Rabu, 01 Februari 2023

Panen Raya Padi di Tengah Pandemik pada Demfarm Kegiatan Kostratani di Puntik Dalam

 

Foto (Kiri-Kanan) Panen Padi Inpara 2; Balittra Bersama Dinas Pertanian dan TPH Kabupaten Batola, Penyuluh, Babinsa, dan Petani.

Mandastana (10/08/2020) telah dilaksanakan "Panen Raya" padi Inpara 2 di lokasi Denfarm Kegiatan Supervisi dan Pendampingan Kegiatan Utama Kementerian Pertanian (Kostratani). Acara dihadiri Kepala Balai, Kasi Jaslit serta peneliti dari Balittra, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barito Kuala, Kabid PSP,Kabid Penyuluhan dan staf lainnya, Koordinator PPL, PPL desa Puntik Dalam, Mantri Tani, Kepala Desa Puntik Dalam, Ketua Gapoktan, ketua kelompok tani Sumber Makmur dan anggotanya, ketua kelompok tani Sukajadi dan anggotanya. 

Demfarm ini bertujuan untuk mendiseminasikan Teknologi Panca Kelola Lahan Rawa. Teknologi yang didiseminasikan yaitu varietas unggul Inpara 2, pupuk hayati Biotara, seed treatment Agrimet, jarak tanam legowo 2: dan 4:1, pemupukan dengan takaran sesuai DSS.

Luas lahan demfarm 28 hektar yang dikelola Balittra dan 26,5 hektar yang dikelola Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP). Selain itu yang dilakukan Balittra adalah pendampingan tanam di BPP Mandastana dimana petani masih menggunakan padi lokal tetapi cara tanam menggunakan sistem legowo. 

Nampak sekali semangat dan antusiasme petani dalam melaksanakan Demfarm ini, seperti yang diungkapkan oleh Dr. Yiyi Sulaeman, SP, M.Sc dalam sambutannya. beliau mengatakan kami (Balittra) akan selalu berusaha mendorong  peningkatan produksi padi salah satunya di lokasi Demfarm pada Desa Puntik Dalam ini. Kepala Balittra pun menjelaskan tentang Panca Kelola Lahan yang terdiri atas :

1. Pengelolaan air. Kelompok Petani Pemakai Air (P3A) perlu diaktifkan. Dalam pengelolaan air yang perlu diperhatikan adalah volume, kualitas, pergerakan air. Air yang diam akan mengakumulasi racun-racun yang berbahaya bagi tanaman. 

2. Penyiapan lahan. Penataan lahan sistem surjan, tukungan dan sawah. Penyiapan lahan menggunakan traktor/handtraktor dengan hati-hati agar tidak sampai pada lapisan pirit terangkat.

3. Ameliorasi dan pemupukan. Penggunaan kapur, biotara dan pupuk lainnya sesuai dosis dan waktu pemberian.

4. Varietas unggul yang digunakan adaptif.

5. Proteksi tanaman pengganggu dan organisme pengganggu tanaman. 

Yiyi mengatakan bahwa Balittra hanya memberikan bantuan benih, biotara dan AGRIMET (1,82 ton benih, 1100 kg biotara dan 445 bungkus agrimet, serta untuk periode tanam pada MH 2020/2021 nanti bisa diteruskan sendiri. 

Kepala Dinas Pertanian dan TPH Kabupaten Barito Kuala Ir. Murniati, MP dalam sambutannya mengatakan awal dulu sawah yang ditanami hanya 3.000 Ha saja, sekarang sejak adanya kegiatan SERASI dan Program Balittra, bisa mencapai 27.000 Ha. Terjadi peningkatan yang signifikan untuk padi unggul. Gapoktan/Poktan/Petani serta P3A perlu dibina. Masih ada sekitar 6.000 petani penggarap, jika ada dua kali musim tanam maka akan memberikan pekerjaan kepada petani penggarap. Selain itu bertani adalah pekerjaan mulia, kita menyediakan pangan untuk diri sendiri dan orang lain. Barito Kuala akan menjadi lumbung pangan karena tidak ada sumber lain kecuali pertanian. Luas lahan sawah 100.000 ha termasuk Hak Guna Usaha (HGU),  atau 71.000 Ha  tanpa HGU. Lokasi Barito Kuala terdiri dari lahan salin (Tabunganen), lahan lebak (Kuripan). 

Panen Raya Oktober-Maret (MH 2019/2020) kegiatan Serasi kurang berhasil. Agustus-September biasanya petani menanam padi lokal (482 ha), tetapi sekarang sudah ada yang menanam padi unggul. Hasil petani  untuk sudah panen padi unggul 5,89 ton hasil riil petani bentuk GKP dan ubinan 7,2 ton/ha. 

Pak Aryanto sebagai ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) mengharapkan ada bimbingan tentang tata air dan masalah penjualan. Sehabis panen harus ada yang nampung misalnya BULOG. Combine harvester terbatas apalagi musim hujan petani ingin memanen padinya karena sudah matang. Sedangkan pak Warso, yang sudah menjadi petani sejak kecil dan terbiasa menanam lokal mengatakan bahwa kebiasaan petani rasanya sulit meninggalkan padi lokal. "Kami sudah mecoba bertanam unggul MH 2019/2020 tetapi terserang blas dengan varietas Inpari 33 dan hasilnya 1 ton dibersihkan 0,5 ton yang bersih dan 0,5 ton yang hampa, selain itu harga padi unggul yang rendah  RP.3300-4000 per kg GKG, sementara padi lokal  lebih tinggi", itulah menjadikan alasan petani memilih bertanam lokal.

Masih tetap menjadi PR bersama, untuk bisa lebih meningkatkan kesejahteraan petani serta membuat stok pangan aman di kemudian hari. Mari saling bahu membahu menciptakan ketahanan pangan bangsa ini. (VM)

#RawaBisa, #PetaniKaya, #NegaraJaya, #InovasiUntukNegeri

 

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang