JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Implementasi Awal Pengembangan Rawa 1 Juta Hektar

SID DAERAH IRIGASI RAWA (DIR) DI KALSEL TAHAP I 

Implementasi Awal Pengembangan Rawa 1 Juta Hektar  

 

 

Sebanyak  enam Tim Kelompok Surveyor Badan Litbang Kementerian Pertanian yang terdiri dari peneliti dan teknisi pada  Balai Penelitian  Agroklimat dan Hidrologi (Baliklimat), Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Balai Penelitian Tanah (Balit Tanah), dan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)  turun ke berbagai lokasi atau daerah irigasi rawa (DIR) di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan pada akhir-akhir bulan Desember  2018 lalu untuk melakukan survei, investigasi dan desain (SID) yang meliputi aspek  tanah, air, sosial ekonomi, dan sumber daya lainnya dalam rangka pengembangan infrastruktur, tata ruang, dan tata kelola sumber daya pertanian masing-masing DIR. Nantinya diharapkan Sumsel dan Kalsel menjadi contoh model penyusunan SID bagi provinsi lainnya seperti  Sulsel, Lampung, Jambi, Kalteng, dan Papua. Dalam arahannya Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Gatot Irianto Sumardjo pada kesempatan pertemuan dengan para surveyor di Kantor Balittra Banjarbaru menyampaikan bahwa lokasi yang dijadikan sasaran utama adalah (1) lahan yang sudah ditanami 1 kali (IP 100) sehingga dapat ditingkatkan menjadi IP 200; (2) lahan yang sudah mempunyai jaringan tata airnya sehingga tinggal menyempurnakan atau menormalisasi saluran-saluran dan/atau tanggul-tanggul yang ada; dan (3) akses ke lokasi tidak terlalu sulit sehingga memudahkan dalam mobilisasi alsintan dan barang-barang keperluan.

 

 

Kegiatan SID ini dalam rangka mendukung kebijakan Kementerian Pertanian yang menargetkan pembukaan lahan rawa sejuta hektar di tujuh provinsi utama daerah rawa yaitu Kalsel, Sumsel, Lampung, Jambi, Kalteng, Sulsel dan Papua. Pemerintah menarget ada 10 juta hektar lahan rawa yang dapat dioptimalkan sehingga dapat menutupi lahan-lahan produktif yang beralih fungai dan antisipasi penambahan penduuduk yang masih cukup tinggii hingga tahun 2045. Harapan Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia tahun 2045 benar-benar dapat direalisasikan dengan dukungan pengembangan lahan rawa secara optimal.

 

 

Provinsi Kaliamntan Selatan sebagai salah satu provinsi basis dari pengembangan lahan rawa nasional dengan gelar teknologi yang dilakukan pada Hari Pangan Sedunia (HPS) pada bulan Oktober 2018 lalu. Dari Desa Jejangkit Muara ditunjukkan kepada pada pembuat kebijakan yang khadir waktu itu, termasuk Menteri Koodinasi (Menko) Bidang Perkekonomian dan Menteri Pertanian dan beberapa pejabat negara lain yang diundang menyaksikan langsung bahwa “Rawa Bisa” artinya rawa dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif untuk pangan. Rawa yang diistilahkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman  “singa tidur”  perlu dibangkitkan untuk Indonesia masa depan.+Adapun daerah rawa di Provinsi Kalimantan Selatan sendiri meliputi daerah pantai, pasang surut dan lebak, sebagian lahan rawa tersebut dibuka sejak tahun 1969 dalam mendukung Program Transmigrasi. Berdasarkan catatan penulis jumlah DIR Kalsel yang telah dibangun sekitar 16 unit meliputi  Barambai, Belawang, Tabunganen, Sei Mohur, Sei Seluang, Jejangkit, Danda Jaya, Jelapat, Tarantang, Sakalagun, Pulau Laut, Anjir Serapat, Tanipah (Kab. Barito Kuala); Belanti I dan II (Kab. Tapin); Cintapuri  (Kab. Banjar) dengan total luas areal antara 45.000-50.000 hektar. Namun tidak semuanya berupa sawah dan sebagian sudah ditempati perkebunan kelapa sawit dan karet.  Sebagian besar jaringan tata airnya berupa sistem garpu.

 

 

 

Hasil investagasi dalam kondisi sekarang menunjukkan (1) saluran Ray Utama sebagai sekunder irigasi (SDI) sekaligus drainase (SDU); (2) saluran Pembelah (Ray-ray kecil cabang dari ray utama) sebagai saluran pembagi hanya sebagian  mempunyai pintu, tetapi kondisi/fungsinya tidak operasional, kayu pintu penutup/dam/tabat hilang/tidak ada, (3) tidak tersedia pompa, masuk dan keluarnya air  secara alami bergantung gerakan pasang (pasang surut) dan tergenang pada lahan lebak saat musim hujan, (4) hanya ditanami 1 kali setahun dengan varietas lokal dan provitas rendah sehingga bero pada musim kemarau, dan (5) kemasaman air dan tanah menunjukkan sebagian berkisar pH 4,0-4,5, ada beberapa yang pH <4.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)