JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sistem Reklamasi Daerah Rawa

KULIAH UMUM

“Sistem Reklamasi Daerah Rawa untuk Pertanian

Dari Kearifan Lokal sampai Inovasi Teknologi”

 

 

 

Kebiijakan yang perlu didukung dari Pendidikan Tinggi Politeknik Banjarmasin bahwa setiap mata kuliah diwajibkan mengadakan kuliah umum sebagai tambahan untuk memperkaya mahasiswa pada bidangnya. Dalam kesempatan diatas kepercayaan diberikan kepada peneliti Balittra sebagai nara sumber tunggal, yang sesuai bidang keahliannya dipercayakan kepada Prof. Dr. Ir. Muhammad Noor, MS. Topik kuliah umum yang disampaikan tentang Sistem Reklamasi Daerah Rawa untuk Pertanian : Dari Kearifan Lokal sampai Inovasi Teknologi. Kuliah umum diselenggarakan di Kampus Politeknik, Kompleks Kayu Tangi Banjarmasin pada hari Kamis, tanggal 27 Juni 2019 yang lalu.

 

 

Kuliah umum dikhadiri sekitar 50 mahasiswa dan dosen dari Diploma 4 (D4) Program Studi Teknik Bangunan Rawa, Politeknis Banjarmasin satu-satunya Program Studi yang mempunyai D4, yang yang sebagian besar khadir mahasiswa Semeter 2, 4 dan 6. Selain itu juga khadir dari D3 Program Studi Teknik Sipil Semester 6. Kuliah umum dibuka oleh Bapak H. Muhammad HUmaidi, ST sebagai Ketua Jurusan Sipil, Poliban dan dikhadiri Ketua Proram Studi Teknik Bangunan Rawa, Fakhrurazi, ST. Dalam kuliah umum diatas dikemukakan tentang beberapa hal terkait sistem pertanian tradisional yang dikenal sebutan istilah kearifan lokal seperti sistem banjaris dalam pertanian yang disebut tajak-puntal-hambur (talipuntar), sistem handil yaitu cara mengairi sawah daerah rawa, sistem tabat cara menahan air. Kearifan lokal merupakan kekayaan masa lalu yang dapat menjadi insrpirasi dalam pengembangan teknologi. Dalam diskusi muncul beberapa pertanyaan yang penting untuk dicatat yaitu tentang (1) Bagaimana mengatasi pengairan rawa agar dapat berkelanjutan, dan (2) Bagaimana meningkatan produksi lahan rawa sehingga dapat mensejahterakan petaninya ?

 

 

 

Pertanyaan-sekitar pengelolaan lahan rawa dan pertanian yang dikembangkan di lahan rawa memang menarik dan jawaban tentu tidak selalu memuaskan. Hal ini boleh jadi akan terjawab, apabila mahasiswa terjun ke lapangan langsung bergaul dengan petani. Dalam penjelasannya nara sumber menyatakan bahwa pengelolaan harus menganut prinsif perlunya upaya untuk menghindari terjadi kerusakan lahan yang upaya rehabiliatsinya memerlukan waktu, tenaga dan anggaran yang lebih besar dibandingkan perbaikan kembali pasca kerusakan. Bravo Poliban, Bravo Rawa !!!(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad N oor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)