JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

TATA KELOLA INFRASTRUKTUR PERTANIAN II

Focus Group Discussion

TATA KELOLA INFRASTRUKTUR PERTANIAN II

Mendukung Program #Serasi

 

 

FGD Tata Kelola Infrastruktur Pertanian II ini dilaksanakan pada hari Rabu, 22 Juli 2019 yang lalu di Banjarbaru tepatnya Aula Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA). FGD tentang infrastruktur pertanian mendukung kegiatan Program #Serasi mempunyai kedudukan penting dalam konteks memberikan masukan saat penyiapan dan pelaksanaan sekarang yang sedang berlangsung. Program #Serasi menjadi salah satu tumpuan dalam produksi pangan di masa depan, sehingga harus di lakukan secara terpadu dan menyentuh semua aspek terkait, baik teknis maupun kelembagaan yang berdasarkan riset dan kajian yang matang serta mengedepankan edukasi untuk merubah perilaku (mindset) petani dan kearifan lokal (local wisdom) sebagai salah satu sumber inovasi.

 

Peserta FGD terdiri dari pejabat, peneliti, penyuluh, dan pengamat serta media massa. FGD bertujuan untuk: (1) Merumuskan strategi pengelolaan lahan rawa; dan (2) Melihat progress pelaksanaan dan menyusun langkah-langkah ke depan Program #Serasi. Acara dibuka oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Pertanian dengan peserta sekitar 80 orang berasal dari Kementan (Balitbangtan, Ditjen PSP, Badan SDM Pertanian, Setjen, Staf Ahli, dan Tenaga Ahli), Kemen. PUPR, Univ. Lambung Mangkurat, Dinas TPH Provinsi Kalsel, dan Dinas Pertanian Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yang terlibat dalam Program #SERASI.

 

  

 

FGD menghadirkan Keynote speech disampaikan oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian bidang Infrastruktur Pertanian Prof. Dr. Budi Indra Setiawan dengan topik “Tata Air Lahan Rawa: Sistem Garpu, Sistem Sisir, Mini Polder dan Swamp Bulldozer”. Juga menampilkan 7 nara sumber dari berbagai bidang ahli antara lain, hidrologi, tanah, agronomi, sosial ekonomi terkait penyuluhan, dan kelembagaan. Prof. Dr. Dedi Nursyamsi selaku Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pertanian yang menginisiasi FGD diatas menyampaikan bahwa kunci utama dalam pengelolaan lahan rawa adalah (1) pembenahan infrastruktur air dan lahan; (2) implementasi inovasi teknologi pertanian lahan rawa; dan (3) pembinaan dan pembimbingan tehadap sumberdaya petani. FGD menghasilkan 16 butir rumusan diantaranya yang utama adalah:

  • Pembenahan tata kelola air memegang peranan penting dalam mengelola lahan rawa melalui Inovasi teknologi pengelolaan air mini-polder sebagai pilihan untuk dapat meningkatkan produktivitas lahan, intensitas tanam, diversifikasi, integrasi tanaman-ternak-ikan, dan peningkatan pendapatan petani.
  • Program #Serasi yang menargetkan optimasi lahan rawa seluas 500.000 ha baru dapat direalisasikan hanya sekitar 330.000 ha meliputi 120.000 ha di Kalsel, 200.000 ha di Sumsel, dan 10.000 ha di Sulsel dengan kondisi sekarang baru 10% yang terealisasi sehingga perlu percepatan melalui kegiatan antara lain : (1) finalisasi penyusunan SID; (2) penyelesaian pemberkasan awal untuk pencairan anggaran; (3) pelaksanaan pekerjaan fisik secara terpadu; penyelesaian kelengkapan administrasi untuk proses pertanggungjawaban dan pencairan anggaran tahap II; (4) pengawalan kegiatan dari TNI, TP4P, Penyuluh dan Detasering Petugas Kementan di setiap Desa/Lokasi Kegiatan; dan (5) konsultasi berkala dan intensif antara Poktan-Dinas Provinsi/Kabupaten-Pusat untuk penyelesaian kendala kegiatan.
  • Dukungan Pemerintah Daerah diperlukan dengan pemecahan kendala yang dihadapi sekarang, yaitu (1) pelatihan agar ketersediaan SDM mumpuni; (2) pengadaan excavator sehingga dapat menghambat percepatan pelaksanaan kegiatan, (3) penyuluhan dan pendampingan melipui banyak hal (i) sosialisasi ke poktan/gapoktan, (ii) penyusunan CPCL, (3) survey investigasi design, (iii) mendampingi kelompok dalam pembentukan UPKK, (iv) memfasilitasi kelompok UPKK untuk membuka rekening, pemberkasan, pelatihan tematik, (v) pengawalan pencairan dana UPKK & pemanfaatannya, (vi) pendampingan rehabilitasi jaringan irigasi dan lahan, opersional alsin pra & pascapanen, bantuan saprodi, dan pertanian terpadu.

Kiranya masih panjang jalan yang harus ditempuh dan ranjau-ranjau yang di lewati untuk menjadikan lahan rawa sebagai lumbung pangan. Semangat dan bergerat, kata slogan yang harus terus dipegang teguh..(Prof (R). Dr. Ir. Muhammad N oor, MSm_ noor_balittra@yahoo.co.id)