JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pemanfaatan system tata air dalam menentukan Kebutuhan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium untuk tanaman padi pada lahan pasang surut

Pemanfaatan system tata air dalam menentukan Kebutuhan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium untuk tanaman padi pada lahan pasang surut

Kontribusi lahan rawa terhadap produksi padi nasional baru sekitar 7,5 juta ton atau sekitar 12,4%. Kontribusi produksi yang masih rendah tersebut diantaranya disebabkan oleh pemanfaatan lahan yang belum optimal, faktor kimia tanah dan lingkungan, pola tanam juga masih didominasi IP 100, penerapan teknologi di lapang masih terbatas dan digeneralisir.

Pengaturan air sistem satu arah dapat mengurangi akumulasi unsur-unsur yang meracun.   Namun ada  indikasi  penurunan hasil tanaman padi yang disebabkan oleh terjadinya pencucian hara esensial selain pencucian unsur meracun tersebut.  Pada sistem tata air satu arah, bagian yang mengarah masuk ke petakan sawah dilengkapi dengan sistem tabat atau sistem pipa.  Berdasarkan pengamatan dilapangan sistem pipa lebih efektif dalam mengatur air dibandingkan dengan sistem tabat.  Efisiensi penggunaan air ini akan berakibat pada efisiensi penggunaan pupuk, terutama pupuk yang mudah larut.

Penelitian tentang pemupukan untuk tanaman padi di lahan rawa pasang surut mulai banyak dilakukan sejak tahun 1980 antara lain oleh Proyek SWAMPS dan secara  reguler oleh Unit Kerja lingkup Badan Litbang Pertanian, antara lain Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian dengan unit pelaksana teknisnya.  Sebagian besar penelitian sebelumnya masih bersifat  parsial, jarang dihubungkan dengan dinamika hara dalam tanah akibat perubahan sistem tata air yang diterapkan, dan belum dilaksanakan secara terpadu, sehingga penerapannya belum memberikan hasil yang maksimal.

Penelitian dilaksanakan pada lahan rawa pasang surut Desa Bontomatine, Kabupaten Pangkep dan Desa Maros, Kabupaten Maros yang merupakan sentra produksi beras provinsi Sulawesi Selatan pada MT 2012 (Mei-Oktober 2012). Sistem tata air yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem tabat dan pipanisasi. Sistem tabat yang dipakai untuk mengatur air keluar pada saat suru tdan  air masuk pada saat pasang. Berdasarkan data-data status hara tanah disusun perlakuan seperti pada Tabel 1. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Split plot dengan 3 ulangan.  Sebagai petak utama adalah sistem tata air keluar dan masuk petak percobaan yaitu: 1) sistem tabat dan 2) sistem pipanisasi. Sedangkan anak petak terdiri dari delapan kombinasi pemberian pupuk N, P, dan K. Ukuran petak percobaan adalah 10 m x 5 m. Varietas padi yang akan ditanam adalah Impara-5 dengan umur bibit 20-25 hari dan sistem tanam jajar legowo 2:1.

Gambar a dan b. Petakan-petakan percobaan dan pintu air pada sistem tata tabat.

Wilayah rawa pasang surut air asin/payau merupakan bagian dari wilayah rawa pasang surut terdepan, yang berhubungan langsung dengan laut lepas.  Tanah di wilayah ini seluruhnya terbentuk dari endapan marin yang khas dicirikan oleh kandungan mineral besi-sulfida berukuran sangat halus yang disebut pirit.  Profil tanah umumnya menunjukkan tanah bagian atas (20-50 cm) teroksidasi, setengah matang sampai hampir matang, tekstur liat berpasir makin ke wilayah atas berubah menjadi liat berdebu, dan berwarna kelabu sampai coklat.

Hasil penelitian di Maros berbeda dibandingkan dengan di Pangkep, keadaan ini disebabkan kerena perbedaan tekstur tanahnya dimana di Maros tektur tanah adalah liat berdebu.  Kondisi ini menyebabkan sistem pengelolaan air di Maros lebih mudah dikelola dibandingkan dengan di Pangkep yang tekstur tanahnya didominasi oleh pasir.  Akibatnya jumlah anakan tanaman padi di Maros pada perlakuan pipa lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah anakan padi di Pangkep.  Sedangkan pengaruh dosis pemberian pupuk pupuk masih sama yaitu perlakuan D (200 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP-36, dan 100 kg/ha KCl). Jika dihubungkan dengan hasil analisis tanah setelah panen keadaan ini sesuai karena ketersediaan hara N, P, dan K pada perlakuan D lebih tersedia dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Ketersediaan hara N, P, dan K setelah panen pada perlakuan pengelolaan air dengan sistem pipa lebih baik dibandingkan dengan sistem tabat.

Hasil analisis hara N, P, dan K pada air yang masuk dan keluar dari saluran setiap ulangan menunjukkan bahwa kehilangan hara N, P, dan K pada sistem pipa lebih kecil dibandingkan dengan sistem air tabat.  Efisiensi kehilangan hara N, P, dan K akan semakin jelas pada contoh air yang diambil dari tanah bertekstur liat berdebu (Maros).  Hal ini disebabkan karena rembesan air melalui pori tanah pada tanah dengan tekstur liat berdebu lebih mudah dikendalikan dibandingkan dengan tanah liat berpasir.

Hasil padi tertinggi baik di Pangkep (5,35 t/ha GKG) maupun di Maros (4,86 t/ha GKG) diperoleh pada perlakuan D (200 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP-36, dan 100 kg/ha KCl). (M. Saleh)