JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mengintip Pertanaman Jagung di Kabupaten Tanah Laut

Mengintip Pertanaman Jagung di Kabupaten Tanah Laut

 

 

Gunung Raja dan Bati-bati adalah daerah sentra pertanaman jagung di Kabupaten Tanah Laut, Propinsi Kalimantan Selatan. Lahan dengan kondisi tanah masam menjadi polemik tersendiri bagi petani jagung disana. Namun jagung-jagung terbaik malah dihasilkan dari daerah tersebut. Mengapa demikian? Mari kita ulas satu persatu. Jagung, merupakan salah satu komoditi unggulan yang harus selalu ada. Tingginya permintaan jagung inilah yang membuat Kementerian Pertanian terus menggenjot masyarakat agar berupaya menanam komoditas unggulan tersebut, dengan harapan Indonesia bisa swasembada pangan dalam waktu dekat serta impor jagung ditiadakan. Disamping itu agar masyarakat mau menggunakan varietas unggul baru dan juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani jagung.

Berbagai cara dilakukan untuk bisa meningkatkan produktivitas jagung, salah satunya adalah Teknologi Panca Kelola Lahan, dengan cara :

1.    Rekapitalisasi rock phospat

2.    Sistem tanam zig-zag (75 cm X 12,5 cm)

3.    Pemupukan berimbang

4.    Penggunaan varietas hibrida

5.    Pengelolaan hama terpadu

Menurut Dr. Wahida Annisa Yusuf (Peneliti Madya Balittra), rekapitalisasi rock phospat ini dilaksanakan 7-10 hari sebelum tanam dan diaplikasikan saat olah tanah pertama dikarenakan rock phospat ini membutuhkan waktu agak lama untuk tersedia bagi tanaman. Baru kemudian aplikasi dolomit serta pupuk kandang pada pengolahan tanah kedua. Sistem zigzag digunakan untuk menambah populasi namun masih ada jarak yang cukup untuk jagung tumbuh dengan sempurna. Pemupukan berimbang dengan urea 450 kg/ha serta KCL 100 kg/ha mampu membuat performa jagung dengan daun hijau dan tanaman yang tinggi. Selain itu bobot isi jagung akan bertambah dengan penyusutan yang tidak terlalu banyak. Pemilihan varietas hibrida dengan umur pendek bisa dipilih sesuai dengan karakteristik lahan yang ada di lapangan. Namun yang tidak kalah penting nya lagi, pengelolaan hama terpadu tidak bisa ditinggalkan karena jika terjadi serangan, jika tidak diantisipasi, maka gagal panen pun bisa saja terjadi.

Budiono, petani kooperator kegiatan demplot jagung Balai Penelitian Tanah (Balittanah) mengaku sangat puas dengan hasil yang diperolehnya. Hasil panen yang didapatnya dengan menerapkan panca kelola lahan mencapai rerata 20,2 ton/ha (berat panen) dengan penyusutan 20% atau angka riil nya hanya kisaran 11% - 15% saja.  Jika dikonversikan ke dalam pipilan kering, produktivitas jagung dengan sistem ini adalah 17,17 - 17,98 ton/ha. Berat panen 1 tongkol jagung tanpa klobot mencapai 0,34 kg. Raja jagung yang sudah lama bergelut dengan jagung ini mengatakan bahwa hasil paling banyak yang diperolehnya sebelum mengenal panca kelola lahan, maksimum 14-15 ton/ha (berat panen), dengan rerata sekitar 10 - 12 ton/ha saja (berat panen) mengalami penyusutan > 20% bahkan hingga 30%. Jika dikonversi ke dalam berat pipilan kering maka produktivitas maksimum hanya 9,8 12 ton/ha.

Mengapa bisa terjadi demikian? Begini penjelasan bapak 2 anak ini. Berdasarkan pengalaman beliau bertani jagung selama ini, dahulu orang memanen jagung umur fisiologis 100 hari dan dikeringkan dengan cara dijemur selama 7 hari. Panen jagung disaat kondisi kadar airnya masih tinggi, ketika dalam bentuk pipilan kering penyusutan berat nya akan banyak. Oleh karena itu, untuk memperkecil penyusutan panen dilakukan saat jagung berumur 110-115 hari dengan kata lain jagung sudah mengalami proses pengeringan di lahan sebelum dipanen. Menurut Budiono, jumlah produksi yang bertambah hampir sebesar hasil sebelumnya, maka secara ekonomi pun pendapatannya meningkat drastis hingga memperoleh 200% dibandingkan pendapatan dengan penerapan teknologi sebelumnya. Jika modal kembali itu dikatakan pendapatannya adalah 100%, sehingga dalam hal ini beliau mendapatkan keuntungan 100% lagi (total menjadi 200%). Pesan Sang Pengusaha Jagung saat mengakhiri obrolan ini adalah “Jagung itu harus diperlakukan sebaik-baiknya. Tidak boleh sembarangan atau asal-asalan saja untuk merawatnya. Karena tidak ada yang sia-sia baik itu usaha, keringat, lelah yang dirasakan saat bertanam jagung karena semua itu adalah rezeki” pungkasnya. Lihat hasilnya, sungguh memuaskan.(Vika Mayasari, STvikamaya.balittra@gmail.com)