Senin, 14 Jun 2021

Model Pengelolaan Lahan Gambut Terpadu Ramah Lingkungan Untuk Tanaman Cabai Dan Bawang Merah

Kebutuhan areal pertanian dengan pemanfaatan lahan-lahan sisa yang notabene berada di luar Pulau Jawa dan Bali, termasuk lahan gambut merupakan tuntutan ke depan karena lahan subur yang umumnya di Pulau Jawa sudah tidak lagi tersedia. Kondisi ini merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari, namun tekanan terhadap penggunaan lahan gambut  akan semakin kuat, terutama terkait dengan emisi karbon (CO2). Indonesia negera ke empat terbesar di dunia memiliki lahan gambut dengan luas 14,93 juta hektar. Namun yang dimanfaatkan baru sekitar 2,5-3,0 juta hektar. Indonesia masih memerlukan stabilitas produksi untuk tanaman hortikultura seperti bawang merah dan cabai yang merupakan komoditas strategis. Kedudukan riset/penelitian dan pengembangan pertanian, khususnya hortikultura di lahan gambut berbasis sains dan teknologi inovatif memegang peranan penting. Dukungan teknologi budidaya dan sistem pengelolaan lahan (air, tanah, iklim) terintegrasi berbasis sains dan teknologi secara optimal diperlukan untuk memajukan pemanfaatan dan pengelolaan lahan gambut yang lebih baik. Tahun anggaran 2019, dilakukan penelitian model pengelolaan lahan gambut terpadu ramah lingkungan untuk tanaman cabai dan bawang merah di laksanakan di tanah gambut diharapkan menjadi kawasan hortikultura. Penelitian bertujuan memverifikasi model pengelolaan lahan gambut terpadu untuk tanaman cabai dan bawang merah yang ramah lingkungan hasil dari penelitian tahun sebelumnya (2017 dan 2018). Penelitian dilaksanakan dalam bentuk implementasi atas hasil atau rekomendasi dari hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut diharapkan menghasilkan output dalam bentuk model pengelolaan lahan gambut terpadu untuk tanaman cabai dan bawang merah yang ramah lingkungan. Tujuan penelitian jangka panjang adalah menyusun paket teknologi terpadu ramah lingkungan dalam peningkatan produktivitas lahan gambut untuk produksi tanaman cabai dan bawang merah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pengelolaan lahan gambut untuk tanaman cabai terpilih adalah paket teknologi BH yaitu  teknologi sistem penataan lahan (tinggi bedengan 20 cm dari tanah dasar, dalam parit 30 cm dari tanah dasar, lebar paritt 60 cm dan lebar bedengan 120 cm) dan aplikasi amelioran (325 kg/ha urea, 200 kg/ha SP 36 dan 225 kg/ha KCL serta 30 t/ha pupuk kandang). dapat dikembangkan dalam skala luas karena nilai MBCR >2. Potensi keuntungan yang didapat oleh paket teknologi BH Rp. 249.269.372.  Model pengelolaan lahan gambut untuk tanaman bawang merah terpilih berupa tinggi bedengan 30 cm, ameliorasi 10 t/ha  pukan  +  5 t/ha kapur, pemupukan Urea ; 300 kg/ha, SP 150kg/ha, KCl 200 kg/ha, yaitu mampu meningkatkan hasil sampai 90% dibandingkan cara petani dan mempunyai nilai MBCR 6,45 sehingga mampu dikembangkan secara luas. Potensi keuntungan yang didapat oleh paket teknologi P4 sebesar Rp 54.124.000 dengan emisi CO2 paling rendah yaitu 1,64 t/ha/th atau  mampu menurunkan emisi sekitar 40% dibandingkan cara petani (2,80 t/ha/th). (Dr. Arifin Fahmi, SP, MSc)

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN

Statistik Website

Hari Ini : 818
Kemarin : 899
Minggu Ini : 818
Bulan Ini : 17016
Total : 163246

  • Alamat IP Anda : 3.238.249.157

Sedang Online :

19
Online

Agro
Institusi Litbang