JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Validasi Decision Support (DSS) Pemupukan Padi Tervalidasi di Lahan Rawa Pasang Surut

Validasi Decision Support (DSS) Pemupukan Padi Tervalidasi di Lahan Rawa Pasang Surut

Penelitian tentang pemupukan untuk tanaman padi di lahan rawa mulai banyak dilakukan sejak tahun 1980 antara lain oleh Proyek SWAMPS dan secara reguler oleh Unit Kerja lingkup Badan Litbang Pertanian, antara lain Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian dengan unit pelaksana teknisnya.  Sebagian besar penelitian sebelumnya masih bersifat  parsial, jarang dihubungkan dengan dinamika hara dalam tanah, dan belum dilaksanakan secara terpadu, sehingga penerapannya belum memberikan hasil yang maksimal. Rekomendasi teknologi pengelolaan hara terpadu yang bersifat spesifik diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi khusunya di lahan rawa lebak. Agar rekomendasi hasil penelitian ini cepat diadopsi oleh pengguna, maka perlu disajikan dalam bentuk software yang sederhana dan mudah dimengerti oleh pengguna yang dikenal sebagai decision support system pemupukan padi lahan rawa pasang surut.

Hasilnya sebuah software DSS telah dihasilkan, dan untuk mendjadikannya sebagai sebuah software yang baik maka program tersebut harus disempurnakan melalui penambahan data pendukung dan pengujian di rumah kaca agar program tersebut menjadi lebih sempurna dan ramah pengguna.

Penelitian bertujuan untuk memperoleh satu software DSS pemupukan padi lahan pasang surut ter update.  Keluaran yang diharapkan satu software DSS pemupukan padi lahan pasang surut ter update.

Percobaan rumah kaca untuk menguji validasi rekomendasi pemupukan ini dilaksanakan terhadap tanah yang berasal dari tipologi luapan B dan C (2 set percobaan), setiap set percobaan terdiri atas 4 lokasi   lahan (kelompok) dengan sifat tanah yang bebeda. Faktor yang diuji adalah dosis pemupukan hasil rekomendasi dari program DSS. Setiap set percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan satu faktor yang terdiri atas enam aras perlakuan yaitu:

 

  1. Paket pemupukan NPK-50 % dari dosis rekomendasi (P1).
  2. Paket pemupukan NPK-75 % dari dosis rekomendasi (P2).
  3. Paket pemupukan NPK-100 % dari dosis rekomendasi (P3).
  4. Paket pemupukan NPK-125 % dari dosis rekomendasi (P4).
  5. Paket pemupukan NPK-150 % dari dosis rekomendasi (P5).
  6. Paket pemupukan padi berdasarkan tingkat hasil panen dari Balai Besar Padi (sebagai kontrol) (P6).

 

Paket pemupukan NPK-100 % dari dosis rekomendasi (P3) adalah dosis pemupukan padi lahan pasang surut yang dihasilkan dari program DSS, dosis rekomendasi tersebut didapatkan dari menginput data nilai pH, kandungan hara N, P dan K tanah hasil analisis di laboratorium ke dalam program tersebut.

Pengamatan terhadap berat gabah kering panen (GKP) dan berat jerami basah (BJB) serta parameter pertumbuhan lainnya akibat perlakuan dosis pupuk NPK berdasarkan DSS ditanah sulfat masam potensial dari tipe B dan C. menunjukkan bahwa dosis pupuk optimum untuk padi varietas inpara 3 yang ditanam di tanah sulfat masam tipe B adalah perlakuan P 4 (331 Kg/ha urea, 201 Kg/ha SP-18  dan 126 Kg/ha KCl serta 7,2 t/ha kapur). Sedangkan tanah sulfat masam tipe C adalah perlakuan P 5 (472 Kg/ha urea, 342 Kg/ha SP-18  dan 106,5 Kg/ha KCl serta 12,3 t/ha kapur). Pada tanah sulfat masam tipe B diketahui bahwa penambahan jumlah pupuk yang diberikan di atas keperluan tanaman (P 4) menyebabkan penurunan hasil padi dan berat jerami yang didapatkan, artinya dosis P 5 adalah dosis”luxury supply”, dimana penambahan unsur hara yang diberikan tidak menyebabkan peningkatan hasil tetapi cenderung menurunkan hasil. Hal ini dapat terjadi jika suply hara yang diberikan melebihi keperluan tanaman dan cenderung dapat bersifat toxic bagi tanaman sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Sedangkan pada tanah sulfat masam tipe C diketahui bahwa perlakuan P 5 menunjukkan hasil yang tertinggi, tetapi dari data tersebut perlakuan ini belum optimum karena boleh jadi masih akan terjadi peningkatan hasil yang diperoleh jika saja dosis pupuk yang diberikan ditambah. Untuk itu sebaiknya perlu dlakukan penambahan perlakuan dosis yang lebih tinggi jika ingin didapatkan dosis perlakuan optimum.  Selain itu, sifat kimia tanah yang dianalisis masih tidak sebaik pada tipe B khususnya untuk kandungan N dan K.

