JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Menjadi Andalan Tambahan Pendapatan bagi Petani Rawa

 Itik Alabio

Menjadi Andalan Tambahan Pendapatan bagi Petani Rawa

 

 

Dalam kegiatan penelitian Sistem Usaha Pertaniian (SUP) Inovatif di Lahan Rawa Lebak 2018 salah satu komponen yang diintegrasikan dalam SUP adalah Itik Alabio (Anas Platyrynchos Borneo). Usaha pertanian (SUP) yang berbasis padi memerlukan komponen kegiatan tambahan bagi petani agar pendapatan petani dapat lebih besar. Oleh karena beberapa hasil penelitian dan pengkajian menunjukkan apabila petani hanya mengandalkan pendapatan dari hasil usaha tani padi saja, maka pendapatan yang diperoleh petani sangat minim. Dengan demikian, maka untuk menambah gairah petani di lahan rawa perlu ditambahkan komponen usaha lainnya diluar tani seperti memelihara ternak sapi,  ayam, itik, atau  atau ikan seperti lele, patin atau sejenisnya.

 

SUP Inovatif merupakan solusi pengembangan pertanian di lahan rawa. Adanya komponen itik  dalam SUP Inovatif diharapkan pendapatan dan penghasilan petani dapat meningkat sehingga menjadi lebih sejahtera. Itik Alabio ini mempunyai keunggulan dalam produksi telor dapat mencapai 220-250 butir/tahun lebih banyak dibandingkan itik sejenis lainnya dengan berat rata-rata 60 gram, masa produksi sekitar 10,5 bulan. Cara budidaya itik  Alabio ini dibedakan, yaitu  cara ekstensif, cara intensif, dan campuran atau semi intensif.

 

Cara ekstensif merupakan cara lama (tradisionadicirikan oleh jumlah itik yang dipelihara terbatas, tidak memperhatikan nisbah (ratio) antara jantan dan betina, perawatan alakadarnya, kandang sederhana, menu makanan tidak tentu hanya sewaktu-waktu diberi makan, mencari makan sendiri berkeliaran di rawa. Salah satu cara pemeliharaan tradisional  ini dikenal dengan  sistem lanting yang masih banyak dilakukan dan merupakan kearifan lokal di rawa lebak. Kandang dibuat dari bambu atau kayu galam dengan ukuran sesuai dengan jumlah itik yang dipelihara dibangun di atas air  (rawa).

 

 

 

Umumnya daya tampung satu lanting berkisar antara 500-1000 ekor. Untuk ukuran kandang (itik dewasa) 100 ekor diperlukan luas lantai kandang sekitar 18 m2  (3 m x 6 m). Setiap hari itik dilepas untuk mencari makan seperti ikan-ikan kecil, anak kodok, udang kecil, siput dan lainnya yang tersedia perairan rawa, tetapi juga disediakan pakan tambahan berupa ubi, sagu atau dedak untuk mengundang agar itik kembali k keandang. Apabila di kawasan pemeliharaan sudah tidak tersedia lagi pakan yang cukup, maka kandang lanting beserta kawanan itik tersebut di atas dapat dipindah ke tempat yang masih kaya untuk  menyediakan pakan bagi itik tersebut.

 

Cara  intensif  adalah cara pemeliharaan yang terkendali sepenuhnya itik  hidup dikandang dengan ransum makan yang disediakan sepenuhnya. Dengan demikian pengawasan dapat  lebih mudah, tidak tergantung pada musim, produksi dapat  tinggi,  kotoran  dapat dimanfaatkan misalnya untuk pupuk. Dibandingkan dengan cara  ekstensif  biaya produksi lebih tinggi, tetapi  dengan hasil produksi yang tinggi, peternak masih dapat meraih keuntungan apabila dilakukan dengan baik dan sungguh-sungguh. Pilihan cara pemeliharan sangat tergantung pada kemampuan petani/peternak.Cara semi intensif  yaitu sistem pemeliharaan tradisonal  seperti sistem lanting, tetapi prinsif-prinsif  modern tetap dijadikan acuan. Dalam sistem ini, apabila persediaan pakan dari perairan rawa mulai  kurang  tersedia, maka  untuk ransum peternak perlu menambahkan makanan protein hewani yang umum tersedia di perairan rawa seperti ikan-ikan kecil, siput, gondang, udang kecil. Kondisi lanting tetap dipertahankan dan pelepasan itik di siang hari tetap dipertahankan seperti pada sistem tradisional.

 

Dengan cara pemeliharaan semi intensif ini produksi telur dapat mencapai rata-rata 200 butir/ekor/tahun lebih tinggi daripada sistem lanting tradisonal yang hanya menghasilkan produksi sekitar 180 butir/ekor/tahun.=Dalam pengembangan itik Alabio ini, selain perbaikan perawatan dan pakan juga perlu dalam hal pengembangan cara reproduksi (pengembangbiakan) misal dengan inseminasi buatan yang masih belum banyak dilakukan.  Analisis ekonomi usaha tani itik Alabio pada sepuluh tahun lalu (2007) menunjukkan dari usaha  sebanyak 300 ekor itik Alabio mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 33,75 juta dengan biaya budidaya perawatan Rp. 26,37 juta. Keuntungan yang dapat diraih selama pemeliharaan 6 bulan dengan skala usaha 300 ekor adalah Rp. 7.377.500,00 dengan R/C ratio 1,28 yang berarti masih layak diusahakan . Hasil survei terbaru (2018) di Desa Hambuku Hulu, Kecamatan Sungai Pandan, Kab. Hulu Sungai Utara menunjukkan usaha ternak itik Alabio dengan populasi 500 ekor selama setahun memberikan keuntungan sebesar Rp 101.772.500. Dengan pendapatan total Rp 210.400.00; biaya total Rp. 102.627.500 dengan R/C 1,94 (Rina, 2018). Pendapatan petani yang diperoleh dari usaha itik ini cukup dari memadai sehingga patut menjadi andalan petani.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)