JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berawal dari HPS dan PPRN II

PROGRAM SERASI

Berawal dari HPS dan PPRN II

 

 

Pada penghujung tahun 2018, Kementerian Pertanian meluncurkan program pengembangan lahan rawa yang diberi nama “SERASI” singkatan dari Selamatkan Rawa dan Sejahterakan Petani. Program SERASI tidak diinisiasi secara tiba-tiba atau ujug-ujug, tetapi mempunyai cerita panjang. Bermula dari peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) pada bulan 18 Oktober 2018 lalu yang dipusatkan Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala di Kalimantaan Selatan, daerah rawa pasang surut yang sudah lama ditinggalkan petani pemiliknya. Konon selama 15 tahun lahan rawa tersebut dibiarkan menjadi lahan terlantar, tidak ditanami dan menjadi semak belukar rawa, utamanya pohon galam (Melaleuca Leucadendront) dan rumput purun (Eleocharis dulcis), yaitu jenis pohon semak dan rumput rawa yang  tahan tumbuh (toleran) pada tingkat kemasamannya luar biasa (pH 2-3). Pada kondisi tanah dan air yang sangat masam tersebut pertumbuhan dan hasil padi yang dapat dicapai sangat rendah. Oleh karena itu, sangat beralasan petani “lari” tidak lagi berminat untuk menanaminya karena hasilnya sangat  rendah bahkan banyak gagal panen. Petani merugi karena  investasi atau biaya yang dikeluarkan untuk usaha tani semakin tinggi, sementara hasil tidak mencukupi.

 

 

Pemerintah daerah di bawah komando Gubernur Kalimantan Selatan, H. Sahbirin Noor yang lebih dikenal dengan panggilan Paman Birin, dengan seluruh jajarannya, termasuk Kepala Dinas Pertanian TPH Provinsi Kalsel, Ir. H. Fathurrahman, MS. dengan berbagai upaya dibantu dengan Badan Litbang Pertanian, Kementan melalui Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan (BBSDLP) dan jajaran Balai-balai dibawahnya sebagai Unit Pelaksana Tugas (UPT) mengawal implementasi teknologi budidaya yang diinisiasi dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air dengan Balai Rawa sebagai unit pelaksana tugas (UPT), Kementerian PUPR  sebagai pendukung pengembangan infrastruktur menyiapkan pengalian dan pembuatan tanggul serta pemasangan pompa axial dalam penyelenggaraan HPS diatas dengan gelar teknologi rawa berupa penataan lahan dan pengelolaan air pada hamparan 240 hektar dari luas 7.500 hektar keseluruhan.

 

Persiapan dimulai pada saat mana permukaan air di sungai sekitarnya dan di lahan usaha tani sedang tinggi sehingga memerlukan waktu untuk  kondusif.  Dalam waktu singkat dilakukan Survei, Investigasi dan Design (SID) lokasi HPS Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jajangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan di atas hingga kemudian dibentuknya Tim Pusat dan Tim Daerah dalam perencanaan dan pelaksanaan untuk menjadilakn lahan rawa menjadi lahan produktif.  Puncak peringatan HPS diatas dikhadiri juga Menteri Koordinasi (Menko) Bidang Perekonomian, Dr. Darmin Nasution mewakili Presiden yang berhalangan khadir dikawal  Menteri Pertanian, Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MSc. Para pengunjung, termasuk Menko dan Mentan takjup dan kagum atas kondisi pertanaman yang ada di lahan rawa jejangkit Muara tersebut diatas diluar ekspektasi atau dugaan.

 

 

Dalam kegiatan HPS di atas, lahan rawa bongkor di desa jejangkit Muara di atas seperti disulap setelah dibuka, ditraktor, dan ditata  dengan pengelolaan khusus, terumata pengelolaan air dengan pembuatan tanggul dan pompa air,  kemudian ditanami padi dan sayuran dengan penerapan inovasi hasil Badan Litbang Pertanian.  Ibarat “bayi” dengan perawatan dan asupan yang cukup, dan pendampingan khusus maka pertumbuhan tanaman yang diusahakan petani Jejangkit Muara menunjukkan hasil yang mengagumkan.

 

Bersamaan dengan kegiatan HPS di atas, BALITTRA bekerjasama dengan segenap peneliti dan personal Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) jauh hari merancang diselenggarakannya Pekan Rawa Pertanian Nasional (PPRN) ke II dari tanggal 17-21 Oktober. Berbekal semangat dari PPRN I yang diselenggrakan pada tahun 2011 yang dinilai sukses, maka PPRN II mendapatkan tantangan untuk lebih sukses. Di tengah kondisi kemarau yang langka air, dalam persiapan lapangan para petugas diperintahkan untuk dapat membuat pertanaman tetap baik, segar dan bugar saat hari H -17 Oktober kunjungan Menteri Pertanian. Kalau acara puncak dengan gelar teknologi dalam memperingati HPS dilangsungkan tanggal 18 Oktober sebagai perwakilan prototipe lahan rawa pasang surut, maka sehari sebelumnya tanggal 17 Oktober, Mentan khadir untuk membuka PPRN II sekaligus mengunjungi atau meresmikan Taman Sains Pertanian Rawa dan gelar teknologi rawa sebagai miniatur rawa lebak. Dalam gelar teknologi PPRN II diatas, Menteri Pertanian selalu senyum menunjukkan kegembiraan bahwa lahan rawa dapat dirancang sebagai lahan pertanian yang produktif dengan beragam komoditas antara lain padi, jagung, kedelai, kacang tanah, jeruk, bawang merah, cabai dan lain sebagainya.

 

  

 

Dari keberhasilan dua kegiatan yang ditunjukkan pada HPS dan PPRN II, lantas Menteri Pertanian mengambil sikap bahwa lahan rawa perlu dibangkitkan untuk menjadi lahan pertanian alternatif masa depan. Disetiap saat dan dimana saja akhir-akhir ini Menteri Pertanian selalu berucap, khusus apabila menyebut rawa " Mari Kita Bangkitkan Raksasa Tidur", "Raksasa Tidur" menjadi sebutan bagi lahan rawa. Berangkat dari hal diataslah Menteri Pertanian telah memutuskan akan mengembangkan lahan rawa di enam provinsi seluas 1 juta hektar, masing-masing di Kalsel, Sumsel, Lampung, Jambi, Kalteng dan Sulsel yang disebut Program SERASI. Selamatkan Rawa dan Sejakterakan Petani.  Bravo Balittra !!!  (Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)