daya Pangan, yang perlu ditegaskan secara riel; (2) munculnya persaingan atau perebutan lahan antara untuk pangan yang cenderung kalah dengan kebutuhan untuk bahan bakar nabati (biofoel); dan (3)  munculnya persaingan/perebutan lahan antara pakan (feed) dengan pangan (food). Juga diingatkan akan terbentuknya generasi milenial (52% penduduk Indonesia generasi muda) cenderung menjadi pembunuh peradaban. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia sekarang dapat menjadi menguntungkan, tetapi tanpa arah dan strategis yang baik dalam pemanfaatan kondisi ini justru akan mendatangkan kerugian, antara lain mengutamakan impor daripada produksi sendiri sehingga dalam hal pangan mendorong masuknya kedalam perangkap pangan. Oleh karena itu penting dan esensial untuk meraih swasembada pangan, kemandirian pangan dan kedaulatan pangan bagi Indonesia sebagai negara besar.  

 

   

 

Diskusi sangat intens dan menarik, banyak masukan terutama dari perguruan tinggi dan para pakar yang bergelut banyak dalam kegiatan pengembangan lahan rawa, antara lain mengingatkan pentingnya kehati-hatian terkait dengan karakteristik lahan rawa dan masyarakat rawa sebagai pelaku yang mempunyai sifat dan karakter tersendiri. Bercermin dari kegagalan yang pernah terjadi seperti PLG, MEFFE, dan Irigasi Riam Kanan di Kalimantan Selatan, maka diperlukan perencanaan dan langkah serta strategi  intervensi yang SMART dengan kata lain cerdas dan bijak. Dalam kegiatan workshop juga dilaksanakan kunjungan lapang ke Desa Jejangkit Muara  lokasi HPS ke 38 untuk melihat langsung tentang optimalisasi lahan rawa yang berhasil membangkitkan kembali lahan tidur yang selama 18 tahun ditelantarkan menjadi lahan yang produktif dengan inovasi teknologi dapat menjadi penghasil padi, sayur, ikan, itik dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa rawa bisa memberikan kesempatan kerja,  pendapatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat apabila dikelola dengan baik. Inshaallah ini juga akan ada pada sejuta lahan rawa yang direncanakan. Komitmen pemerintah dan konsistensi kebijakan diperlukan sebagaimana dikemuakkan dalam diskusi workshop diatas.

 

   

 

Workshop dinilai cukup berhasil dan memuaskan para peserta. Namun yang penting dari  semua diatas adalah tindak lanjut dari apa yang telah disampaikan. Pembukaan dan/atau optimalisasi lahan rawa 1 juta hektar merupakan penting dan perlu untuk menyongsong masa depan bangsa dan negara yang lebih baik, nyaman dan aman, namun lebih penting dan  perlu adalah  upaya ini dapat memberikan kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakatnya sebagai mana  pesan para pejuang dan perintis kemerdekaan yang telah dipatrikan dalam  UUD 1945 dalam salah satu pasalnya menjadi kewajiban para pemegang kekuasaan dan kebijakan. Semoga Rawa Bisa. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)