JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PENGUATAN KAPASITAS ORGANISASI PETANI

BIMTEK PENGUATAN KAPASITAS ORGANISASI PETANI PADA KEGIATAN BLOK PROGRAN RAWA LEBAK  DI TIGA DESA HAMBUKU SUNGAI PANDAN, KAB HULU SUNGAI UTARA

 "Persiapan Menuju Pertanian Korporasi"

 

 

 

Kick off  Meeting di Banjarbaru dan Kunjungan Lapang  ke lokasi kegiatan Blok Program Rawa Lebak pada tanggal 9-10 Agustus 2018 yang lalu merupakan langkah awal. Kick off Meeting dan Field Visiting  yang dibuka Staf Ahli Menteri (SAM) Pertanian bidang Infrastruktur Pertanian- Dr. Ir. Ani Handayani, M.Sc. dan dikhadiri juga Tenaga Ahli Menteri (TAM) bidang Infrastsruktur Pertanian-Prof. Dr. Budi Indra Setiawan, M.Sc. dan  Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan (BBSDLP)--Prof (R.)  Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr serta  Wakil Bupati Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) - H. Husairi Abdi, Lc., Kepala Dinas Pertanian TPH -Ir. Ilman Hadi, MS, Kepala Balittra, Kepala Baliklimat,  Kelapa BTPT Kalsel, Kepala Balai Rawa, PUPR, Profesor Riset, peneliti, petani dan petugas teknis. Kegiatan tanam sudah dimulai sejak tanggal 24 Oktober 2018. Dalam kesempatan pertemuan diatas, para peserta Kick off Meeting memberikan saran antara lain pengendalian air yang perlu dilakukan secara seksama. Prof. Dedi Nursyamsi menegaskan keyakinannya bahwa rawa lebak dapat dioptimalkan untuk 2 kali tanam setahun, yang sementara ini hanya 1 kali tanam setahun dengan perbaikan pengelolaan air dengan pengembangan infrastruktur tanggul keliling dan pintu-pintu air yang diistilahkan berbasis mini polder.

 

  

 

Lebih lanjut, dalam memaksimalkan upaya untuk menuju terbentuknya pertanian korporasi telah dilakukan Bimtek Penguatan Kapasitas Organisasi Petani selama 3 hari dari tanggal 21-23 November 2018 di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sungai Pandan, Kab. Hulu Sungai Utara. Bimtek. Bimtek dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemda HSU, Ir. H. Supomo, MSi. Khadir juga dari Dandramil dan Kapolsek serta Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Ratu Ida Royani, Amd. Kegiatan Bimtek diikuti sekitar 50 peserta antara lain petani dari tiga desa yang terlibat dan jajaran penyuluh (PPL) serta Kepala Desa. Dalam kesempatan diatas  Ir. Hendri Sosiawan CESA, sebagai Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) dalam presentasinya menyampaikan tentang potensial lahan rawa lebak dan peluang budidaya pertanian, itik, ikan dan ternak lainnya yang dapat dikembangkan dengan berbasis mini polder terkait dengan Kegiatan Blok Program. Dalam kegiatan Blok Program diatas dilakukan antara lain (1) pembenahan saluran dan tanggul yang bocor, (2) pembuatan tanggul (baru) dan tabat untuk menjaga atau mempertahankan air dalam upaya mengatasi kekeringan pada musim kemarau, (3) pelaksanaan tanam padi dua kali setahun (IP 200), (4) pengaturan air dan penerapan inovasi teknologi pengelolaan lahan dan air secara terpadu, dan (5) penguatan kelembagaan usaha tani. Selama ini petani di lokasi hanya tanam sekali setahun (IP 100). Dengan terbentuknya mini polder pada hamparan sekitar 87 hektar sehingga kondisi air dapat dikelola dengan baik dan petani bisa lebih optimal dalam usahataninya dengan menerapkan tanam dua kali setahun (IP 200). Kegiatan atau program ini diharapkan dapat menjadi percontohan dalam meningkatkan kinerja rawa lebak dan sistem polder yang ada sehingga dapat menjadi model untuk di-scaling up ke lahan-lahan rawa lebak lainnya. 

 

    

 

Dalam diskusi dengan nara sumber Dr. Syahyuti M,Sc. dari Pusat Sosial Ekonomi dan Analisis Kebiijakan Pertanian (PSEKP) yang  berjudul Kebijakan dan Program Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani muncul beberapa pertanyaan menarik antara lain (1) kinerja penyuluh yang dirasakan petani kurang mendukung, seperti yang dikemukakan seorang petani pa Aliansyah, (2) keluhan penyuluhan yang mempunyai wilayah kerja sangat luas - seperti dikemukakan ibu Ratu Ida Royani dengan 11 PPL melayani 1 Kecamatan sehingga 1 PPL melayani 16-20 desa dengan kata lain hanya mampu 2 kali kunungan per bulan, (3) keluhan pada ketua kelompok tani, yang bekerja sendiri dengan banyak hal, pengumpulan iuran yang tidak pernah jalan, dan (4) kondisi petani yang sulit dikonsulidasi dan organisir, seorang penyuuh, pa Wahyu menyatakan bahwa mengupulkan petani perlu ada uang karena petani enggan datang kalau tidak ada amplopnya. Dari pihak BPP, Kepala BPP Ratu Ida Royani, Amd.mengemukakan tentang Administrasi dan Managemen Organisasi Petani, terkait dengan Kelompok Tani, Gapoktan, UPJA, P3A, koperasi. Dikemukakan kondisi kelembgaan petani diatas masih jauh dari ideal.   Banyak hal yang masih perlu didalami terkait dengan kondisi petani, penyuluh dan kelembagaan petani apalagi kelembagaan ekonominya. Kalau didalami lebih jauhBukan sekedar memetakan saja, perlu intervensi  revitaslisasi untuk penguatan.  Perjalanan untuk menuju Pertanian Korporasi terasa masih sangat jauh dengan kondisi riel petani dan kelembagaan diatas.  Adakah jalan pintas ? sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena waktu yang akan membuktikan.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)