JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bentuk Sinergi Pengelolaan Pertanian Terpadu di Lahan Rawa

Panen Ikan di Demfarm Balitbangtan, Bentuk Sinergi Pengelolaan Pertanian Terpadu di Lahan Rawa Mendukung Program #SERASI

 

 

 

Rabu (18/09/2019) di Desa Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan telah dilaksanakan panen ikan di Demfarm Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian. Dalam hal ini Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) yang menjadi penanggung jawab kegiatan budidaya ikan. Panen ikan yang dilakukan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Syukuran Panen Padi di Lokasi #SERASI di Desa Jejangkit Bersama Bapak Gubernur Kalimantan Selatan”. Serangkaian acara mulai dari Tanam Padi, Panen Ikan Lele, hingga Panen Padi.

 

Lahan rawa yang baru dibuka tahun lalu ini bukanlah tanpa kendala untuk mengelolanya. Banyak hal yang dilakukan untuk bisa mengubah lahan yang biasanya menjadi penyumbang kebakaran lahan di Kalimantan Selatan ini menjadi lahan produktif yang bisa menghasilkan. Tata kelola air menjadi kunci utama. Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan Ir. Syamsir Rahman, MS dibutuhkan perencanaan yang matang dalam pengelolaan rawa. Tidak bisa hanya asal-asalan karena itu hanya sia-sia. Dulu jejangkit ini dikatakan tidak mungkin bisa menghasilkan apa-apa selain penghasil asap. Ini merupakan pembuktian bahwa Jejangkit bisa diubah menjadi lahan yang menghasilkan. Kegiatan ini merupakan perpanjangan dari kegiatan Hari Pangan Sedunia, bersama Kementerian Pertanian selama 3 tahun kedepan Jejangkit akan tetap di pantau dan dikelola melalui program #SERASI. Terbukti sekarang ini ada 322 Hektare lahan yang dipanen saat ini hingga 1 bulan kedepan, dengan varietas Inpara 2 besutan Balitbangtan dan pengelolaan pertanian terpadu, beras yang dihasilkan pun memuaskan, karena menurutnya Inpara 2 ini adalah varietas yang cocok ditanam di lahan rawa.

 

 

 

Di kesempatan yang sama, Dr. Wahida Annisa, peneliti dari Balittra yang merupakan Tim Budidaya Ikan mengatakan, ini merupakan kegiatan integrasi pertanian dan perikanan dimana ketika tata kelola air nya sudah bagus, maka kualitas air yang masuk ke lahan pun juga akan bagus. Ikan merupakan indikator pencemaran dan kualitas air di habitat sekitar hidupnya. Jika kualitas air nya tidak bagus, maka ikan-ikan akan mati keracunan. Adapun ikan yang dibudidayakan ini diantaranya adalah Ikan Lele, Ikan Gabus, Ikan Betok (Papuyu) yang merupakan ikan-ikan khas rawa. “Pakan ikan ini tidak sembarangan, bisa dikatakan ini ikan berstandar SNI, aman dikonsumsi karena terjaga asupan gizi ikannya. Ikan lele yang dipanen berumur 3 bulan, dengan berat 1 kg untuk (7-8) ekor ikan lele. Untuk ikan gabus dan papuyu akan dipanen 1-2 bulan lagi”, begitu kata Ibu dua anak ini. Tata air satu arah yang diterapkan di Jejangkit membuat sirkulasi air menjadi baik. Dimana air segar masuk dan keluar melalui pintu air yang berbeda. Selain itu tanah yang masam akan dicuci oleh air segar yang masuk dan dikeluarkan, sehingga meminimalisir terjadinya keracunan besi.

 

Gubernur Kalimantan Selatan Syahbirin Noor terlihat antusias sekali saat panen ikan. Dengan menggunakan kaos dan berbedak dingin, setelah tanam padi Paman Birin langsung menuju lokasi Demfarm Ikan dan langsung menjaring ikan-ikan dengan diawali dengan membacakan sholawat. Dalam sambutannya beliau mengatakan tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. Dengan berbagai upaya yang kuat serta kemauan yang tinggi dan diiringi doa, tidak menutup kemungkinan Kalsel kedepan bisa dijadikan penyangga pangan untuk ibukota baru nanti yang rencananya akan pindah ke Kalimantan Timur. RAWA BISA!!.(Vika Mayasari, ST., vikamaya.balittra@gmail.com