 

Gambar 1. Berat gabah kering panen (GKP) dan berat jerami basah (BJB) akibat perlakuan dosis pupuk NPK berdasarkan DSS ditanah sulfat masam potensial dari tipe B dan C.

Dosis program DSS pemupukan yang diuji dengan mengamati pH tanah selama percobaan menunjukkan bahwa program ini cukup baik untuk mengatasi masalah kemasaman tanah, hal ini dapat dilihat dari peningkatan pH tanah khususnya perlakuan P1-P5 yang mendapat pemberain kapur dibandingkan P6 (Gambar 1).  Kita ketahui bersama bahwa reaksi dalam tanah yang terjadi akibat kegiatan pengapuran mengakibatkan berkurangnya aktifitasnya ion H+. Metode inkubasi yang dijadikan dasar perhitungan dalam pembuatan program DSS ini menunjukkan bahwa kapur yang diberikan mampu menurunkan aktifitasnya ion H+ sebagai sumber kemasaman baik dari oksidasi pirit ataupun hidrolisis Al/Fe.

 

Gambar 2.     Bagan warna daun akibat perlakuan dosis pupuk N,P dan K berdasarkan DSS ditanah sulfat masam potensial dari tipe B dan C.

Nilai pH yang terukur selama pengamatan pada tanah sulfat masam dari tipe B dan C menunjukkan nilai yang tidak berbeda, hal ini diduga disebabkan karena target peningkatan pH yang dijadikan dasar perhitungan kebutuhan kapur dalam program DSS antara tanah sulfat masam dari tipe B dan C juga tidak untuk mencapai nilai yang jauh berbeda, tetapi didasarkan pada keperluan tumbuh tanaman. Selain itu, terjadinya peingkatan pada semua level perlakuan disebabkan oleh adanya proses penggenangan tanah selama percobaan berlangsung. Menurut Dent (1986) penggenangan tanah menyebabkan peningkatan pH pada tanah-tanah yang masam.

 

Gambar 3.  Nilai pH tanah akibat perlakuan dosis pupuk N, P, dan K berdasarkan DSS ditanah sulfat masam dari tipe B dan C

Kandungan N-total tanah sulfat masam dari tipe B dan C hasil dari perlakuan dosis program DSS pemupukan yang diuji selama percobaan menunjukkan bahwa kandungan N-total tanah dari tipei B lebih tinggi dibandingkan dengan  kandungan N-total tanah dari tipe C (Gambar 4), walaupun dosis pupuk urea yang diberikan pada tanah sulfat masam  dari tipe C lebih tinggi. Hal ini menunjukkkan bahwa ketersedian N dalam tanah sangat ditentukan oleh sifat tanah lainnya selain kandungan N itu sendiri. Kandungan N pada tanah sulfat masam dari tipe B yang lebih tinggi dari pada kandungan N total tanah dari tipe C menyebabkan pertumbuhan tanaman dan hasil padi yang didapat dari  tanah sulfat masam dari tipe B lebih baik. Nitrogen adalah unsur hara makro yang dapat menjadi faktor pembatas pertumbuhan tanaman apabila ketersediannya tidak mencukupi kebutuhan tanaman, maka pertumbuhan tanaman terganggu. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan bagan warna daun dalam Gambar 2. Berdasarkan data tersebut dan mengikuti rekomendasi BB Padi diketahui bahwa pada stadia primordia aktif seharusnya diberikan pupuk N sususulan sekitar 50 – 75 kg /ha untuk tanaman padi yang ditanam pada tanah sulfat masam dari tipe C.

