JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pertanian Lahan Gambut
Potensi dan Kendala

Muhammad Noor
2001

PRAKATA


Indonesia adalah negara keempat yang mempunyai lahan gambut terluas di dunia, tetapi pemanfaatan dan pengembangannya masih sangat terbatas. Di kawasan Asia, termasuk Indonesia, lahan gambut lebih banyak dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian. Di balik potensinya yang masih cukup besar, lahan gambut termasuk lahan piasan (marginal) dan mudah mengalami degradasi.


Pembukaan persawahan rawa pasang surut dan lebak secara besar-besaran pada periode Pembangunan Jangka Panjapg — PJP I (1969 — 1991) memberikan pengalaman yang cukup dalam pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian. Berkenaan dengan lahan gambut ini pemerintah, berdasarkan Keppres No. 82/1995, telah menyusun Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah yang mengundang banyak tanggapan. Sebagian orang menyangsikan keberhasilan proyek ini, namun tidak sedikit yang mendukung tentunya dengan beberapa catatan. Walaupun pada akhirnya sejak tahun 1997/1998 proyek yang kontroversial ini dinyatakan untuk ditangguhkan setelah dilakukan kaji ulang.


Terlepas dan pro dan kontra tentang Proyek PLc di atas, buku ini merupakan kumpulan informasi dan berbagai pengalaman dan penelitian tentang lahan gambut dan pemanfaatannya untuk pertanian. Pada umumnya, informasi tentang lahan gambut mi disampaikan pada seminar-seminar, simposium, lokakarya, jurnal, atau buletin penelitian yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu. Penulis mencoba menyusun informasi yang dimaksud di atas secara utuh dalam buku ini untuk memudahkan dalam memahami dan mempelajari tentang lahan gambut dan pemanfaatannya untuk pertanian lebih jauh.


Kesuksesan usaha tani di lahan gambut, selain ditentukan oleh kondisi sumber daya lahan dan pengelolaan lingkungannya terlebih setelah direklamasi, sangat tergantung pada mutu sumber daya manusia pengelolanya (petani). Pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan menuntut keterampilan, kerajinan, keuletan, kewaspadaan, dan kebersamaan. Sebagian petani transmigran di lahan gambut terpaksa meninggalkan lahannya karena banyak permasalahan yang dihadapinya, baik dan segi teknis maupun segi sosial ekonomi. Lahan lahan yang kemudian mengalami degradasi baik akibat kebakaran maupun kesalahan pengelolaan dan tidak lagi memberikan hasil yang memadai lantas dibiarkan menjadi lahan terlantar. Tetapi tidak sedikit petani yang ulet dan rajin telah berhasil mengembangkan lahan gambut menjadi lahan pertanian yang produktif.


Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah khasanah pustaka tentang pertanian di lahan piasan yang dirasakan masih terbatas. Buku ini juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar bagi pengguna seperti penyuluh, peneliti, praktisi, dan civitas akademika pertanian dalam memahami lahan gambut. Buku mi mengemukakan tentang potensi dan kendala lahan gambut untuk pertanian. Secara khusus, buku ini membahas tentang penyebaran, pembentukan, sifat dan ciri lahan, kesesuaian lahan, rekiamasi dan pengelolaan air, dan budi daya pertanian, terutama tanaman pangan dan tanaman perkebunan di lahan gambut. Dalam buku ini juga dibahas tentang nilai dan fungsi lingkungan lahan gambut, degradasi lahan, dan konservasi lahan gambut.


Dalam kesempatan mi, penulis mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Jr. KPH. Tejoyuwono Notohadikusumo yang banyak memberikan saran-saran untuk kesempurnaan isi buku ini serta kesediaannya memberikan Pengantar buku ini.

Penulis menyadari bahwa isi buku mi tentu masih banyak kekurangannya. Untuk itu, penulis sangat menerima dengan senang hati segala kritik dan saran demi kesempurnaan isi buku ini.

Penulis
Muhammad Noor

 

Buku : Pertanian Lahan Gambut, Potensi dan Kendala, 2001