JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Fenomena Gambut Berdasarkan Hasil Analisis Laboratorium

Kuliah Umum Prof. Dr. Ir. Azwar Maas, M.Sc. di Balittra

Fenomena Gambut Berdasarkan Hasil Analisis Laboratorium

 

 

Kuliah umum adalah media bagi para fungsional peneliti dan teknis dalam menerima atau memperoleh ilmu pengetahuan atau penemuan terbaru dengan pihak tertentu, diantaranya perguruan tertinggi. Dalam hal ini peneliti Balittra, berkesempatan mendengarkan kuliah umum dan diskusi dengan pakar rawa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kebetulan sedang berada di Kalimantan Selatan, yaitu Prof. Dr. Ir. H. Azwar Maas, M.Sc. dosen senior dan guru besar pada Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kuliah umum dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 22 Mei lalu. Azwar Maas merupakan dosen yang sejak S1 sampai S3 mengambil bidang kajian tentang rawa. Disertasi beliau mengemukakan tentang tanah sulfat masam di Unievrsitas Wageningen, Belanda dengan judul Properties, Classification, and Management of Acid Sulphate Soils from South Kalimantan, Indonesia, tahun 1989. Kuliah umum dibuka dan dipandu oleh Kepala Balittra, Ir. Hendri Sosiawan, CESA.

Kuliah umum dikhadiri sekitar 30 peneliti dan teknisi laboratorium BALITTRA. Beberapa peneliti Balittra merupakan mahasiswa bimbingan beliau pada Program Pasca Sarjana UGM Strata 2 dan Strata 3. Selama ini beliau juga sering diminta sebagai nara sumber atau pengarah dalam diskusi tentang rawa oleh Balittra. Bahkan beberapa buku yang diterbitkan oleh Balittra sebagai lembaga atau personal peneliti disunting atau diberi pengantar oleh beliau antara lain Buku Bunga Rampai hasil Pekan Pertanian Rawa Nasional (PPRN) I tahun 2011 yang berjudul Lahan Gambut: Pemanfaaatan dan Pengembangannya untuk Pertanian diterbitkan/cetak oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta (Noor et al, 2013) dan Kebakaran Lahan Gambut: Dari Asap sampai Kanalisasi yang diterbitkan Gadjah Mada University (GMU) Press (Noor, 2018).

Dalam kuliah umum yang berjudul Tata Cara Analisis dan Interpretasi Tanah Gambut, Prof Maas mengemukakan tentang karakteristik dan beberapa fonomena tanah gambut di lapangan dan hasil analisis laboratorium. Ditegaskan bahwa metode analisis tanah gambut yang digunakan sekarang kebanyakan adalah metode untuk tanah mineral sehingga perlu beberapa hasil yang dikoreksi berkenaan dengan sifat gambut yang berbeda dengan tanah mineral, antara lain (1) penyiapan contoh tanah untuk analisis tanah gambut tidak perlu sampai kering angin seperti tanah mineral untuk menghindari dekomposisi; (2) pengekstrakan contohh tanah tidak cocok dengan ekstrak 1 N (normalitas) akan menghancurkan bentuk jaringan dari gambut; (3) penggojokan (shaking up) tidak perlu menggunakan kecepatan tinggi; (3) kerapatan lindak (bulk density) dari tanah gambut jauh berbeda lebih rendah dengan tanah mineral, sehingga hasil analisis perlu faktor koreksi. Fenomena hasil analisis menunjukkan anomali antara laboratorium dengan keragaan tanaman seperti Kapasitas Tukar Kation (KTK) pada tanah gambut berksiar antara 100-200 me/100 g tanah, yang jarang dicapai setinggi ini pada tanah mineral, tetapi di lapangan tidak menunjukkan kondisi tanaman yang baik.  Padahal pada tanah mineral nilai KTK berkisar 25-50 me/100 g tanah sering dinilai sebagai kondisi optimum bagi tanaman budidaya. Demikian juga sering didapati hasil analisis P yang cukup tinggi di tanah gambut, tetapi kondisi tanaman menunjukkan kahan (defisinesi P). Ke depan diharapkan Balittra menjadi penggagas sekaligus sumber utama dalam metode analisis di tanah gambut ini. Balittra diharapkan dapat merancang atau menyusun tentang Pedoman Khusus: Metode Analisis Tanah Gambut untuk mengganti metode analisis sekarang yang menggunakan cara-cara umumnya untuk tanah mineral.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad N oor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)