Jumat, 29 Oktober 2021

Tanam Cabai Merah di Lahan Rawa Lebak Prospektif dan Menguntungkan

Cabai salah satu komoditas tanaman hortikultura yang termasuk dalam kelompok jenis tanaman sayur-sayuran. Bahasa ilmiah cabai adalah Capsicum annuum L, tanaman ini berasal dari Benua Amerika. Berdasarkan karakter buahnya yang namanya spesies Capsicum Annuum L digolongkan dalam empat tipe, yaitu cabai besar, cabai keriting, cabai rawit (hijau), dan paprika. Tanaman cabai merupakan kelompok tanaman perdu dengan rasa buahnya pedas disebabkan oleh kandungan capsaicin, dan cabai banyak digunakan untuk bumbu masakan yang biasanya diburu dan menjadi masalah bagi ibu rumah tangga.  

Tanaman cabai dibudidayakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik didataran rendah dan didataran tinggi sampai ketinggian 1.400 meter diatas permukaan laut (DPL). Salah satu lahan untuk pengembangan tanaman cabai adalah di lahan rawa (Nurita 2006). Secara umum buah cabai mengandung: energi 31 kcal, protein 1,0 gram, lemak 0,3 gram, karbohidrat 7,3 gram, kalsium 29 gram, fosfor 24 gram, zat besi 0,5 gram, vitamin A 470 mg, vitamin B1 0,05 mg, vitamin C 18 mg dan air 90,9 gram (https://www.goegle.com/ search? q=kandungan+cabai, diunduh 22 Juli 2021)

Lahan rawa lebak adalah salah satu tipologi lahan rawa yang sepanjang tahun memiliki masa kering, dan pada saat lahan kering dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman semusim jenis tanaman palawija seperti jagung dan tanaman sayur-sayuran. Salah satu jenis tanaman sayuran yang dibudidayakan adalah cabai, baik cabai merah maupun cabai rawit.

Pertanaman cabai merah dimusim kemarau sudah menjadi kebiasaan petani di kawasan lahan rawa lebak seperti di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan, yaitu pada bulan Juni-Juli s/d September merupakan periode kering selama 3 bulan berlangsung setiap tahunnya. Hasil analisis ekonomi Peneliti Ahli Utama Balittra, yakni: Ir. Yanti Rina, MP, bahwa bercocok tanam cabai sangat menguntungkan. Pada usahatani cabai merah, dalam satu periode pertanaman diperlukan biaya produksi sebesar Rp. 8.140.000,- per hektar, dan total penerimaan total penerimaan Rp. 30 juta, sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp. 21.860.000,- per hektar, demikian menurut Ibu Ir. Yanti Rina, MP dan dikuatkan pernyataan dari DR. Heru Sutikno, MS (Nurita, 2006).

 

Manfaat Cabai

Cabai  merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi (Gambar 1). Cabai juga merupakan salah satu komoditas sayuran penyumbang inflasi disebabkan karena harganya yang sering meloncat tinggi. Cabai Merah penyebab utama Inflasi Tahun 2019-2020 karena mahalnya harga cabai, apalagi pada bulan puasa menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Hari Natal. Meskipun demikian cabai selalu diburu oleh para ibu-ibu  tangga karena cabai merupakan jenis sayuran yang dapat menambah rasa enaknya hidangan makanan. Selain itu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa ada 9 menfaat cabai bagi kesehatan manusia, antara lain: (1) dapat menyembuhkan luka, (2) mengatur kadar gula darah, (3) dapat meredakan hidung tersumbat, (4) mengatasi masalah kesehatan kulit, (5) memberikan nutrisi untuk kesehatan tulang dan gigi, (6) menurunkan risiko peradangan pada tulang (cabai hijau), (7) dapat mengatasi/meredakan panas tinggi,  (8)  mencegah penyakit jantung, dan (9) meredakan sakit kepala (Hasbi 2017).

 

Gambar 1. Cabai merah besar (kiri) dan cabai keriting (kanan)-(Sumber: Google)

 

Teknik Budidaya Cabai

Teknik budidaya cabai meliputi: penyiapan benih, penyiapan lahan, penggunaan varietas unggul, pengapuran, pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, serta panen dan pasca panen. Lahan setelah dibersihkan dari gulma, kemudian dibuat bedengan dengan lebar 1,0-1,2 meter dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan atau keperluan. Bibit yang sudah disiapkan ditanam pada bedengan dengan jarak tanam 60 cm x 70 cm. Pemberian kapur bersama-sama pupuk kandang pada lubang yang sudah disiapkan untuk memperbaiki kualitas tanah, dengan takaran kapur 1 ton/ha dan 2,5 ton/ha pupuk kandang, diberikan 1 minggu sebelum tanam.

Tanaman cabai memerlukan nutrisi atau unusr hara N, P dan K yang cukup supaya tumbuh sehat dan memberikan hasil yang tinggi. Untuk itu, dilakukan pemupukan yakni: takaran pupuk masing-masing 150 kg/ha Urea, 250 kg/ha SP-36 dan 200 kg/ha KCL. Pemberian pupuk SP-36 diberikan sekaligus pada saat tanam. Sedangkan Urea dan KCL diberikan pada saat tanam dan sebagai pupuk susulan pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam, sekaligus dilakukan pembumbunan, kemudian diberi ajir/turus/lanjaran untuk menopang supaya tanaman tumbuh tegak dan tidak rebah (Gambar  2).