 

Gambar 4. Kandungan N-total tanah akibat perlakuan dosis pupuk N, P, dan K berdasarkan DSS ditanah sulfat masam dari tipe B dan C

Kandungan P teresedia tanah sulfat masam dari tipe B dan C hasil dari perlakuan dosis program DSS pemupukan yang diuji selama percobaan menunjukkan kandungan P yang tinggi. Peningkatan ini diduga disebabkan dosis pupuk yang diberikan sudah mencukupi kebutuhan tanaman dan akibat adanya proses penggenangan yang dilakukan selama percobaan sehingga meningkatkan ketersedian P. Adanya perbedaan pola ketersediaan P antara tanah sulfat masam dari tipe B dan C diduga berhubungan dengan sifat asli tanah karena menurut Dobermann dan Fairhurst (2000) status P (Bray 1) pada tanah tipe B termasuk sedang, akibatnya apabila dilakukan pemupukan dapat memberikan respon atau bisa juga tidak respon apabila dilakukan pemupukan, sedangkan pada tipe C berada pada status rendah sehingga menunjukkan adanya respon bila dipupuk.Adanya kenderungan kandungan P yang lebih tinggi pada tanah sulfat masam dari tipe C dibandingkan tanah sulfat masam dari tipe B diduga berhubungan dengan perbedaan kandungan Fe pada kedua jenis tanah.

 

Gambar 5.  Kandugan P tanah akibat perlakuan dosis pupuk N, P, dan K berdasarkan DSS ditanah sulfat masam dari tipe B dan C

Kandungan K dapat dipertukarkan pada tanah sulfat masam dari tipe B dan C hasil dari perlakuan dosis program DSS pemupukan yang diuji selama percobaan menunjukkan kandungan K rendah. Menurut Dobermann dan Fairhurst (2000) kandungan K dapat dikategorikan sedang jika setidaknya berada pada konsentrasi minimal 1,50 mmol kg-1. Peningkatan ini diduga disebabkan adanya pupuk yang diberikan sebagai perlakuan.

 

Gambar 6. Kandungan K tanah akibat perlakuan dosis pupuk N, P, dan K berdasarkan DSS ditanah sulfat masam dari tipe B dan C.

 

Gambar 7. Fe dalam tanah akibat perlakuan dosis pupuk N, P, dan K berdasarkan DSS ditanah sulfat masam dari tipe B dan C.

Konsentrasi Fe dalam tanah sulfat masam dari tipe B dan C selama percobaan menunjukkan konsentrasi yang tinggi, khususnya pada pengamatan minggu ke delapan. Peningkatan yang terjadi pada pengamatan tersebut menunjukkan adanya pengaruh poses penggenangan yang menyebabkan terjadinya reduksi Fe. Menurut Dent (1986 )  penggenangan tanah akan menyebkan terjadinya reduksi Fe3+menjadi Fe2+ .  Gambar 7 menunjukkan kandungan Fe tanah sulfat masam dari tipe B lebih tinggi dibandingkan dengan tanah sulfat masam dari tipe C, hal ini diduga disebabkan tanah pada tipe B lebih banyak mengandung Fe amorf. Menurut Reddy dan DeLaune (2008) bahwa tanah yang sering mengalami fluktuasi basah kering akan mengandung Fe amorf yang lebih banyak daripada kristalin, dan Fe amorf lebih mudah tereduksi daripada Fe kristalin. Pada pengamatan minggu 12,konsentrasi Fe sudah semakin rendah hal ini ditandai pula dengan nilai Eh tanah tipe C yang lebih rendah yaitu pada kisaran 200 mV (Gambar 8).

 

Gambar 8. Nilai potensial redoks tanah selama percbaan berlangsung akibat perlakuan dosis pupuk N, P, dan K berdasarkan DSS ditanah sulfat masam potensial dari tipe B dan C.

Berdasakan hasil percobaan yag dilakukan dapat disimpukan bahwa pemupukan optimum  pada tanah sulfat masam tipei B adalah perlakuan P 4 (331 Kg/ha urea, 201 Kg/ha SP-18  dan 126 Kg/ha KCl serta 7,2 t/ha kapur). Sedangkan tanah sulfat masam tipe C adalah perlakuan P 5 (472 Kg/ha urea, 342 Kg/ha SP-18  dan 106,5 Kg/ha KCl serta 12,3 t/ha kapur).