JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Monograf
ISBN : 979/82253/61/1
2006

Jeruk Siam di Lahan Rawa Pasang Surut
Pengelolaan dan Pengembanngannya

Penyunting :
Muhammad Noor
Koesrini
Dakhyar Nazemi

 

RINGKASAN EKSEKUTIF



Dalam lima tahun terakhir ini perkembangan tanaman jeruk Siam (Citrus suhuensis) di lahan rawa pasang surut meningkat pesat. Pasar jeruk Siam dalam negeri sendiri cukup baik dan populer di petani karena produksinya paling tinggi di antara jenis jeruk yang lain, disukai konsumen, serta nilai ekonominya cukup baik.

Budidaya jeruk di lahan rawa pasang surut sudah lama dikenal masyarakat setempat, khususnya di Kalimantan Selatan sejak ratusan tahun silam. Budidaya jeruk di lahan rawa pasang surut dapat dengan sistem tukungan (gundukan) atau Surjan (sistem baluran). Secara bertahap petani membuat tukungan di lahan sawahnya. Sistem tukungan mi dianjurkan hanya untuk lahan rawa dengan jenis tanah mineral atau bergambut, tetapi juga mulai merambat ke lahan gambut dengan berbagai ketebalan dan dangkal sampai sedang.

Bentuk tukungan umumnya persegi empat dengan tinggi 60-75 cm dan lebar sisi antara 2-3 meter. Jarak tanam antar tanaman dalam bans 4-6 meter. Jarak antar bans 10-14 meter tergantung luas lahan dan kemampuan operasional traktor dalam pengolahan tanah untuk tanaman padinya. Apabila pilihan penataan lahan dengan sistem surjan maka diperlukan saluran pengatusan di salah satu sisi dengan lebar 1,0 meter dan dalam 0,6 meter agar mudah pengaliran air keluar dan juga dlengkapi dengan pintu air sistem tabat (dam overflow). Saluran ini juga dapat dimanfaatkan sebagai perangkap ikan alam.

Umur ekonomis jeruk di lahan pasang surut sangat tergantung pada kondisi lahan dan perawatan tanaman. Apabila perawatan tanaman dan pengelolaan lahan cukup baik, maka umur ekonomis tanaman dapat mencapai 50 tahun. Umur produktif jeruk di lahan rawa umumnya antara 25-30 tahun, tetapi apabila pengelolaan kurang baik maka setelah 5-7 tahun terjadi penurunan produksi.

Kualitas buah jeruk yang dihasilkan sangat beragam karena dipengaruhi oleh kualitas bibit, cara budidaya dan sifat-sifat kesuburan tanahnya. Kualitas batang bawah dan bibit okulasi akan sangat berpengaruh pada kualitas buah, paling tidak sampai tanaman berumur empat tahun. Perbaikan kulitas buah jeruk dapat dilakukan dengan perbaikan sifat-sifat tanahnya, antara lain Ca dan Mg tanah yang cukup berkorelasi dengan kualitas buah. Permintaan terhadap komoditas ini sangat terkait dengan kualitas yang dihasilkan. Oleh karena itu, maka perlu diketahui sejauh mana hubungan antara perbaikan sifat-sifat tanah terhadap kualitas buah yang dihasilkan.

Buah jeruk siam dan lahan rawa pasang surut mempunyai kualitas yang baik dengan rasa manis yang khas, tetapi tidak semua pertanaman menghasilkan kualitas buah yang baik. Hasil buah dan lahan pasang surut tipe A mempunyai rasa lebih manis dibandingkan dengan tipe B atau C. Kualitas buah jeruk pada lahan tipe A mempunyai kadar gula (13,4%) Iebih tinggi dan tipe C (9,34%). kadar gula buah jeruk ternyata berkorelasi positif dengan kadar Ca dan Mg tanah dengan nilai R = 50,4 %. Kandungan Al pada tanah berkorelas positif dengan kadar asam dan vitamin C buah jeruk. Kandungan SO4 pada tanah berkorelasi negatif dengan kadar gula buah jeruk dan berkorelasi positif dengan kadar asam buah jeruk.