Pembumbunan sangat perlu, bertujuan untuk menggemburkan tanah yang disekitar tanaman sehingga dapat membantu perkembangan akar dan meningkatkan kemampuan tanaman cabai untuk menyerap unsur hara N, P dan K yang diberikan untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Pemasangan ajir/turus/lanjaran pada tanaman cabai diperlukan, bertujuan untuk menyanggah atau menopang tanaman cabai dari terpaan angin sehingga tanaman cabai tetap berdiri tegak dan tidak roboh.

 

Gambar 2. Penyiapan lahan (kiri) dan keragaan tanaman cabai (kanan) di lahan rawa lebak Sumber Gambar : Balittra

 

Masalah yang dihadapi

Salah satu kendala utama dalam sistem produksi cabai di Indonesia adalah adanya serangan lalat buah pada buah cabai, disebabkan oleh Bactrocera carambolae. Hama ini sering menyebabkan gagal panen. Buah cabai yang terserang tampak sehat dan utuh dari luar akan tetapi apabila dilihat di dalamnya membusuk dan mengandung larva lalat. Upaya pengendalian serangan lalat buah adalah dengan cara pembrongsongan (dihanguskan), namun cara ini kurang praktis terutama apabila pada pertanaman yang luas, sedangkan pengendalian lalat buah dengan penggunaan insektisida selain bisa mencemari lingkungan juga sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen (https://id.wikipedia.org/wiki/Cabai).

Permasalahan lain pada budidya di lahan rawa lebak adalah masalah sosial ekonomi yakni apabila terjadi panen cabai yang berlimpah disebabkan banyak petani yang bercocok tanam cabai dan waktu panennya bersama-sama. Pelaksanaan panen ditunda apabila cabai sudah masak (merah) adalah hal yang tidak mungkin, karena cabai akan busuk dipohonnya dan rontok jatuh ke tanah dan akan merugikan. Di kawasan lahan rawa lebak kondisi seperti ini sering terjadi, dan saat panen cabai berlimpah menyebabkan jatuhnya harga cabai di pasaran sehingga dapat menyebabkan kerugian bagi petani.

Salah satu cara untuk mengatasi kondisi seperti ini adalah biasanya petani tetap memanen cabainya dipanen, kemudian cabai setelah dipanen dikeringkan dengan cara menjemur hingga cabai kering (Gambar 3). Cara ini merupakan salah satu proses pasca panen apabila terjadi panen cabai merah berlimpah dan berlangsung secara bersama-sama dengan petani lainnya dan pertanaman cabainya cukup luas. Cabai merah yang dikeringkan memiliki daya simpan yang lebih lama sebelum dijual ke pasar, cara ini sangat membantu petani untuk menghindari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang lumayan.

 

Gambar 3. Cabai merah yang sudah dikeringkan-kiri (Sumber Goegle), bumbu masakan habang-kanan (Dokumentasi: Pribadi)

 

Salah satu jenis masakan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Banjar, bahkan ditempat-tempat lainnya adalah jenis masakan “habang” (merah). Biasanya cabai kering dijadikan bumbu masak yang dikenal dengan masakan habang (Bahasa Banjar/Daerah), untuk pasangan misalnya: nasi kuning dan lontong yang dimakan sebagai makanan untuk serapan pagi. Masakan habang dengan bahan baku cabai merah yang sudah dikeringkan banyak disajikan pada acara hajatan. Rasa masakan habang enak, gurih dan rasa pedasnya cabai merah masih terasa dan menambah selera makan.

Beberapa orang petani yang ditemui dan diwawancari terkait dengan budidaya cabai merah, mereka mengatakan bahwa mengembangkan tanaman cabai merah di lahan rawa lebak sangat baik, prospektif dan menguntungkan terutama apabila waktunya tepat. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya kami (petani) di kawaan ini dan berlangsung setiap tahunnya ketika lahan sudah kering. Petani biasanya menanam cabai merah di atas galangan/surjan dan/atau pada hamparan lahan dengan teknik budidaya yang sudah dijelaskan di atas.

 (Khairiyanti, A.Md dan Ir. R. Smith Simatupang, MP-Balittra)

 

Referensi

Wikipedia. 2021. Cabai.  https://id.wikipedia.org/wiki/Cabai. Published Juli 2021

Hasbi. H, B. Lakitan dan  S. Herlinda.  2017.  Persepsi Petani terhadap Budidaya Cabai Sistem Pertanian Terapung di Desa Pelabuhan Dalam, Ogan Ilir.  Jurnal Lahan Suboptimal: Journal of Suboptimal Lands.  Vol. 6, No.2: 126-133 Oktober 2017   http://www. jlsuboptimal.unsri.ac.id >download PDF

Nurita. 2006. Cabai di Lahan Rawa Lebak Menjanjikan Keuntungan Jutaan Rupiah. Published 21 Juni 2006https://www.litbang.pertanian.go.id > artikel > pdf

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN
Agro
Institusi Litbang