JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

BUKTI BAHWA LAHAN RAWA PASANG SURUT ITU BISA PRODUKTIf

PANEN PADI UNGGUL DAN TEMU LAPANG DI DESA SIDOMULYO

BUKTI BAHWA LAHAN RAWA PASANG SURUT ITU BISA PRODUKTIF

 

 

Lahan Rawa Pasang Surut seperti yang banyak orang ketahui merupakan lahan marjinal dengan produktivitas yang rendah dengan berbagai polemik seperti pH rendah, kadar Fe yang tinggi, intrusi air laut dan masih banyak lagi. Namun semua itu masih bisa diatasi, butuh proses panjang serta dukungan dari pemerintah dan juga antusias petani disekitar lahan rawa pasang surut untuk bisa membuat lahan tersebut menjadi lebih produktif.

 

Bukanlah hal yang mudah untuk membuat petani mau dan mampu untuk bertanam padi unggul. Desa Sidomulyo, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah merupakan contoh salah satu desa yang menjadi binaan Balai Peelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) sejak 3 tahun terakhir. Dan bukan tiba-tiba saja seperti membalikkan tangan untuk bisa bertanam setahun dua kali. Ini adalah tahun ketiga Balittra membina petani disana untuk bisa bertanam padi unggul serta mengadopsi dan mengaplikasikan teknologi Balitbangtan lainnya hingga dapat melaksanakan panen seperti sekarang dengan hasil yang semakin meningkat. Menurut Dr. Wahida Annisa Yusuf selaku PJ Kegiatan penelitian, melalui proses yang panjang dengan mencoba meyakinkan petani bahwa lahan rawa pasang surut mampu ditanami padi setahun 2 kali (IP 200) tentunya dengan kesabaran dan keuletan dari para petani sendiri serta bimbingan dari peneliti-peneliti Balittra. “Bukan hanya padi, tetapi bisa juga dengan kombinasi tanaman pangan lainnya dan juga hortikultura”, demikian pungkasnya. Padi varietas Argo Pawon yang merupakan padi varietas unggul besutan Balitbangtan ini terbukti mampu menghasilkan 6,1 Ton/Ha GKP.

 

     

     

 

Panen dan Temu Lapang yang dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Agustus 2019 ini mengangkat tema “Sosialisasi Teknologi Panca Kelola Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Lahan Rawa Pasang Surut”. Bertempat di lahan milik Sudarmanto dan M. Toha (Total Luasan 8 Ha), di Desa Sidomulyo, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah. Acara dihadiri Kepala Balittra Ir. Hendri Sosiawan, CESA, Kepala BPTP Balitbangtan Kalimantan Tengah Dr. Ir. Fery Fahrudin Munir, MSc, Kapolsek Tamban Catur, Babinsa Tamban Catur, Camat Tamban Catur, Kepala BPK Tamban Catur, Seluruh Kepala Desa lingkup Kecamatan Tamban Catur, Peneliti dan Teknisi Litkayasa Balittra, serta Petani dari Desa Sidomulyo dan Sidorejo. Acara diawali dengan Panen simbolis yang kemudian dilanjutkan dengan panen menggunakan Combine Harvester milik Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas.

 

Dalam sesi diskusi dibagi menjadi tiga tahapan dengan diawali oleh pemaparan dari Kepala Balittra mengenai teknologi panca kelola untuk meningkatkan produktivitas padi, yang kedua adalah metode tanam padi varietas lokal dengan teknologi unggul yang disampaikan oleh M. Toha, dan yang ketiga adalah success story  bertanam padi varietas unggul oleh Sudarmanto. Menurut Ir. Hendri Sosiawan, CESA, kunci utama keberhasilan pertanian di lahan rawa adalah “Pengelolaan Air”. Namun tidak hanya itu saja, masih ada pengelolaan lahan, pemilihan varietas unggul, perhitungan kebutuhan pupuk dan bahan pembenah tanah, serta penanggulangan hama penyakit tanaman. Balitbangtan sudah banyak mengeluarkan varietas padi yang adaptif di lahan rawa (Inpara), beberapa padi irigasi (Inpari) asalkan sudah pernah dibudidayakan sebelumnya di lahan rawa, maka untuk pertanaman selanjutnya sudah bisa dipastikan akan adaptif, dan juga varietas unggul lain seperti Argo Pawon yang sudah dibuktikan dengan hasil produksi panennya.

 

   

 

   

 

 

Yang menjadi harapan petani desa Sidomulyo dan juga desa Sidorejo adalah permasalahan pengelolaan air di ray 1 hingga ray 3 untuk lebih bisa dikendalikan. Terutama di Desa Sidorejo dimana lahan sawah mereka terpengaruh kondisi air yang tidak bisa bergerak, sehingga menyebabkan lahan terendam dan keracunan Fe. Mereka berharap untuk kedepannya pemerintah memberikan perhatian lebih intens lagi untuk mengatasi kegagalan panen yang terjadi akibat pengelolaan air yang belum optimal. Selain itu juga mengharapkan adanya fasilitator untuk kegiatan sosialisasi metode tanam padi varietas lokal dengan teknologi unggul yang sudah dilaksanakan oleh Pak Toha, untuk bisa dicontoh petani lainnya karena terbukti memangkas biaya produksi dan waktu tanam yang lebih pendek.(Vika Mayasari, ST., vikamaya.balittra@gmail.com