Rabu, 01 Februari 2023

Si Pengintai Sawah

Fokus Upaya Pengendalian “Si Pengintai Sawah”

di Demfarm #SERASI Balitbangtan

 

 

Dalam beberapa tahun ini, para petani Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala dihadapkan dengan masalah rumit yaitu hama tikus. Pemberantasan pengintai sawah ini menjadi polemik karena bukan hanya membunuh padi, jagung, dan perekonomian keluarga, tetapi juga menyebabkan petani meregang nyawa akibat terkena kabel listrik yang mereka pasang untuk membasmi tikus. Fenomena serangan hama tikus selalu menjadi masalah bagi petani dan menjadi momok yang menakutkan karena berdampak terhadap hilangnya gabah setiap musim tanam mencapai 15-20% tiap tahunnya. Serangan hama tikus bisa terjadi pada semua fase, mulai dari persemaian hingga panen. Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah jenis hama pengganggu pertanian utama dan sulit dikendalikan karena tikus itu mampu ”belajar” dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Tikus memiliki indera penciuman yang berkembang dengan baik. Dengan kemampuan ini tikus dapat menandai wilayah pergerakan tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kelompoknya, mendeteksi tikus betina yang sedang estrus (berahi) dan mendeteksi anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan air seni yang dikeluarkan oleh anaknya.

 

 

Saat ini juga Hama tikus masih menjadi ancaman serius dilokasi Demfarm #SERASI, tegas M. Jabir yang merupakan petugas detasering demfarm #SERASI. Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, jalan kereta apai dan daerah perkampungan dekat sawah. Upaya pengendalian hama tikus telah dilakukan dengan memasang Trap Barrier System (TBS) ujarnya. TBS yang dipasang terdiri atas: Pagar plastik untuk mengarahkan hama tikus agar masuk perangkap, berupa plastik yang ditegakkan ajir bambu dan ujung bawahnya terendam air serta Bubu perangkap untuk menangkap hama tikus yang dipasang pada setiap sisi TBS. Bubu perangkap terbuat dari ram kawat berukuran 20 x 20 x 40 cm. Setiap harinya bubu perangkap ini mendapatkan tangkapan tikus sebanyak >10 ekor tikus sawah tandasnya.

 

 

 

Menurut TIM Monev Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)  yang dikomando oleh Dr. Maulia Aries Susanti sebagai Ketua Tim dalam kunjungannya ke lokasi Demfarm #SERASI, memberikan masukan agar pagar plastik yang telah dipasang dirapikan kembali agar tidak ada celah Tikus Sawah dari luar bisa masuk.  Selain itu perlu juga dilakukan cara pengendalian hama tikus lainnya dengan metode pengendalian tradisional yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat, seperti dengan bunyi-bunyian dan grobyokan.  Begitu juga disampaikan oleh Ir. Hendri Sosiawan, CESA, beliau berharap di akhir tahun target kegiatan ini dapat tercapai dan penelitian yang dilakukan benar-benar bermanfaat.

 

Dalam waktu dekat akan diaplikasikan penggunaan teknologi ultrasonik untuk pengendalian hama multi sasaran (burung, belalang, wereng dan tikus) yang ramah lingkungan karena tidak menyebabkan pencemaran. Teknologi suara ultrasonik adalah teknologi dengan memanfaatkan bunyi suara ultrasonik frekuensi tinggi, yaitu 35.000 Hz.  Suara dengan frekuensi tersebut hanya dapat didengar oleh hewan ordo rodentia, termasuk tikus  dan  tidak dapat didengar oleh manusia karena >20.000 Hz. Suara ultrasonik menyebabkan ketidaknyamanan pada tikus. Tikus akan merasa takut, tidak dapat menyesuaikan diri, dan pasti tidak merasa nyaman dengan suara ultrasonik yang ditimbulkan. Alat ini juga menggunakan generator yang dapat mengeluarkan suara ultrasonik yang lebih keras dan berubah-ubah sehingga membuat tikus semakin terganggu. Wahida Annisa Peneliti Madya pada BALITTRA telah mencoba mengaplikasikan teknologi ultrasonik tersebut di Desa Sidomulyo Kecamatan Tamban Catur Kabupaten Kuala Kapuas.

  

 

 

Alat yang digunakan dinamakan Generator ultrasonic yang dipasang di lapangan dan mampu memancarkan suara ke segala penjuru pada luasan 5.000 m2 dan cukup efektif mengusir hama burung dan tikus. Menurutnya untuk areal satu hektare, memerlukan alat paling tidak dua unit. Toha Petani Sidomulyo (50) yang merupakan binaan BALITTRA, mengungkapkan bahwa penggunaan alat ini cukup efektif mengusir hama tikus dan burung di lahannya.  Pada Musim ini hasil panen yang saya dapatkan alhamdulillah mencapai 120 karung gabah ujarnya sambil sumringah tersenyum. (Sumber: Dr. Wahida Annisa, Editor: Vika Mayasari).

 

  

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang