JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Lokakarya Internasional Pengembangan Bersama dan Alih Teknologi Padi

Lokakarya Internasional Pengembangan Bersama dan Alih Teknologi Padi

(Implementasi Kerjasama Balitbangtan dengan Malaysia, Filipina, dan Laos)

 

 

Kamis (12/09/2019) bertempat di Hotel Rodhita Banjarmasin, telah dilaksanakan Lokakarya Internasional Pengembangan Bersama dan Alih Teknologi Padi. Menurut Dr. Puji Lestari selaku pelaksana utama kegiatan ini, sebuah proyek multi-negara yang melibatkan organisasi penelitian nasional di Asia Tenggara seperti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik/ BB Biogen (ICABIOGRAD-IAARD) (Indonesia), RRI-MARDI (Malaysia), ARC-NAFRI (Lao PDR) dan PhilRice (Filipina). Proyek ini dimulai pada 2016 dan dijadwalkan berakhir pada 21 Oktober 2019. Lokakarya saat ini menyoroti hasil utama proyek dan berbagi informasi tentang pemanfaatan sumber daya genetik padi. Lembaga ini dipandu oleh ICABIOGRAD dengan tuan rumah bersama Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa/ Balittra (ISARI-IAARD). Acara ini juga akan menandai berakhirnya proyek multi-negara tentang Pengembangan Bersama dan Transfer Teknologi Padi yang didanai oleh Dana Bagi Hasil dari ITPGRFA-FAO. Ada 3 tema yang diangkat pada acara ini, diantaranya adalah :

1. Pemuliaan padi konvensional dan non-konvensional

2. Karakterisasi dan konservasi sumber daya genetik padi

3. Evaluasi sosial-ekonomi varietas padi tradisional atau modern

  

 

Kepala Balittra Ir. Hendri Sosiawan, CESA dalam sambutannya mengatakan bahwa Optimalisasi rawa tidak terlepas dari penggunaan varietas adaptif yang baru ditingkatkan (VUB) beras untuk rawa dikombinasikan dengan teknologi budidaya yang tepat. Menyediakan makanan yang cukup adalah salah satu faktor penentu bagi terwujudnya ketahanan pangan nasional. Nasi adalah makanan pokok di Asia Tenggara. Meskipun bervariasi antar negara, kontribusi beras untuk pemenuhan kebutuhan kalori dalam makanan sehari-hari masyarakat Asia Tenggara masih relatif tinggi. Dengan peran strategis ini, tidak mengherankan bahwa sebagian besar negara di Asia mengalokasikan sumber daya (terutama dana) untuk mendukung pertumbuhan produksi tanaman pangan, terutama beras. Melalui lokakarya ini, upaya untuk memperbarui transfer informasi dan teknologi yang terkait dengan penelitian tanaman padi dapat terjadi. Selain itu juga menurut hendri sangat penting mengitegrasikan kegiatan penelitian berskala internasional dengan kegiatan penelitian dengan domain yang sama dari donor yang berbeda (misalkan FAO dengan IAEA/International Atomic Energy Agency), sehingga harapannya hilirasisai inovasi teknologi akan lebih cepat dan masif, tidak hanya pada skala petak percobaan saja, namun skala demfarm dan hamparan.

 

Pada kesempatan yang sama, Dr. M. Sabran selaku peserta dan juga ilmuwan padi yang terlibat dalam kegiatan ini mengungkapkan bahwa perjanjian internasional tentang Sumber Daya Genetik Tumbuhan untuk Pangan dan Pertanian (ITPGRFA) adalah instrumen yang mengikat secara hukum dengan tujuan untuk mempromosikan konservasi dan penggunaan keanekaragaman tanaman yang berkelanjutan, dan untuk berbagi manfaat yang muncul dari penggunaan SDGTPP dalam suatu cara yang adil, untuk pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan. Pada siklus ketiga permintaan proposal di bawah jendela pengembangan bersama dan teknologi transfer, BSF telah mendanai 22 proyek di seluruh dunia. Salah satu proyek tersebut adalah “Pengembangan bersama dan transfer teknologi beras (Proyek No. W3B-PR-08-Indonesia)”, sebuah proyek multi-negara yang melibatkan organisasi penelitian nasional di Asia Tenggara seperti Pusat Bioteknologi Pertanian dan Genetik Indonesia.

 

 

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si yang semula dijadwalkan hadir untuk membuka acara Lokakarya berhalangan hadir, sehingga diwakilkan dan disampaikan oleh Kepala Balittra sekaligus membuka acara ini. Beliau berpesan “Seperti kita ketahui, mayoritas orang di negara-negara ASEAN bergantung pada beras sebagai makanan pokok mereka. Selain itu, beras juga merupakan sumber pendapatan dan lapangan kerja bagi sejumlah besar masyarakat perkotaan dan pedesaan. Baru-baru ini, Asian Development Bank memproyeksikan konsumsi beras ASEAN akan meningkat. 100,0 juta ton pada 2011 menjadi 111,3 juta ton pada 2021, berarti mencapai pertumbuhan 1% per tahun. Rata-rata konsumsi beras ASEAN per kapita adalah 2,5 kali rata-rata dunia, dan peringkat teratas adalah Bangladesh dengan 171,7 kg / kapita / tahun. Laos, Indonesia, Filipina, dan Malaysia mengonsumsi beras masing-masing sebesar 162,3, 134,6, 119,4 dan 79,9 kg / kapita / tahun. Oleh karena itu, tantangan dalam mencapai kecukupan pangan kita menjadi lebih kompleks. Kita perlu menerapkan sistem makanan yang menawarkan makanan sehat dan bergizi yang dapat diakses oleh semua orang, sambil menjaga sumber daya alam dan keanekaragaman hayati kita. Untuk itu, kita harus mengintegrasikan dan mengoptimalkan banyak aspek dari produksi hingga konsumsi makanan. Dibutuhkan gagasan tentang tindakan implementasi untuk menghasilkan lapangan kerja; memperkuat rantai nilai pangan lokal”.

 

Antusias peserta terlihat saat mengikuti lokakarya. Nampak Dr. Phetmanyseng Xangsayasane, banyak memberikan pertanyaan terkait pertanaman padi di Indonesia khususnya di daerah rawa. Beliau menanyakan tentang bagaimana sistem tata air satu arah diterapkan, serta perbedaan beras lokal Indonesia dengan beras VUB secara kandungan amylose, ukuran, maupun preferensi petani. The Deputy Director of the ARC- NAFRI, Laos PDR ini juga mengungkapkan bahwa permasalahan di Laos sering kali terhambat masalah banjir dan angin topan yang masih menjadi polemic hingga sekarang.=Lokakarya ini dilaksanakan selama 3 hari, dimulai pada Rabu (11/09/2019) hingga Jum’at (13/09/2019). Diawali dengan kunjungan ke demfarm kegiatan di KP Belandean, Tanjung Harapan, Kabupaten Barito Kuala, kemudian lokakarya di Hotel Rodhita Banjarmasin, dan hari terakhir kunjungan ke Pasar Terapung Banjarmasin. Peserta terdiri dari perwakilan dari RRI-MARDI (Malaysia), ARC-NAFRI (Lao PDR) dan PhilRice (Filipina), serta peneliti-peneliti Balittra, BPTP Kalimantan Selatan, BPTP Kalimantan Tengah. Jayalah Terus Pertanian Indonesia. (Vika Mayasari, ST., vikamaya.balittra@gmail.com