JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Managemen Air Daerah Rawa untuk Pertanian

DISKUSI ANJAK KEMENTAN

Managemen Air Daerah Rawa untuk Pertanian

  

Diskusi Analisis Kebijjakan (ANJAK) tentang Managemen Air dalam rangka peningkatan produksi pertanian, khususnya beras secara rutin dilaksanakan Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembanagn Pertanian di Kantor Badan Litbang Pertanian Ragunan Pasar Minggu Jakarta yang dipimpinan oleh Prof. Dr. Ir. Effendi Pasandaran. Pada hari Kamis, tanggal 18 Juli yang lalu, penulis diundang untuk menyampaikan makalah anjaknya yang berjudul “Managemen Air Berbasis Mini-Polder Mendukung Pertanian Korporasi di Lahan Rawa”. Bahan tayang dan makalah yang telah disiapkan atau disusun bersama-sama dengan Dr. Nono Sutrisno (Peneliti Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi) dan dan Ir. Hendri Sosiawan, CESA (Peneliti dan Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa).=Dalam diskusi ANJAK tersebut diatas khadir Dr. Ir. Rusman Heriawan; Dr. Nono Sutrisno: Dr. Arief Suraahman, Dr. Sri asih Rohmani, Ir. Suherman, Ari Safari, dan Farida Istiana serta Prof.Dr. Effendi Pasandaran. Diskusi dibuka dan dipimpin oleh Prof. Effendi yang selanjutnya penulis dimintakan untuk mempresentasikan bahan tayang terkait dengan judul yang disajikan diatas terkait dengan managemen air daerah rawa. 

Diskuisi berjalan santai, tetapi serius disela-sela humor peserta diskusi mengerjitkan kening. Diskusi berlangsung panjang dari jam 09.00 pagi sampai hampir jam 13.00 wib. Banyak hal yang diungkapkan, terutama oleh Prof. Effendi Pasandaran terkait dengan sejarah rawa yang belum banyak diketahui orang. Misalnya siapa dan bagaimana kiprah Ir H.J. Schophuys, seorang ahli pertanian dan lingkungan Belanda yang bekerja sebagai pejabat di Kalimantan semasa penjajahan hingga kemerdekaan, merupakan orang yang sangat berjasa dalam pengembangan rawa di Indonesia, khususnya Kalimantan kiranya perlu diberikan penghargaan oleh pemerintah kataProf. Effendi dalam diskusi. Diceritakan bagaimana Presiden Soekarno memberikan apresiasinya sehingga setiap melihat/bertemu dengan Schophyuis selalu bilang “Kalimantan!!”, “Polder!!”,. Hal ini menunjukkan bahwa Presiden Soekarno sangat menghargai gagasan Schophuys tentang polder. Kemudian diceritakan juga oleh Prof. Effendi siapa dan bagaimana kiprah Ir. Pangeran Mohammad Noor, yang merupakan orang Kalimantan (Banjar) yang masa itu tahun 1956-1959 menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum ?. Diceritakan oleh Prof. Effendi.. tentang Presiden Ir. Soekarno, yang wajahnya merah waktu dikritik oleh Ir. Pangeran Mohammad Noor dalam sidang atau pertemuan resmi. Presiden Soekarno waktu itu mengajukan gagasan untuk membangun kanal panjang yang membelah pulau Jawa dari Timur ke Barat, tetapi menghubungkan antara wilayah satu dengan lainnya melalui kanal tersebut, tetapi ditolak oleh Menetri PU Paneran Mohammad Noor waktu itu. Penolakan itu diterima oleh Presiden Soekarno. Kejadian yang digambarkan oleh Prof. Effendi bagaimana Soekarno bersikap sebagai seorang demokrat. Pangeran Mohammad Noor tetap sebagai Menteri. Andai kejadian ini berlangsung jaman sekarang, maka mungkin Pangeran Mohammad Noor sudah dipecat atau diturunkan dari jabatannya. 

Dalam diskusi diatas, Dr. Rusman Heriawan juga memberikan komentar berupa catatan sebuah pertanyaan “menggelitik”, bahwa kalau selama ini daerah rawa sudah lama dibangun dengan ketersediaan teknologi yang sudah cukup, tetapi kenapa tampak rawa seperti-itu itu saja berkembang sangat lambat dan tidak bersifat significant, sejauh mana implementasi di lapangan yang terjadi ?. Jawaban pertanyaan tersebut banyak aspek antara lain (1) kurangnya kapasitas dan partisipasi petani, (2) belum munculnya gerakan massal, keterpaduan baik antara sektor maupun antara sub-sektor dalam sektor pertanian misalnya. Hal pertama berkaitan dengan masalah sosial ekonomi, budaya bahkan antropologi terkait dengan kultur budaya perlu diungkap. Kedua berkaitan dengan hubungan antar sektor yang menunjukkan belum terpadu secara mesra. 

Kalau secara teknis, termasuk inftastruktur yang telah diberikan pemerintah, termasuk alat dan mesin pertanian seperti traktor, alat tanam, alat panen (combine harvester) besar-besaran telah didrop ke petani, tetapi ada pelaporan yang menyatakan mangkrak?. Hal ini menunjukkan bahwa kajian-kajian yang bersifat people development sangat diperlukan. Komentar dan tanggapan lainnya dari Dr. Nono, Dr. Arif, Dr. Asih, Ir. Suherman, dan Sdr Ari menyangkut kaitan judul dengan era revolusi industri 4.0 belum terlihat dalam penyajian. Perbaikan makalah telah disepakati berdasarkan saran-saran dan masukan dari tim evaluator untuk menyempurnakan makalah anjak tersebut.(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad N oor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)