JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

TANAM PADI SAAT MUSIM HUJAN, RAWA LEBAK TIDAK TAKUT

TANAM PADI SAAT MUSIM HUJAN, RAWA LEBAK TIDAK TAKUT

 

 

Musim kering di rawa lebak merupakan musim bertanam padi, tetapi bagaimana dengan musim penghujan?. Musim hujan merupakan off season atau musim dengan tidak ada kegiatan pertanaman di lahan lebak dikarenakan kondisi lahan yang tergenangi air dan harus dibuang dengan segera jika ingin ditanami. Berbeda dengan yang terjadi pada lahan kering, lahan irigasi, maupun lahan tadah hujan, mereka akan bertanam padi saat musim hujan tiba karena stok air untuk masa tanam saat musim hujan terpenuhi.

Tingginya air di saluran, sungai, maupun lahan menyebabkan lahan lebak susah untuk ditanami. Masyarakat biasanya memanfaatkan musim hujan untuk beternak ikan daripada bertanam padi. Namun dengan upaya dan penerapan teknologi yang tepat guna, maka dengan ini Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) mencoba untuk mengadopsikan teknologi yang ada di lahan Lebak Dangkal dan Tengahan di Kalimantan Selatan. Desa Hambuku Hulu, Hambuku Raya, dan Hambuku Pasar merupakan tiga (3) desa terpilih yang berada di Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk dilaksanakan adopsi teknologi mini polder.

 

 

 

Sistem polder sendiri merupakan teknologi adopsi yang dibawa oleh Belanda yaitu dengan membuat tanggul keliling di sekitar area yang ingin diselamatkan, rumah pompa beserta pompa, kolam retardasi/kolam buangan/saluran. Sedangkan untuk di Hambuku, sistem mini polder telah dilaksanakan agar lahan bisa ditanami 2-3 kali dalam setahun. Sebelumnya dilaporkan bahwa hujan yang terjadi beberapa hari berturut-turut pada akhir Desember ini menyebabkan lahan sawah petani di Desa Hambuku Pasar dan Hambuku Raya terendam. Untuk menyelamatkan area lahan seluas 50 Ha yang sudah ditanami padi, maka dilakukan pompanisasi. Kegiatan pompanisasi ini bertujuan untuk memompa keluar air yang ada dilahan untuk dibuang ke saluran/sungai yang ada disekitar. Menggunakan pompa besar 12 inchi sebanyak 1 buah, pompa 6 inchi sebanyak 2 buah, dan 2 buah menggunakan pompa 4 inchi, sehingga total pompa yang diturunkan sebanyak 5 buah pompa.

 

 

 

Setelah ditelusuri kembali. Ternyata hasil penurunan muka air di lahan selama proses pemompaan 24 jam, tercatat hanya turun 1 cm saja. Mengapa demikian? Ternyata ada tanggul lahan yang bocor, sehingga air masih bisa masuk ke area lahan. Untuk menyelamatkan lahan yang sudah ada tanaman padi nya, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah meninggikan tanggul lahan setinggi 60 cm, sehingga tanggul setinggi 1.5 meter menjadi 2.1 meter. Tanggul tersebut dibuat dengan cara mengisi karung kedap air dengan pasir urug yang disangga oleh kayu-kayu galam sebagai pancangnya. Harapannya ketika tanggul tinggi kokoh dan tidak bisa dilalui air, maka proses pengeringan lahan (pemompaan) akan berjalan lancar, sehingga tinggi muka air nya bisa turun dan air mampu untuk di drain (dibuang).  

Kepala Balittra memberikan arahan kepada para ketua kelompok tani dan juga teknisi yang bekerja di lapangan untuk segera meninggikan tanggul lahan agar proses drainase pompa bisa berjalan lancer, lahan yang sudah ditanami padi bisa diselamatkan, serta lahan yang terendam bisa ditanami kembali. Dengan begini air bisa keluar dari lahan, padi yang sudah ditanam terselamatkan, serta lahan yang semula tergenang masih bisa ditanami. RAWA BISA. (Vika Mayasari, STvikamaya.balittra@gmail.com).