Perbaikan kualitas jeruk dengan penjarangan buah belum dilakukan petani, karena pedagang membeli jeruk dalam ukuran campuran. Sortasi dan grading dilakukan oleh pedagang.

Pola tanam yang berlaku, padi + jeruk, padi + jeruk + sayuran, padi + jeruk + pisang dan jeruk monokultur. Akupasi areal padi-jeruk di tingkat petani cukup beragam. Dengan pola sistem penjualan dan pengelolaan dengan sistem surjan padi + jeruk/sayuran, padi + jeruk + pisang dan padi + jeruk layak untuk dikembangkan karena nilai B/C > 1. NPV positif dan IRR > dan tingkat bunga yang berlaku. Masalah utama dalam sistem usahatani jeruk adalah modal.


Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan tingkat bunga 40% dicapai nilai IRR 38,65 % untuk Desa Karang lndah, IRR 32,83% untuk Desa Sungai Kambat dengan nilai, IRR 34,67% untuk Desa Sungai Tandipah dan nilal IRR 35,97% untuk Simpang Arja, sementara dengan tingkat bunga 50% diperoleh nilai IRR 47% di Desa Gudang Hirang.

Usahatani jeruk di Desa Sungai Kambat dan Simpang Arja dengan pola padi + jeruk di Desa Gudang Hirang dan Sungai Tandipah dengan pola padi + jeruk + pisang, dapat dinyatakan layak karena nilai B/C >1, nilai NPV positif, pay back periode adalah 5 tahun lebih kecil dan 25 tahun dengan nilai IRR masingm asing di Desa Sungai Kambat 32,83 %, Gudang Hirang 47%, Sungai Tandipah 34,67% dan Simpang Arja 35,97 %.

Sistem pemasaran jeruk telah tersedia meskipun belum efisien. Bagian yang diterima petani dan harga yang dibayarkan konsumen (farmers share) kecuali pada pasar lokal (saluran 5) masih di bawah 50% yang berarti sistem pemasaran belum efisien. Analisis margin menunjukkan bahwa keuntungan pedagang 1(60,66% - 85,70%) lebih besar dan biaya pemasaran, kecuali untuk pasar lokal yang biayanya (55.56%) lebih besar dan keuntungannya. Kecuali untuk pasar lokal, semua saluran pemasaran (ke luar provinsi) menunjukkan keterpaduan pasar dalam jangka pendek. Pasar kota menunjukkan tingkat keterpaduan yang lebih teritegrasi.

Struktur pasar jeruk adalah oligopoly, karena hanya beberapa pedagang yang berperan dalam pemasaran jeruk, terutama di tingkat pedagang besar (antar provinsi). Oleh sebab itu pengembangan pasar jeruk harus dilakukan dengan melibatkan pedagang jeruk, terutama pedagang antar provinsi. Pengembangan pasar mutlak harus dilakukan untuk mengantisipasi kelebihan pasokan akibat luas panen yang berlipat dua. Pengembangan pasar dapat dilakukan dengan: (1) perbaikan sistem dan efisiensi pemasaran, dan (2) perbaikan mutu produk jeruk), meliputi: (a) penggunaan bibit yang baik, (b) penjarangan buah, (c) perbaikan teknik budidaya dan unsur hara, serta (d) penanganan (handling) buah dan packing.

Program penelitian tanaman jeruk yang dilaksanakan Balal Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada saat ni dan akan datang di lahan rawa pasang surut diarahkan pada upaya (1) menghasilkan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi dengan cita rasa yang disukal konsumen serta adaptif pada kondisi lahan rawa pasang surut, (2) penyediaan teknologi budidaya dan produksi benih sumber yang bermutu, (3) sistem usaha tani yang efisien dan pengelolaan kebun jeruk sehat, (4) perbaikan kualitas buah jeruk,dan (5) pengembangan model agribisnis spesifik wilayah.