JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengembangan Kalender Tanam Rawa Terpadu

Pengembangan Kalender Tanam Rawa Terpadu

Kalender Tanam (KATAM) Lahan Rawa merupakan peta yang menggambarkan potensi pola dan waktu tanam tanaman padi  di lahan rawa yang sangat variatif.

Penyusunan  Kalender Tanam Lahan Rawa telah dimulai pada tahun 2011 yang diawali oleh Kalender Tanam Lahan Rawa Pulau Kalimantan, dilanjutkan penyusunan Kalender Tanam Lahan Rawa di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Irian jaya. Peta katam lahan rawa tersebut disusun selain memperhatikan kondisi periode tanam yang dilakukan oleh petani saat ini (eksisting), juga berdasarkan tiga kejadian iklim, yaitu tahun kering (TK), tahun normal (TN), dan tahun basah (TB) yang dikombinasikan dengan tiga kondisi sifat hujan (bawah normal, normal, dan atas normal).

Peta Katam yang dihasilkan selama periode 2011-2012 merupakan Kalender Tanam Lahan Rawa Semi Dinamik, menggunakan tiga skenario iklim La-Nina (basah), El-Nino (kering), dan Normal yang diasumsikan terjadi sepanjang tahun. Karena pada kenyataannya iklim dalam setahun akan berfluktuasi menurut musim bahkan menurut bulan, maka pada 2013akan dilakukan penyusunan Katam Rawa Dinamik yang mempertimbangkan fluktuasi iklim pada selang waktu yang lebih singkat, dan didukung oleh database pertanian lahan rawa, model prediksi hama dan penyakit utama padi di lahan rawa, dan peta karakteristik lahan rawa skala 1:50.000.

Perkembangan hama dan penyakit dipengaruhi oleh faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung, terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan hama dan penyakit. Pemantauan terhadap dinamika serangan hama dan penyakit yang dikaitkan dengan perubahan iklim merupakan upaya yang perlu direalisasikan sebagai upaya antisipasi, untuk masa yang akan datang, sistem peringatan dini (early warning system) perlu dibangun.

Tujuan khusus untuk TA 2013, adalah sebagai berikut: Mendapatkan data/informasi, dan peta kalender tanam lahan rawa dinamik ter-update; Mendapatkan database sumberdaya pertanian lahan rawa; Melakukan validasi model prediksi hama dan penyakit utama padi di lahan rawa.   Dan membuat peta lahan rawa 1:50.000 wilayah pulau Sumatera;

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Desember 2013 di  lahan rawa di Pulau Kalimantan(kegiatan katam rawa, database, dan model prediksi hama penyakit) dan Pulau Sumatera (pemetaan DSM).

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan, yaitu : a.  Advokasi informasi kalender tanam lahan rawa untuk tanaman pangan, dengan sub sub kegiatan sebagai berikut : (1) Pemutakhiran sistem dan data kalender tanam lahan rawa, (2).Pembuatan model integrasi kalender tanam lahan rawa dinamik berdasarkan hasil prediksi iklim terkini, (3). Pemutakhiran rekomendasi dan kebutuhan pupuk, (4). Pemutakhiran rekomendasi varietas dan kebutuhan benih, (5). Mengikuti koordinasi dan sosialisasi sistem kalender tanamanterpadu.  b. Kegiatan Data base sumberdaya pertanian lahan rawa, c. Kegiatan validasi model prediksi serangan hama dan penyakit utama padi di lahan rawa pasang surut, dan d. Kegiatan pemetaan lahan rawa skala 1 : 50.000 pulau Sumatera dengan metode digital soil mapping.

Dari penelitian Pengembangan Sistem Kalender Tanam Lahan Rawa Terpadu di Pulau Kalimantan ini dapat disimpulkan:

A. Advokasi Katam Rawa untuk tanaman pangan

  1. Total luas lahan sawah di Kalimantan yang berada di ekosistem rawa mencapai 394.910 ha berupa lahan pasang surut(78%)serta rawa lebak dan polder lainnya (22%).
  2. Waktu tanam di lahan pasang surut dimulai setelah jumlah air hujan mencukupi untuk melarutkan kadar besi yang ada di dalam air. Di Provinsi Kalimantan Barat umumnya realisasi tanam terjadi pada Dasarian 28 (Oktober). Di Kalimantan Timur pada Dasarian 31 (November). Sementara di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah umumnya penanaman pada Dasarian 7 (Maret).
  3. Di lahan lebak penanaman dimulai saat genangan air mulai berkurang di kisaran 24 cm sehingga padi tidak lagi terendam.Realisasi tanam di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada Dasarian 16 (Juni), Kalimantan Tengah pada Dasarian 31 (November), dan Kalimantan Barat pada Dasarian 27 (September).
  4. Pada tahun normal dan tahun kering peluang meningkatkan indeks pertanaman di lahan lebak, terutama di lebak dangkal, dari IP 100 menjadi IP 200 terbuka lebar. Tinggi genangan umumnya di kisaran 24 cm sehingga dapat ditanami padi. Saat kemarau tinggi muka air di kisaran 40 cm sehingga akar masih menjangkau air.

B. Telah dilakukan pengumpulan dan entri data sumberdaya pertanian lahan rawa di empat provinsi di Kalimantan dan telah diunggah ke web Balittra.

C. (1) Tinggi-rendahnya curah hujan, kelembaban, dan suhu udara tidak berpengaruh terhadap tingkat serangan hama tikus, penggrek batang, penyakit bercak coklat dan bercak bergaris. Kelembabab berpengaruh  terhadap tingkat serangan blas di Kalbar, dimana tingkat serangan tertinggi antara 80-82% dan 88-90%.
(2) Jumlah curah hujan 50-100 mm meningkatkan serangan tungro di lahan pasang surut Kalsel.  Jumlah curah hujan antara 50-250 mm  meningkatkan serangan hama tikus dengan serangan tertinggi terjadi pada curah hujan 150 mm.  Kelembaban berpengaruh terhadap serangan wereng coklat dengan tingkat serangan tertinggi 86%.Jumlah curah hujan berpengaruh terhadap tingkat serangan blas dengan tingkat serangan tertinggi pada curah hujan 50 (lebak) atau 300 mm (pasang surut).
(3) Di Kalimatan Tengah, tinggi-rendahnya curah hujan tidak berpengaruh terhadap serangan hama tikus, penyakit blas dan bercak coklat.  Jumlah curah hujan berpengaruh terhadap tingkat serangan penggerek batang. Tingkat serangan tertinggi berkisar antara 150-200 mm.

D.  Telah dibuat peta lahan rawa skala 1:50.000 dengan digital soil mapping di Sumatera Selatan, jambi, Lampung, dan Riau.