JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Membangun Pertanian Modern Masa Depan

DISKUSI ANJAK

Membangun Pertanian Modern Masa Depan

 

 

 

Melalui Surat Nomeor: B.350/RC.010/H-1/01/2019 tertanggal 30 Januari 2019, Sekretaris Badan Litbang Pertanian menugaskan kepada para Peneliti Utama lingkup Badan Litbang Pertanian melalui Kepala Unit Kerja (UK) dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk menyiapkan tulisan review hasil kajian tentang potensi dan peluang untuk membangun pertanian modern. Tulisan yang sifatnya lintas disiplin tersebut akan dirangkai menjadi sebuah buku khusus pada tahun 2019 ini dengan judul  Membangun Pertanian Modern Masa Depan yang Menyejahterakan Petani

 

Dalam menindak lanjuti tugas diatas Tim Peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) atas persetujuan Kepala UPT, para Peneliti Utama BALITTRA melakukan diskusi terbatas pada hari Kamis dan Jumat, tanggal  21 dan 22 Februari 2019 lalu di Kota Barabai,  yang berjarak 141 km atau membutuhkan waktu perjalanan sekitar 4 jam dari Kota Banjarbaru.  Kegiatan tersebut sekaligus dalam rangka kegiatan Upsus Pajale. Diskusi berlangsung cukup intensif dan efektif untuk pertama menentukan judul atau tema dan kedua menyusun point-pint atau kisi-kisi yang akan digali dan dikembangkan untuk bahan tulisan tersebut dalam rangka mendukung pengembangan lahan rawa sekaligus mengapresiasi judul utama diatas.=Hasil diskusi tim peneliti utma diatas sepakat untuk menyiapkan empat naskah analisis kebijakan (anjak) yang ditulis masing-masing  judul untuk 2 atau 3 orang peneliti lintas disiplin. Pointer dari masing-masing judul telah disusun secara sekilas dengan sistematika umum dimulai dengan Bab 1. pendahuluan/latar belakang, Bab 2. kondisi aktual, Bab 3. permasalahan dan Bab  4 rekomendasi, serta Bab 5 penutup, apabila diperlukan.

 

Judul pertama Membangun Kepercayaan Petani di Lahan Rawa untuk Menuju Pertanian Modern yang rencana disiapkan oleh Profesor Muhammad Noor dan Yanti Rina. Latar belakang dari tulisan ini terkait dengan kegiatan optimalisasi lahan yang sekarang berlangsung, terutama di lahan rawa Desa Tajau Landung, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Respon petani dalam kegiatan di Tajau Landung ini menunjukkan sangat rendah dan tingkat partisipasi petani dalam kegiatan menunjukan sangat lemah sehingga terkesan petani tidak berkeinginan untuk maju. Judul kedua Memperkuat Efektifitas Dukungan Sarana dan Prasarana (Sapras) Menuju Pertanian Modern di Lahan Rawa disiapkan oleh Mukhlis dan dan Sudirman Umar.  Tulisan ini di latar belakangi dengan kondisi lapangan terkait dengan bantuan alat-alat dan mesin pertanian (alsintan) yang diluncurkan pemerintah pusat ke daerah kabupaten/kota yang tampak menunjukkan tidak optimal penggunaannya, Pemerintah daerah terkesan tidak siap untuk mengimplementasikan kebijakan pusat tersebut, khususnya dalam membantu operasional alat-alat tersebut. Sementara petani sendiri, tidak mempunyai kapasitas dan kemampuan finansiel  untuk memanfaatkan bantuan pusat tersebut secara mandiri ataupun berkelompok.

 

Judul ketiga Problematika Peningkatan Intensitas Pertanaman (IP) di Lahan Rawa: Kasus Desa Tajau Landung disusun oleh Khairil Anwar dan R. Smith Simatupang. Tulisan ini dilatarbelakangi perkembangan optimalisasi pertanian di Tajau Landung, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dalam pelaksanaan demplot yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian untuk menerapkan IP 200 dari awalnya hanya IP 100. Dalam kasus ini, banyak hal yang muncul terkait dengan implementasi peningkatan IP diatas baik dari segi teknis maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat petani setempat.Judul keempat Optimalisasi Sinergitas Kebijakan Pusat dan Daerah dalam Mendukung Program Pengembangan Rawa disusun oleh Profesor Masganti, Syaiful Asikin, dan Muhammmad Saleh. Judul ini muncul sebagai inspirasi melihat kenyataan belum sinkron dan sinerginya antar kebijakan pusat dan daerah sehingga eksekusi terhadap masalah-masalah yang muncul di lapangan saling menunggu sehingga terkesan belum mantapnya perencanaan dan pelaksanaan tugas.

 

Judul-judul diatas mencoba memotret kenyataan dan harapan dalam banyak hal sering bertentangan. Demikian juga dalam pengembangan lahan rawa selama ini. Beda persepsi dan tafsir atas kebijakan menjadi kendala di lapangan sekaligus penghalang keberhasilan. Munculnya dinamika dalam kegiatan pengembangan lahan rawa ini diharapkan tentunya tidak menjadikan pada pelaksana pembangunan menjadi putus asa atau pesimis justru bisa dijadikan pendorong untuk bangkit. Harapan menjadi rawa sebagai lumbung pangan nasional dan pemasok lumbung pangan dunia nantinya menjadi kenyataan. Amiien Allahuma Aamien.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad Noor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)