Rabu, 01 Februari 2023

Optimalisasi Long Storage Gandakan Produksi Padi Rawa

 

 

Longstorage merupakan bangunan konservasi air dengan bentuk memanjang pada lahan pertanian yang dibuat untuk menampung air yang berasal dari air hujan dan limpasan aliran permukaan. Pada lahan rawa, longstorage juga mempunyai fungsi untuk menampung luapan air pasang sekaligus sebagai sarana drainase. Optimalisasi longstorage pada lahan rawa pasang surut dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya: Pembuatan sistem tabat konservasi bertingkat pada saluran tersier dengan spesifikasi desain, Sebaran dan jumlah sesuai dengan kondisi dan karakteristik lahan rawa pasang surut, Normalisasi pintu-pintu air pada petakan lahan yang belum berfungsi secara optimal, Pembuatan saluran kuarter pada petakan sawah dan bangunan pelimpas (over flow).

 

Optimalisasi longstorage bertujuan untuk mengendalikan tinggi muka air pada lahan sawah terutama untuk mencegah timbulnya Fe yang terangkat keatas (oksidasi pirit) sekaligus menyediakan cadangan air ketika air surut di musim kemarau dan mengatasi genangan yang tidak terkendali pada saat air pasang di musim hujan. Optimalisasi longstorage yang dilakukan di Desa Tamban Baru Tengah, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas akan mampu merubah lahan rawa “bongkor” (lahan tidur) menjadi lahan produktif dengan potensi indeks pertanaman (IP) 200. Apabila optimalisasi longstorage tersebut dapat dilakukan secara intensif di setiap kabupaten yang mempunyai lahan rawa, tidak mustahil peningkatan indeks pertanaman, peningkatan produktivitas lahan rawa dan penggandaan produksi padi rawa akan dapat dicapai pada waktu yang tidak terlalu lama.

 

Seperti disampaikan oleh Dr. Eni Maftuah, Peneliti Madya Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, masalah utama yang dihadapi di lahan pasang surut bukaan baru di kawasan tersebut adalah tata air belum optimal, dimana air di petakan lahan belum dapat diatur, baik dalam ukuran ruang maupun waktu. Air dari saluran tersier ketika musim hujan masih bisa melampaui tanggul saluran tersier sehingga membanjiri lahan, sedangkan pada Musim Kemarau (MK), air pasang tidak bisa masuk ke petakan lahan dan kualitas air sangat rendah (pH rendah) mengakibatkan pertumbuhan padi terhambat karena kurang air. Masalah lainnya adalah kesuburan tanah sangat rendah sehingga perlu upaya perbaikan tata air dan pemberian bahan pembenah tanah (amelioran). Oleh karena itu disinilah perlunya Teknologi Pengelolaan Air.

 

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) telah melaksanakan demplot seluas 10 ha di lahan pasang surut di desa Tamban Baru Tengah, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, dimana 5 ha merupakan lahan pasang surut bukaan baru dan 5 ha merupakan lahan pasang surut eksisting. Sebelumnya petani di kawasan tersebut masih menerapkan budidaya padi 1 kali setahun (IP 100), sedangkan pada lahan bukaan baru, gagal panen selalu melanda akibat keracunan Fe dan pertumbuhan tanaman padi yang tidak sempurna.

 

Hal baik tersebut disambut dengan antusias oleh para Petani. Ketua Kelompok Tani Berkah Mufakat I dan II, Khamdani dan Ramli mengatakan bahwa mereka berjanji akan terus melakukan 2 kali tanam dalam setahun dengan mengadopsi teknologi yang diperkenalkan oleh Balittra diantaranya : Pengelolaan air, ameliorasi pemupukan dan pemilihan varietas. Bahkan Pak Sukaji menyampaikan sangat senang sekali dengan hasil Padi varietas INPARA 8 milik Balitbangtan, dimana pada saat MK yang lalu dinilai berhasil dengan produksi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Disamping itu petani-petani lainnya semakin banyak yang tertarik untuk bertanam Inpara 8 di lahan mereka.

 

Disisi lain, penelitian di Desa Sidomulyo, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas yang digawangi oleh Dr. Wahida Annisa (Peneliti Madya, Balittra) menghasilkan peningkatan Indeks Pertanaman dari IP 100 menjadi IP 200 serta hasil gabah pada mencapai 108,18% dengan nilai MBCR sebesar 4.8 di tahun 2018. Longstorage dikombinasikan dengan pintu klep dan tabat konservasi, terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi. Lahan pasang surut tipe B ini memang sangat pas diaplikasikan teknologi Tata Air Satu Arah dan Tabat Konservasi (Sistak), dimana saat air pasang masuk, otomatis pintu akan terbuka dan menutup saat air surut, namun air tidak habis begitu saja karena masih tertahan tabat konservasi di saluran kuarter.

 

Koordinasi dan sinergitas antara stakeholder penghasil dan pengguna teknologi terus dilakukan untuk keberhasilan pengembangan inovasi di daerah ini, sehingga pada bulan Agustus tahun 2019 yang lalu telah dilakukan temu lapang untuk mensosialisasikan teknologi panca kelola ditingkat petani dan stakeholder lainnya. Hasil panen yang dicapai adalah 6,1 Ton/Ha GKP. Sudarmanto selaku Ketua Kelompok Tani Sidomakmur 2 menyampaikan terimakasih atas bimbingan dan bantuan dari Balittra hingga saat ini mereka bisa menikmati hasil panen padi unggul setahun 2 kali. “Dahulu biasanya setahun hanya sekali saja bisa panen, sekarang sudah bisa menikmati hasil 2 kali panen ya kami sangat bahagia dan bersyukur”, begitu Petani Milenial ini berucap. (Sumber : Ir. Hendri Sosiawan, CESA., Editor: Vika Mayasari).

 

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang