Minggu, 09 Mei 2021

Kopi Talio Hulu (Tahulu), Khas dari Lahan Gambut yang Organik

Desa Talio Hulu, berada pada wilayah  rawa yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut, dengan lahan berbahan dasar gambut.  Dalam perjalan Tim Balittra tanggal 1 April 2021,  ada hal yang menarik ketika   memasuki desa tersebut, dimana dikanan kiri jalan terlihat tanaman kopi yang tumbuh subur secara alamiah, terlihat seperti  tanpa perawatan. Ternyata memang benar. Menurut Bapak Widodo, seorang petani kopi dan sekaligus pengelola home industri “Kopi Taliho” petani didesa ini menanam kopi dilahan pekarangan mereka tanpa perlakuan agronomis apapun, mereka tidak melaksanakan  pengapuran, pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta pemangkasan.  Tanaman terlihat tumbuh baik dengan vigoritas yang tinggi, tanpa terlihat adanya keracunan ataupun kekurangan unsur hara.   Menurut beliau lahan pekarangan yang mereka tanami kopi tersebut terlihat subur dan  gembur dengan banyaknya serasah serasah dari bagian tanaman kopi yang sudah ditanam puluhan tahun yang lalu.  Gulmapun tidak terlihat  di bawah tanaman kopi mereka, hal ini disebabkan karena jarak tanam kopi  yang tidak beraturan, sehingga kanopi daun menutupi bagian bawah dan tidak memberikan kesempatan terhadap gulma unutuk menyerap sinar matahari.  Dan yang sangat menguntung bagi mereka adalah tidak terdapatnya serangan hama dan penyakit tanaman selama ini, sehinggga tidak dilakukan pengendalian secara kimia, berarti kopi yang mereka hasilkan ini bersifat  “organik”.   

Ada dua varietas  yang berkembang di lahan gambut ini,  yaitu Rubusta dan Arabika.  Yang dominan ditanam petani adalah varietas Rubusta. Mereka berangapan, varietas Rubusta berbunga sepanjang tahun, sehingga frekuensi  panen mencapai 4 kali pertahun, sedangkan frekwensi panen varietas arabika Cuma 2 kali setahun.           

Selanjutnya Pak Widodo bertutur,  pemasaran kopi dalam bentuk biji sekarang ini agak  kurang, pedagang pengumpul atau pedagang pasaran tidak menyerap sebanyak dulu lagi yang menyebabkan hasil biji kopi di petani menumpuk.  Untuk mengatasi hal tersebut,  Pak Widodo beserta istri dengan kelompok tani Mawar, menggerakkan home industri pembuatan Kopi bubuk siap saji dalam kemasan yang menarik dengan merek dagang Kopi “Tahulu”.  Kopi ini mempunyai ke khasannya berbahan dasar biji kopi asli, tampa campuran bahan lain.  Dalam sehari, mereka menyangrai dan menggiling sebanyak 20 kg biji, dan bahkan lebih tergantung permintaan. 

Pemasaran kopi  Tahulu, sudah merambah ke ibu kota provinsi Kalteng Palangkaraya.  Mereka berharap semoga lebih berkembang lagi, sampai keluar Kalteng. Selama ini kopi Tahulu juga  di jadikan sebagai oleh oleh khas rawa gambut, yang melanglang buana sampai ke pulau Jawa.  Khususnya bagi tamu-tamu yang datang dan bertugas di desa Talio Hulu (M. Saleh & Mala).

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN

Statistik Website

Hari Ini : 245
Kemarin : 1164
Minggu Ini : 8151
Bulan Ini : 10284
Total : 117486

  • Alamat IP Anda : 3.210.184.142

Sedang Online :

6
Online

Agro
Institusi Litbang