JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Dukungan untuk Program SERASI

BUKU BARU RAWA TENTANG INOVASI TEKNOLOGI 

Dukungan untuk Program SERASI     

     

 

 

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) kembali meluncurkan buku baru berupa bunga rampai tentang INOVASI TEKNOLOGI LAHAN RAWA yang ditulis oleh para peneliti dan penyuluh pertanian yang berkiprah di lahan rawa. Pemerintah era sekarang telah menargetkan perluasan pemanfaatan melalui program optimalisasi dan percetakan sawah lahan rawa sekitar 1 juta hektar dari tahun 2017 dengan perbaikan infrastruktur jaringan tata air dan bantuan sarana produksi. Dalam tahun 2018 telah dilakukan Survey, Investigasi, dan Design (SID) seluas 200 hektar dari target 500 hektar lahan rawa pasang surut dan rawa lebak di Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 2019 direncanakan SID seluas 500 hektar lahan rawa pasang surut dan rawa lebak meliputi  tujuh provinsi meliputi  Jambi, Riau, Kalteng, Lampung, Sumsel, Kalsel, dan Sulsel.

 

Dalam sejarah ekstensifikasi pertanian di Indonesia, lahan rawa tercatat mulai dikembangkan sejak tahun 1920an sebagai areal usaha tani padi, jagung, sayuran, dan perkebunan seperti karet, kakao, jeruk dan lainnya. Sejak diperkenalkannya gerakan intensifikasi melalui Program Bimas, Inmas, Insus sejak tahun 1969 yang masif di Jawa dan beberapa daerah lainnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, tetapi lahan rawa seolah-olah tidak tersentuh karena dilaporkan sekarang hampir 90% masih menerapkan tanam sekali setahun (IP 100) dengan sistem bertani yang masih tradisonal. Mengingat tidak semua proyek pembukaan atau pengembangan daerah rawa berhasil dengan baik, juga program intensifikasi yang masih setengah hati, maka menarik untuk mempelajari dan mendalami tentang pertanian secara menyeluruh di lahan rawa ini, terutama terkait dengan inovasi teknologi untuk mendukung pengembangan pertanian. Selain terkait dengan Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S) melakukan pembukaan 5,25 juta hektar,  dilaporkan hanya terealisasi sekitar antara 17%-20% (1 juta hektar)Kemudian pembukaan 1 juta hektar melalui Proyek Pembukaan Lahan Gambut (PLG) Sejuat Hektar di Kalimantan Tengah, dari rencana pengembangan 1,4 juta hektar yang dengan penempatan transmigrasi 316.000 KK, tetapi terealisasi hanya penempatan 15.600 KK (30.000 hektar). Padahal hasil analisis potensi menunjukan terdapat seekitar 300.000 hektar cocok untuk pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Banyak kendala yang dihadapi dalam pengembangan lahan rawa menyangkut aspek agro-fisik lahan, kesuburan tanah, sosial ekonomi petani, kapasitas petani dan kelembagaan petani dan pendukung, termasuk pemerintah daerah.

 

Buku Inovasi Teknologi Lahan Rawa ini merupakan lanjutan dari buku sebelumnya yang berjudul Agroekologi Rawa yang membahas tentang ekologi pertanian dan ragam sifat dan tipologi dari lahan rawaBuku Inovasi Teknologi Lahan Rawa: Mendukung Kedaulatan Pangan  mengemukakan tentang berbagai teknologi pengelolaan lahan dan budidaya pertanian di lahan rawa, termasuk aspek sosial ekonomi dan kelembagaannya yang disusun dalam 5 Bab Utama.  Bab 1 sebagai pendahuluan mengemukakan sekilas tentang kebutuhan dan peran inovasi teknologi pertanian di lahan rawa masa depan. Bab 2 mengemukakan tentang inovasi teknologi di lahan rawa pasang surut meliputi pengendalian keracunan Al dan Fe, perbaikan budidaya padi, penggunaan  rhizobium untuk tanaman kedelai, perbaikan pola tanam padi, perbaikan budidaya kedelai, produksi benih sumber padi, peningkatan efesiensi dan efektivitas pemupukan padi, penekanan susut hasil pada panen dan pasca panen, dan penggunaan alsintan.  Bab 3 mengemukakan tentang inovasi teknologi di lahan gambut meliputi pengaruh ameliorasi terhadap lahan gambut terdegradasi, peningkatan  produksi tanaman hortikultura, kearifan lokal dalam pengelolaan lahan gambut untuk pertanian, pemulihan lahan gambut  terdegradasi melalui pengelolaan air dengan sekat canal, dan remediasi lahan gambut terdegradasi untuk kelapa sawit.  Bab 4 mengemukakan tentang inovasi teknologi lainnya  meliputi  pembuatan  pupuk organik dari tanaman rawa, pertanian ramah lingkungan di lahan rawa terdegradasi, teknologi pupuk hayati dan budidaya kacang tanah. Bab 5 sebagai penutup mengemukakan sekilas tentang implementasi teknologi dan prospek pengembangan lahan rawa untuk pertanian ke depan secara komprehensif.

 

Buku ini patut untuk dibaca para  peneliti, penyuluhan, pengajar, pelajar/mahasiswa, pemerhati,  pejabat pelaksana teknis dan pembuat kebijakan, terkait dengan pertanian, kehutanan, lingkungan hidup, dan bidang atau sektor lainnya yang terkait. Buku ini dapat menjadi acuan atau sumber pengetahuan dalam penyusunan paket teknologi pengelolaan lahan rawa mendukung program SERASI (Selamatkan Rawa dan Sejahterakan Petani). Buku ini tersedia di Perpustakaan BALITTRA Jalan Kebun Karet, Loktabat Utara, Banjarbaru (Kode Pos 70712), selama masih ada persediaan Anda bisa mendapatkannya. Selamat Membaca dan belajar lebih banyak lagi tentang Lahan Rawa sebagai lahan pertanian masa depan.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)