JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tantangan untuk Melakukan Perubahan bagi Masyarakat Lokal

TAJAU LANDUNG  

Tantangan untuk Melakukan Perubahan bagi Masyarakat Lokal 

 

 

 

TAJAU LANDUNG, menjadi pilot project atau demontrasi pertanian (demfarm) skala luas sebagai bagian dari optimalsasi lahan rawa sejuta hektar oleh Kementerian Pertanian. Pemilihan lokasi sebagai pilot project tentu didahului dengan survei karakterisasi wilayah dan sosial ekonomi serta budaya penduduk. Tajau Landung terpilih setelah daerah rawa Jejangkit Muara berhasil bangkit bahkan perhatian dunia dalam gelar teknologi lahan rawa pada Hari Pangan Sedunia 2018 lalu. Keberhasilan Jejangkit dianggap menjadi salah satu model pengembangan lahan rawa yang produktif. Pemerintah menyadari bahwa keberagaman daerah rawa sangat tinggi dan kompleks baik dari segi aspek fisik, sosial budaya maupun lingkungannya, sehingga diperlukan banyak model agar adaptif terhadap kondisi setempat, maka dipelukan pilot-pilot atau contoh-contoh lapang (demfarm) yang antara lain adalah Telang Rejo di Sumatera Selatan dan Tajau Landung Kalimantan Selatan, selain Jejangkit Muara sebagai model alternatif untuk pengembangan selanjutnya.

 

 

 

Berbeda dengan Telang Rejo di Sumatera Selatan yang termsuk rawa pasang surut, TAJAU LANDUNG merupakan lahan rawa lebak yang dibuka awalnya secara swadaya oleh masyarakat setempat kemudian mendapat dukungan oleh pemerintah daerah dengan membuat ray-ray sejauh 2 kilometer dari sungai Antasan (kerukan) pada tahun 1990an. Dalam diskusi Tim  SID di Kantor Balittra, 5 Januari lalu dijelaskan bahwa Tajau Landung dinilai sangat potensial untuk menjadi percontohan (demfarm) karena sudah eksis setiap tahun ditanami petani walaupun sering tenggelam (IP 80-100), berada dipinggiran antara dua sungai yaitu sungai Antasan (di bagian Timur) dan sungai Landung (di bagian Barat), akses mudah karena lokasi dipinggir/sisi jalan dan sungai besar, petani sebagai pemilik lahan berada setempat. Luas lahan keseluruhan sekitar 900 hektar bergabung antara Tajung Landung dengan Keliling Benteng, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Adapun demfarm berada di Desa Tajau Landung, Kec. Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalsel antara Ray 1 sampai 9.

 

 

Sekarang telah dilakukan pembuatan atau rehabilitasi tanggul-tanggul antar ray sebagai jalan usaha tani, jembatan, dan tanggul keliling, pembuatan pintu air di pintu masuk (inlet) dan pintu keluar (outlet). Sementara pekerjaan diatas, petani sedang masa menunggu tanam (lacak) dengan menggunakan varietas lokal (Siam Mutiara, Siam Halus, Karang Dukuh dan lain sejenisnya). Dalam rapat internal desa, sebagaimana diungkapkan petani setempat, Pak M. Hairi (nama akrab: Ihai), bahwa Kepala Desa telah mengimbau sekaligus mengarapkan agar masyarakat petani secara penuh dapat berpartisipasi dan sepakat untuk menerapkan teknologi anjuran, pembinaan kelembagaan, dan penguatan kapasitas petani melalui kerja sama teknis dan non teknis baik terhadap pemerintah maupun swasta nantinya yang mendukung. Hal ini penting karena tanpa dukungan petani secara penuh, apa yang akan dibangun menjadi sia-sia karena tidak dilanjuti petani setelah masa program selesai. Ibarat pasar malam, ramai sebentar setelah itu sepi kembali.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)