Senin, 14 Jun 2021

Penelitian Perbaikan Teknologi Budidaya Di Lahan Gambut Dangkal Dan Bergambut Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Cabai Dan Bawang Merah

Tujuan penelitian ini adalah : (1) Menyusun teknologi penataan lahan gambut, ameliorasi dan pemupukan untuk tanaman cabai, (2) Menyusun teknologi penataan lahan bergambut, ameliorasi dan pemupukan untuk tanaman cabai, (3) Menyusun teknologi pengelolaan amelioran dan pupuk pada berbagai jenis tanah gambut, (4) Menyusun teknologi pengelolaan tanah dan pengendalian OPT untuk tanaman bawang merah di lahan bergambut dan (5) Menyusun teknologi pengelolaan tanah dan pemupukan untuk tanaman bawang merah pada musim hujan di lahan gambut.

Lahan yang menjadi lokasi penelitian merupakan lahan yang baru dibuka, sebelumnya adalah lahan yang tidak digunakan, ditumbuhi semak belukar. Setelah dibersihkan dibuat bedengan sesuai dengan perlakuan. Lahan yang menjadi lokasi penelitian subkegiatan dua merupakan lahan bergambut dangkal dengan substratum pasir kuarsa. Berdasarkan karakterisasi di lapangan diketahui bahwa ketebalan lapisan gambut berkisar 30 – 50 cm, tingkat kematangan gambut yang diuji dengan metode peras (skala Von Post) adalah sapris. Batas antar lapisan tanah baur.

Secara visual di lapangan dan berdasarkan uji statistik diketahui bahwa pertumbuhan tanaman cabai pada perlakuan tanpa mulsa plastik lebih baik daripada perlakuan dengan mulsa plastik, khususnya pada bedengan tinggi 20 cm dengan parit 30 cm.

         Hasil  Percobaan di Laboratorium tentang teknologi pengelolaan amelioran pada berbagai jenis tanah gambut, bahwa secara umum perlakuan aplikasi amelioran dengan penjenuhan tanah gambut dengan air meningkatkan pH tanah. Peningkatan pH (delta pH) tanah terkecil terjadi pada tanah mineral bergambut.  Berdasarkan jenis amelioran yang diaplikasikan, diketahui bahwa secara rata-rata peningkatan pH terbesar terjadi pada perlakuan amelioran sisa kotoran ayam (A), diikuti amelioran biochar dan amelioran sisa kotoran sapi.

         Tinggi bedengan dan jenis pestisida berpengaruh terhadap hasil bawang merah di lahan gambut. Hasil bawang merah tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan B2P2 mencapai 7 t/ha berat  umbi basah (panen) atau 6 t/ha berat umbi kering.  Kondisi lahan merupakan lahan gambut bukaan baru dan  kesuburan tanah sangat rendah serta intensitas serangan HPT yang tinggi pada musim hujan menyebabkan hasil yang diperoleh masih jauh dibawah potensi hasil (14 t/ha).

         Fluks CO2 tertinggi pada 3 MST ditunjukkan oleh  perlakuan B1P2, sedangkan pada 6 MST pada perlakuan B2P2. Aplikasi pestisida kimia (P2) meningkatkan emisi CO2. Berdasarkan hasil penelitian emisi CO2 lebih dipengaruhi oleh jenis pestisida dibandingkan oleh tinggi bedengan.  Perlakuan yang mampu menekan emisi CO2 adalah aplikasi P3 (kombinasi pestisida nabati dan kimia).

         Perlakuan rain shelter (naungan) dan pemupukan mempengaruhi hasil umbi bawang merah. Hasil bawang merah tertinggi dijumpai pada perlakuan R1P2 (perlakuan rain shelter + pemupukan NPK 75%+ POC) mampu meningkatkan hasil sampai 25,7% dibandingkan pemupukan 100% NPK tanpa POC (R1P0). Aplikasi POC selain meningkatkan hasil sampai 25%, juga dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK sampai  25-50%.

         Hasil bawang merah tersebut masih dapat ditingkatkan dengan menjaga keseimbangan serapan hara.  Peningkatan serapan N sebaiknya juga dibarengi dengan peningkatan serapan K agar hasil tanaman meningkat. Peningkatan serapan K dapat dilakukan dengan meningkatkan ketersediaan K dalam larutan tanah melalui penambahan pupuk K ke dalam tanah.  Unsur K berperan dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Antisipasi tingginya serangan HPT pada budidaya bawang merah pada musim hujan dapat dilakukan dengan peningkatan pemberian pupuk K, selain juga aplikasi pestisida.

          Pengukuran fluk CO2 dilakukan dengan menggunakan IRGA pada 3 MST dan 6 MST. Pengaruh jenis naungan dan pemupukan berbeda fluks CO2. Pada 3 MST perlakuan tanpa naungan, fluks CO2 lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan naungan (shelter), sedangkan pada 6 MST relative sama.

            Pada 3 MST curah hujan masih rendah, sehingga fungsi naungan  lebih untuk menjaga suhu di dalam naungan agar tidak terlalu tinggi. Penekanan suhu dapat menekan dekomposisi dan emisi CO2 pada tanah gambut.

          Emisi kumulatif tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan  R2PO (6,2 t/ha/tahun) dan terendah pada R1P4 (4,5 t/ha/tahun) yang tidak berbeda dengan R1P2 (4,7 t/ha/tahun). Perlakuan R1P2 mampu menekan emisi CO2 sampai 24% dibandingkan R1P0, sedangkan R1P4 mampu menekan emisi CO2 sampai 27% dibandingkan R1PO.  (Dr.Arifin Fahmi, SP, M.Sc)

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN

Statistik Website

Hari Ini : 890
Kemarin : 899
Minggu Ini : 890
Bulan Ini : 17088
Total : 163318

  • Alamat IP Anda : 3.238.249.157

Sedang Online :

8
Online

Agro
Institusi Litbang