JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Menjadikan Daerah Rawa dan Banjir agar Produktif dan Menguntungkan

SID DAERAH  RAWA LEBAK DAN RAWAN BANJIR  DI SULSEL  

Menjadikan Daerah Rawa dan Banjir agar Produktif dan Menguntungkan   

 

 

 

Tim  survei, investigasi dan desain (SID) Badan Litbang Kementerian Pertanian yang terdiri dari peneliti dan teknisi  Balai Penelitian  Agroklimat dan Hidrologi (Baliklimat) dan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)  telah diturunkan sebagai tahap awal ke Sulawesi Selatan sejak tanggal 10 sampai 14 Januari 2019 baru lalu untuk melakukan SID dalam rangka pengembangan infrastruktur, tata ruang, dan tata kelola sumber daya pertanian meliputi 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Soppeng. Kegiatan SID ini dalam rangka mendukung kebijakan Kementerian Pertanian yang menargetkan pembukaan lahan rawa sejuta hektar di tujuh provinsi utama yang salah satunya Sulawesi Selatan. Pemerintah menarget ada 10 juta hektar lahan rawa yang dapat dioptimalkan sehingga dapat menutupi lahan-lahan produktif yang beralih fungai dan antisipasi penambahan penduuduk yang masih cukup tinggii hingga tahun 2045. Harapan Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia tahun 2045 benar-benar dapat direalisasikan dengan dukungan pengembangan lahan rawa secara optimal.

 

 

 

Berbeda dengan daerah rawa lebak di Kalimantan atau Sumatera umumnya berkaitan dengan sungai, di Provinsi Sulawesi Selatan rawa lebak bersinggungan dengan danau besar seperti Danau Tempe dan Danau Sidenreng, yang merupakan tampungan sungai-sungai sekitarnya. Namun terjadinya luapan pada daerah rawa lebak Danau Tempe dan Danau Sidenreng ini bertepatan bulan Mei sampai Juli pada saat didaerah lain sedang krisi air atau kekeringan. Hasil investagasi dalam menunjukkan (1) infrastruktur jaringan tata air yang ada hanya mengandalkan pada sungai-sungai  atau creek (bekas sungai lama) dan saluran yang dibuat sebelumnya; (2) saluran-saluran atau sungai-sungai yang ada sedang mengalami pendangkalan karena lumpur yang terangkut dari danau saat banjir besar; (3) petani umumnya hanya tanam 1 kali setahun (IP <100), kadang-kadang tidak bisa tanam karena kekurangan  (defisit) air; (4) sumber air utama dari saluran yang diangkat dengan pompa.ke lahan, hampir semua petani menggunakan pompa untuk tanaman padinya pada saat musim tanam (Oktober/November sampai Maret/April); dan (5) luapan air Danau Tempe dan Danau Sidenreng terjadi bulan Mei-Juli menggenangi hampir 50% sawah petani di sekitarnya sehingga tidak dapat ditanami. Kesimpulan sementara dari hasil investigasi perlunya revitalisasi pertanian melalaui antara lain ; (1) normalisasi  saluran atau creek dan pembuatan saluran untuk perbaikan jaringan tata air sebagai kunci utama, (2) pembuatan tanggul penahan banjir (polder) sebagai pendukung dalam pengelolaan air yang optimal; (3) pembuatan atau pemasangan pintu air dan pompa; (4) pembinaan kapasitas petani dalam meningkatkan hasil dan intensitas pertanaman IP 200 atau 300;  dan (5) penguatan kelembagaan petani dalam mendukung pertanian korporasi. (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)