JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Lahan Rawa yang Menjanjikan dan Mensejahterakan

TELANG REJO  

Lahan Rawa yang Menjanjikan dan Mensejahterakan

 

 

Pada bulan November 2017 atau sekitar 14 bulan yang lalu, penulis diundang salah satu perusahaan melalui Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian untuk khadir di Desa Puntak dan Desa Panggang, Kec. Pandih Batu, Kab. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang merencanakan akan membuka dan mengembangkan lahan rawa untuk produksi pangan yang sebagai tahap awal dilakukan penanaman seluas 50 hektar dan selanjutnya ditingkat menjadi 100 hektar. Namun sayang upaya tersebut berhenti alias macet atau gagal ditengah jalan. Berbeda dengan upaya diatas Desa Telang Rejo, Kec. Telah, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan sekarang diangkat menjadi percontohan optimalisasi lahan rawa.

 

 

Dalam kesempatan Rakor Khusus Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan (BBSDLP) di Palembang bulan Desember 2018 yang lalu, para peserta Raksus diajak kunjungan ke Desa Telang Rejo tersebut diatas. Kunjungan Raksus BBSDLP tersebut diatas diikuti oleh Kepala BBSDLP, Kepala Balit Tanah, Kepala Baliklimat, dan peneliti lingkup BBSDLP sebagai peserta Raksus. Juga khadir Kepala Desa Telang Rejo dan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Peranian (BPTP) Sumatera Selatan berserta peneliti Budi Rahardjo yang banyak berkecimpung di lahan rawa Sumatera Selatan sejak dari masa SWAMPS (1985-1992), ISDP (1990-1994), sampai SUP Sumsel (1995--1997). Luas daerah rawa (DIR) Telang hampir 27.000 hektar, diantaranya sawah rawa pasang surut hampir 15.000 hektar terbagi dalam 3 (tiga) desa. Desa Telang Makmur, Telang Rejo, dan Telang Karya.

 

  

 

TELANG REJO merupakan lahan rawa yang dibuka sejak tahun 1970an melalui Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S) antara tahun 1979 sampai 1982. Dalam diskusi di lapang dijelaskan bahwa secara kasat mata, Telang Rejo dinilai sangat potensial untuk menjadi percontohan (demfarm) karena petani sudah siap mengikuti anjuran teknologi yang sekarang diintroduksikan, yaitu pola tanam 2 kali setahun (IP 200), vaeritas ugggul baru, traktorisasi dalam olah tanah sudah jalan, cara tanam sebar langsung (direct seeding), dan panen sudah menggunakan mesin (combine harvester). Sekarang telah dilakukan penataan kembali kondisi lahan, normalisasi saluran, pintu air dan jalan usaha tani serta perbaikan sistem tata air, kelembagaan petani, dan ketrampilan petani agar merata dan kegiatan usaha tani berlangsung meningkat baik produksi maupun kualitas hasil. Dalam keterangannya Kepala Desa menyatakan bahwa petani sepakat untuk menerapkan teknologi anjuran, pembinaan kelembagaan, dan penguatan kapasitas petani melalui kerja sama teknis dan non teknis.

 

 

 

Desa-desa di kawasan Telang, termasuk Telang Rejo sudah menjadi contoh lahan rawa yang menjanjikan dan menyejahterakan ke depan karena tidak saja akan menjadi daerah sentra produksi, tetapi juga sentra agribisnis dan agroindustri karena direncanakan mekanisasi penuh (full mechanism) dan penerapan sistem polder dalam pengelolaan airnya. Petani akan membentuk wadah kelembagaan petani yang disebut korporasi. Korporasi yang akan mengelola aset petani sekaligus praktek budidaya yang diintroduksikan. Diharapkan dari model demfarm ini akan dapat dikembangkan di lahan rawa lainnya dengan beberapa modifikasi sesuai dengan kondisi spesifik daerah. Semoga rawa bisa, rawa jaya, dan rawa sejahtera. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)